HETANEWS

Terungkap Pembunuhan Berencana Hakim Jamaluddin, Ini Kata Kapolda Sumut Soal Sosok Pelaku

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto saat memberikan keterangan terkait kasus kematian Hakim PN Medan Jamaluddin di Budaya Resto, Sabtu (14/12/2019) TRIBUN MEDAN/SOFYAN AKBAR

Medan, hetanews.com - Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto akan melakukan scientific investigation atau teknik ilmiah investigasi dalam mengungkap kasus tewasnya Hakim PN Medan Jamaluddin.Ia mengatakan kasus kematian Jamaluddin merupakan perkara yang direncanakan.

"Itu kita katakan menurut hasil dari analisa keterangan saksi dan alat bukti yang ada dan juga analisa terhadap korban, baik yang dari forensik atau tidak," katanya seraya menyatakan ini pembunuhan berencana. Pembunuhan berencana itu, katanya memang agak perlu membutuhkan waktu untuk melakukan pengungkapannya.

"Mohon kesabaran pihak-pihak media bahwa kita tetap konsen terhadap kasus ini," ujarnya.Ia mengaku dalam mengungkap kasus ini pihaknya tidak bisa sembarangan dalam menetapkan siapa tersangkanya."Maka dari itu tadi, kita akan menggunakan scientific investigation dan harus pelan-pelan,"katanya.

Karena, sambung Agus, ini sangat rapi, sangat halus kejadiannya sehingga susah meyakini bahwa ini kejadian pembunuhan berencana. "Sehingga kita butuh waktu untuk menetapkan siapa pelakunya," ujarnya.Pria dengan bintang dua di pundaknya ini mengaku penyidik punya keyakinan dan penyidik juga punya perkiraan.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Medan Jamaluddin menjelaskan terkait empat tahun berkas banding belum juga dikirim. (TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK)
Humas Pengadilan Negeri (PN) Medan Jamaluddin menjelaskan terkait empat tahun berkas banding belum juga dikirim. (TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK)

"Tapi itu kan tidak boleh diungkapkan," katanya.Maka dari itu, sambungnya, pihaknya akan melakukan pendalaman terhadap keyakinan penyidik dan mudah-mudahan nanti bisa segera ditentukan pelakunya.

Dalam beberapa kasus, penyelikikan terkait pembunuhan berencana ini ada yang cepat, namun juga ada yang bunuh waktu lama. "Dan biasanya itu karena kejadian yang spontan, pelakunya jelas dan keterangan saksinya ada.

Nah ini kan kita tidak bisa menduga-duga karena ini menyangkut praduga tidak bersalah," terangnya.Mengenai apa ada masalah dan di mana letak kendalanya, Agus membeberkan sampai saat ini pihaknya belum menemukan bukti yang menunjuk pelakunya siapa.

"Kita masih analisa terhadap keterangan keterangan saksi yang ada.Jadi, keterangan saksi, alat bukti kemudian hasil labfor, hasil pemeriksaan forensik terus kita kaji ulang," katanya.

Nantinya, pihaknya akan mengetahui kepastian apakah korban meninggal di mana, apakah meninggal sebelum berangkat dari rumah atau meninggal dalam perjalanan."Ini bisa kita lihat dari keterangan saksi dan alat bukti yang ada,"ujarnya.

Sekali lagi, Agus menyatakan belum bisa mengungkapkan kasus ini karena belum ada titik terangnya saja."Kalau sulit, yah katanya kalau bisa mengungkapkan perkara-perkara yang sulit itu katanya pinter.

Kita akan terus dalami dan dan kita terus evaluasi supaya kecurigaan penyidik ini atau suatu motif yang kemungkinan menjadi faktor penyebab dibunuhnya korban ini ya bisa kita buktikan. Intinya mohon waktulah," katanya.

