HETANEWS

Kisah Chris McCandless, Petualang Muda yang Cerita Hidupnya Diadaptasi ke Film Into the Wild

Chris McCandless in front of his 'Magic Bus' in 1992. (Photo: Wikimedia Commons)

Hetanews.com - Pernah nggak kamu ngerasa lelah dan jenuh sama kehidupan sehari-hari? Saking jenuhnya, kamu sampai ingin pergi jauh dari rumah dan memulai perjalanan ke tempat baru? Destinasinya bebas, kamu bisa mengikuti arah angin berhembus atau arah terbenamnya matahari.

Ke mana pun tujuannya, yang penting kamu bisa pergi jauh untuk berpetualang dan memulai hidup baru.Tapi kamu juga harus ingat, berpetualang itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Kamu perlu persiapan matang dan mental yang kuat.

Kamu juga harus bisa mengatur jumlah perbekalan makanan, biar nggak kelaparan selama di perjalanan atau saat di tempat tujuan. Sekalinya kamu meremehkan itu semua, akibatnya bisa fatal

.Kamu bisa lihat buktinya dari pengalaman hidup Chris McCandless, pria asal El Segundo, California, Amerika Serikat. Kalau kamu pernah baca buku atau nonton film Into the Wild, kamu pasti tahu orang yang saya bicarakan ini.

Chris McCandles di semasa sekolahnya /via destinationsmagazine.com
Chris McCandles di semasa sekolahnya /via destinationsmagazine.com

Chris McCandles lahir dari keluarga yang normal kebanyakan. Ayahnya bekerja sebagai pegawai NASA dan ibunya berprofesi sebagai sekretaris di perusahaan suku cadang pesawat, Hughes Aircraft. Di sekolahnya, Chris merupakan siswa yang cukup cemerlang dengan nilai akademik yang memuaskan.

Hanya saja, teman-teman sekolahnya merasa Chris punya sudut pandang yang unik tentang kehidupan. 

Dari kesaksian teman-temannya, pernah ada satu waktu saat Chris menjadi kapten di klub ekstrakurikuler olahraga lari di sekolahnya. Ketika itu dia memberikan semangat kepada timnya untuk “Berlari seakan lari merupakan tindakan spiritual yang akan menyelamatkan manusia dari pengaruh jahat dan kegelapan di muka bumi.”

Selepas masa kuliahnya di tahun 1990, Chris menyumbangkan seluruh tabungannya ke OXFAM sebelum dia memulai kehidupan ala petualang. OXFAM sendiri adalah organisasi yang punya misi untuk memutus rantai kelaparan di dunia.

Tak lama kemudian, dia pun melakukan perjalanan pertamanya ke Meksiko dengan menaiki kano melewati Sungai Colorado untuk sampai ke tujuannya.

Namun sepertinya Chris belum merasa puas dengan perjalanan tersebut. Akhirnya di tahun 1992 –setelah melakukan beberapa perjalanan di Arizona dan Dakota — dia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Alaska.

via newyorker.com
via newyorker.com

Saat memulai perjalanannya untuk mencapai Alaska dari Dakota, Chris diberi tumpangan oleh  tukang listrik setempat yang bernama Jim Gallien. Chris mengaku pada Jim kalau dia ingin berkeliling di sekitar Taman Nasional Denali dan mencoba hidup di lingkungan alam sekitarnya.

Awalnya, Jim merasa khawatir akan rencana Chris. Jim merasa persiapan perbekalan Chris tak akan cukup untuk membuatnya bertahan di lingkungan yang akan Chris tuju. Jim tahu betul alam liar di Alaska tak seindah seperti yang terlihat di foto-foto. Beberapa perbekalan Chris yang Jim ingat antara lain: sekantung beras, pistol .22 (yang Jim anggap tak akan cocok untuk dipakai berburu hewan), dan sepasang sepatu bot yang telah usang.

Merasa jumlah perbekalan milik Chris terasa sangat minim, Jim akhirnya memberikan beberapa makanan, sepatu bot baru, dan nomor telepon miliknya. Setelah itu, mereka pun berpisah.

Chris melanjutkan perjalanannya sampai ke Stampede Trail, tempat di mana dia akan tinggal untuk menjalani kehidupannya di alam liar sebelum mencoba untuk melakukan perjalanan yang lebih jauh.

Di tengah perjalanannya, Chris menemukan sebuah bus usang yang dia anggap masih layak untuk ditinggali. Dan akhirnya Chris pun memutuskan untuk tinggal di dalam bus yang memiliki cat biru dan tulisan 142 di atasnya itu.

Sumber: selipan.com

Editor: tom.