HETANEWS

FDT 2019 Dinilai Gagal Total, Tak Menarik dan Sepi Pengunjung

Foto: Renz Pakpahan

Parapat, hetanews.com - Festival Danau Toba [FDT] 2019 didinilai tak menarik bagi  wisatawan. FDT digelar di pinggir Danau Toba, tepatnya di Parapat, Kabupaten Simalungun pada 9-12 Desember 2019, mengusung tema “Inspiring Danau Toba”

Danau Toba merupakan target super prioriratas pemerintah pusat untuk mengembangkan sektor pariwiasata kelas dunia. Alhasil, kegiatan rutin setahun sekali ini sepi pengunjung.

Warga seputaran Danau Toba mengungkapkan penilaian mereka terhadap FDT Ke-7 yang dinilai jauh dari harapan untuk menggaet wisatawan lokal dan internasional.

Festival Danau Toba Gagal Total tidak berdampak kepada masyrakat Parapat-Ajibata dan sekitarnya. Percuma anggaran 1,4 M lebih baik di alokasikan pelatihan pertanian atau Pokdarwis sekaligus pembelian peralatanya. Nampak kali hanya menghabiskan anggaran Pemprov di akhhir tahun  yang notabenya itu adalah uang rakyat. Sendainya GAAPS  (Gabungan Alumni Ajibata Parapat- Sekitarnya) yang pengang event ini sudah mantap kita buat yah bro Ecko Millenix Muse..Pengusaha Hotel mana Pengusaha Hotel? benar gak full  Kamar malam ini?” kata akun Facebook Renz Pakpahan.

Kemudian, ada juga yang menilai sepinya pengunjung dalam FDT 2019 yang dibuka pada 9 Desember itu karena iklan promosinya yang hanya menampilkan foto Gubsu Edy Rahmayadi dan Wagubsu Musa Rajekshah dengan tulisan dibawahnya Festival Danau Toba 2019.

"Di Parapat Kabupaten Simalungun.
Mengapa sepi pengunjung?
Jawabannya singkat kata Inang Malvinas Bagariang karena melihat iklan promosi ini ibarat kampanye lagi Gubernur Sumatera Utara,publik tidak mengetahui materi apa yang di festivalkan untuk ditonton.Imajo naeng pajojor liturgi malam on Guru Spiritual ,sambil manghatai Kas ni Huria na mago i sekalian,mauliate,” tulis Rismon Raja Mangatur Sirait dalam akun Facebooknya.

Nama besar Danau Toba tidak diimbangi dengan keseriusan dan kematangan upaya menjadikannya dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan baik lokal, nasional hingga mancanegara.

Meskipun diklaim jumlah yang hadir saat acara berlangsung mencapai ribuan orang, namun itu terdiri dari peserta yang mengisi acara, seperti anak sekolah dan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Tidak begitu dengan pengunjung atau penonton yang diharapkan datang menyaksikan gelaran festival tersebut, hampir dikatakan begitu jauh dari ekspektasi nama besar FDT dan Danau Toba yang mendunia.

Sebagaimana acara yang lebih terlihat seremoial itu, berbagai komentar pun bermunculan. Seperti HM Nezar Djoeli, Presidium de Empatbelas yang menyebutkan bahwa FDT menyisakan nilai yang kurang baik.

“Sejatinya acara besar seperti ini menjadi ajang berkumpulnya masyarakat di Sumut dalam sebuah pesta besar yang bernama Festival Danau Toba. Harusnya persiapannya matang sejak awal, sehingga tidak hanya sdihadiri sebagian besar pelajar dan ASN saja,” kata Presidium Perkumpulan Masyarakat Demokrasi 14 HM Nezar Djoeli, Selasa (10/12/2019).

Sejak awal lanjut Nezar, dirinya melihat ada ketidaksiapan Pemprovsu dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut menjadikan acara tahunan yang ke-7 itu jadi spektakuler.

Indikatornya yakni lelang cepat, kurangnya sosialisasi dan promosi hingga kurangnya pelibatan banyak pihak, khususnya masyarakat serta pelaku wisata.

“Saya jadi bertanya, apakah Disbudpar Sumut paham akan pentingnya promosi Danau Toba lewat FDT ini? Atau kegiatan ini hanya sekedar melepaskan tanggung jawab kedinasan saja, sekedar menghabiskan anggaran APBD,” sebutnya.

Dirinya juga mengaku mendapatkan informasi bagaimana kondisi hari pertama pelaksanaan FDT di Parapat. Pertama soal amburadulnya pelaksanaan festival tahunan itu, karena kurangnya sosialisasi dan promosi seperti spanduk.

Bahkan kata Nezar, dirinya menerima kabar pada ajang Lomba 10K, menjelang dimulainya perlombaan, baru spanduk dipasang.

Bahkan katanya, tidak ada yang disiapkan saat lomba tersebut berlangsung.

“Lantas selain rekor MURI yang digaungkan di FDT itu, apalagi? Saya rasa tidak ada. Dan ini tidak dalam rangka menjelekkan nama Danau Toba. Karena namanya sudah terkenal, dan harusnya Disbudpar itu tahu diri, jangan asal buat acara yang tak bermakna seperti ini. Justru kalau tidak dikritik, kita yang tak peduli dengan Danau Toba,” sebut Nezar.

Selain itu, Nezar juga melihat bahwa FDT yang seolah gaungnya besar itu, hanya ramai saat kehadiran Gubernur Sumut Edy Rahmayadi saja. Sebab setelah selesai, lokasi pembukaan acara tersebut pun sepi.

“Kita akui memang ramai, anak sekolah dan ASN. Kalau ada yang nonton, warga setempat, bisa dihitung. Setelah Gubernur pulang, acara pun sepi. Jadi, saya menilai, Disbudpar yang bertanggung jawab pada kegiatan ini, telah merusak nama baik Pemprov Sumut sebagaimana visi misi Gubernur menjadikan Sumut Bermartabat. Harus ada evaluasi serius untuk ini,” jelasnya.

Baca juga: Festival Danau Toba, Lomba Solu Bolon Hanya Diikuti 9 Tim Perahu

Sumber: sumutcyber.com

Editor: edo.