Jamaluddin, Maemunah dan Zuraida Hanum (Tribun Medan)
Jamaluddin, Maemunah dan Zuraida Hanum (Tribun Medan)

Wanita Misterius Didatangi Hakim Jamaluddin Didampingi 5 Pria Malam Sebelum Tewas

Sebelumnya wanita bernama Maimunah (nama samaran) akhirnya buka suara terkait kedatangan hakim Jamaluddin ke rumahnya pada Kamis (28/12/2019) malam sekitar pukul 21.35 WIB.

Adapun hakim Jamaluddin ditemukan tewas di areal kebun sawit warga di Dausun II Namo Rindang, Desa Suka Rame, Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang, Sumatera Utara, Jumat (29/11/2019). Maimunah menjelaskan bahwa rumahnya didatangi hakim Jamaluddin pada malam sebelum kematiannya.

"Dia ke rumah saya, manggil-manggil saya tiga kali, itu pukul 21.35 WIB lah itu ketepatan waktu acara Suratan Tangan di ANTV acara Uya Kuya itu," jelasnya. Maimunah yang merasa tak punya kepentingan dengan hakim Jamaluddin, tidak membukakan pintu, meskipun hingga tiga kali dipanggil oleh Jamaluddin.

Menurut Maimunah, saat itu hakim Jamaluddin tidak sendirian.Ia bersama tiga orang pria berbadan tegap keluar dari mobil."Dia manggil tiga kali, ”Maimunah” katanya dengan logat Acehnya. Pemanggilan pertama saya pergi ke ruang tamu mengintip. Rupanya bapak itu, tapi di situ dia sudah ada kawannya, waktu itu ada bertiga," cetusnya.

"Dia kan manggil 3 kali, panggilan ke-2 saya udah dekat ruang tamu. Sampai panggilan ke-3 saya enggak keluar, di rumah aja. Saya berpikir saya tidak ada kepentingan sama bapak ini. Janji saya Jumat mau ke kantor pengadilan.

Di malam Jumat itu perasaan saya sudah enggak enak," tambah Maimunah.Ia pun menerangkan bahwa ada yang mendorong hakim Jamaluddin dari mobil hingga ke pintu rumah Maimunah.

"Ada 3 oranglah mendorong dia untuk masuk. Sama sopir satu orang, kemungkinan mereka ada 4 atau 5 orang sama Pak Jamal. Karena itu terlihat di mana pintu ujung sama kiri itu bunyi gedor (ditutup)," tuturnya.

Disinggung adakah tekanan wajah Jamaluddin saat itu, Maimunah mengaku tidak bisa memastikan. Sebab, ia tidak melihat secara jelas raut wajah hakim Jamluddin.

"Saya tidak berpikir ke situ, karena saya pikir tidak ada urusan. Ya saya datar-datar saja," ungkapnya.Saat itu, Maimunah mengaku sempat mendengar hakim Jamaluddin meminta dirinya untuk ikut dengan rombongan tersebut.

"Gini dibilangnya 'bisa ikut bentar ada yang mau dikonfrontir atau ditanyakan', hati saya sudah enggak enak hari itu,” ujarnya. Lebih lanjut, Maimunah menjelaskan setelah 15 menit di depan rumahnya, akhirnya rombongan hakim Jamaluddin pulang.

"Jadi pergilah orang itu kira-kira 15 menit, saya merasa enggak ada kepentingan ngapain jumpai. Lagian tengah malam ada apa, saya bertanya-tanya ada apa," tuturnya.

Baru ternyata pada keesokan harinya, Jumat (29/11/2019), Maimunah terkejut mendengar kabar Hakim Jamaluddin ditemukan tewas di Dusun II Namo Rindang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang.

"Besoknya saya dapat info dari kawan di WhatsApp hampir jam 7 malam, Pak Jamal meninggal. Saya terkejut, bergetar badan saya, ada apa?" jelasnya.Maimunah lantas bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang kedatangan hakim Jamaluddin, pada malam sebelum kematiannya.

