HETANEWS

Arkeolog Temukan Senjata Kuno yang Mungkin Dipakai Anak-anak

Senjata atlatl yang ditemukan di situs penggalian Par-Tee. Foto: Robert Losey dan Emily Hull (Antiquity Publications Ltd)

Jakarta, hetanews.com - Berbeda zaman, berbeda pula kebiasaan dan budaya yang dilakukan manusia, kelompok, atau suku. Jika anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gadget dan belajar di sekolah formal, anak zaman kuno yang tinggal di daratan Amerika justru berlatih berburu dan bertarung menggunakan senjata kuno sejenis proyektil yang terbuat dari tulang binatang.

Senjata kuno itu kini telah ditemukan oleh para arkeolog dan hasil penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Antiquity pada 10 Desember 2019. Dalam jurnal tersebut dijelaskan, sekitar kurang lebih 1.000 tahun lalu, penduduk asli Amerika hidup di pantai Oregon utara dekat muara Sungai Colombia.

Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Chinookan dan Salish. Mengingat tempat tinggalnya berdekatan dengan pantai, maka makanan sehari-harinya adalah hewan-hewan laut. Sisa-sisa tulang hewan kemudian dijadikan alat multifungsi, salah satunya senjata.

Lokasi penemuan atlatl.
Lokasi penemuan atlatl: A. Sungai Hoko, B. Sungai Skagit, C. Par-Tee Foto: Croes; Taylor & Caldwell; E. Hull (Antiquity Publications Ltd)

Ribuan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1960 hingga 1970-an, para arkeolog menggali area tersebut yang kini dikenal sebagai situs Par-Tee. Selama penggalian berlangsung para peneliti menemukan tumpukan kerang laut dan berbagai endapan lain yang disebut midden.

Selain itu, mereka juga menemukan kuburan, perapian, dan 7.000 peralatan purba. Sayangnya, sebagian besar artefak-artefak itu dibiarkan begitu saja, tanpa ada penelitian lebih lanjut. Dan baru-baru ini sekelompok peneliti akhirnya memeriksa 90 artefak berupa fragmen dari senjata kuno yang disebut 'atlatl'.

Jauh sebelum busur dan panah diciptakan, atlatl telah lahir sebagai senjata yang bisa meluncurkan proyektil dengan kecepatan tinggi. Dibuat dari tulang ikan paus, atlatl memiliki pegangan di kedua sisi yang digunakan untuk mengaitkan tali layaknya panah. Senjata ini menjadi kunci kelangsungan hidup penduduk asli Amerika kala itu.

“Tidak mudah menggunakan senjata ini secara efektif. Butuh keterampilan yang memadai untuk menguasainya,” tulis para peneliti, dikutip dari Live Science. "Pengguna atlatl yang mahir mungkin akan memiliki keberhasilan yang lebih besar dalam berburu daripada mereka yang kurang terampil menggunakan atlatl. Ini berpengaruh pada pendapatan makanan, dan kedudukan sosial di dalam kelompoknya.”

Ukuran cengkeraman atlatl juga sangat bervariasi. Yang terbesar memiliki ukuran sekitar 166 persen lebih besar dari yang terkecil. Peneliti menyimpulkan, senjata-senjata atlatl kecil mungkin digunakan anak-anak untuk berlatih, sedangkan yang lebih besar digunakan orang-orang dewasa untuk berburu.

com-Ilustrasi anak muda
com-Ilustrasi anak muda Foto: Shutterstock

“Pada dasarnya, mereka membuat atlatl berukuran kecil agar lebih mudah digunakan oleh anak-anak,” ujar Robert Losey, seorang profesor antropologi di Alberta University. “Dengan cara ini anak-anak diajari cara menggunakan dan menguasai senjata.”

Dibandingkan dengan situs-situs lain di Pantai Barat Amerika Utara, Par-Tee menyimpan lebih banyak peninggalan arkeologis, termasuk senjata atlatl. Tidak diketahui kenapa hal itu bisa terjadi, namun peneliti menduga senjata atlatl lain dibuat dari kayu yang menyebabkan mereka tidak bertahan lama.

Sumber: kumparan.com 

Editor: suci.