"Saya merasa jantungan, kenapa tengah malam itu dia datang ke rumah saya. Dia  (Jamaluddin) kan bisa berteriak kalau memang ada sesuatu malam itu."

"Saya berpikir pada saat itu datar-datar aja. Saya tidak ada berpikir ke situ (dibunuh). Jumatnya kejadian jadi buat saya berpikir ada apa dengan saya, ada apa dengan dia (Jamaluddin), kenapa saya didatangin," tuturnya.Ia kemudian memberikan keterangan kepada kepolisian pada 1 Desember 2019.

"Apa yang terjadi tersebut, Senin tanggal 1 saya sudah menghadap (polisi), saya merasa tidak nyaman," cetusnya.Sebagai orang yang memiliki pendidikan hukum, Maimunah memperkiraan bahwa kehadiran hakim Jamaluddin saat itu adalah untuk mempertanyakan hubungan dirinya dengan Hakim Jamaluddin.Bahkan ia menduga apabila malam itu membukakan pintu, maka nasibnya akan sama dengan hakim Jamaluddin.

"Sepertinya di malam itu ada yang mau minta dikonfrontir antara saya dan Pak Jamal.""Padahal saya tidak punya hubungan apa-apa, berarti kalau malam itu mereka menjemput saya dan buka pintu, kemungkinan keselamatan saya terancam," terangnya.

Zuraida Hanum saat mendampingi suaminya, Hakim Jamaluddin saat masih hidup (Istimewa/Facebook)
Zuraida Hanum saat mendampingi suaminya, Hakim Jamaluddin saat masih hidup (Istimewa/Facebook)

Ia memperkirakan bahwa ada oknum yang tidak bertanggungjawab membuat seolah-olah ada hubungan antara dirinya dengan hakim Jamaluddin."Jadi sebenarnya saya itu enggak terlalu penting kali sama bapak (Jamaluddin) tapi seolah-olah dibuat penting.""Ada orang lain yang mengompori keadaan ini. Kalau saya berurusan sama bapak itu, saya ada nomor HP-nya," jelasnya.

Saat kejadian itu, Maimunah mengaku sedang bersama ibu dan adiknya di rumah.Sedangkan sang adik, sedang keluar rumah bersama anak-anaknya.Selain itu, Maimumah menyebutkan, sebelum kejadian tersebut, sudah ada orang-orang yang melakukan pengintaian di sekitar rumahnya.

"Karena belakangan ini sering orang lewat di depan rumah naik mobil Honda Jazz dan Toyota Camry, habis itu kayak ditungguin. Kalau saya mau pergi kerja pagi itu ada di depan rumah pakai mobil Honda Jazz, saya udah berangkat kerja, baru pergi. Lalu sejak 2 minggu sebelum kematian (Jamaluddin) mobil itu pantau-pantau saya. Saya cuma lihat (tulisan) Toyota aja yang di depan, warna hitam," jelasnya.

Bahkan, Maimunah menjelaskan bahwa belakang rumahnya sering dilemparin benda padat, hingga akhirnya ia merasa terancam keselamatannya. Bahkan setelah memberikan kesaksian tersebut.

"Makanya saya takut juga karena merasa terancam juga, kalau dia enggak datang ke rumah saya, saya tidak berpikir sampai situ. Rumah saya dilempar dari belakang, dari Senin kemarin, sampai lah saya berikan kesaksian. Bahkan dua hari yang lalu yang ikut sama bapak (Jamaluddin) malam itu, lewat depan rumah saya naik kereta Revo, orangnya tinggi besar," ungkapnya.

Terakhir, Maimunah berharap bisa mendapatkan perlindungan hukum baik dari kepolisian maupun Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).Ia merasa mendapat intimidasi terkait kasus kematian hakim Jamaluddin.

Baca juga: Polda Sumut Sebut Belum Terima Laporan dari Maimunah, Wanita yang Didatangi Hakim Jamaluddin

Sumber: tribunnews.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.