HETANEWS.COM

Kantor PN Simalungun Didemo, Warga Sihaporas Tidak Terima Dua Rekannya jadi Terdakwa

Pendemo saat melihat jalannya proses persidangan dan sebahagian berada di luar kantor pengadilan dan foto kedua terdakwa saat ikuti jalannya sidang. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com – Warga Sihaporas tampak memakai selendang ulos batak dan membawa poster saat berunjuk rasa, di kantor Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Senin (9/12/2019).

Sebelumnya, massa sudah mendatangi Kejari Simalungun yang letaknya berhadapan dengan kantor PN Simalungun, di Jalan Asahan Km 4 Simalungun.           

Para pendemo, terdiri dari elemen masyarakat adat Ompu Mamontang Laut Sihaporas, masyarakat adat Ompu Umbak Siallagan Dolok Parmonangan, PMKRI, GMNI Saling, GMKI, AMAN Tano Batak, Satma PP Kota Siantar dan Simalungun.

Dalam statemennya, dituliskan, "Hentikan Kriminalisasi terhadap masyarakat Adat". 

Aksi itu dilakukan sekaitan dengan diadilinya kedua terdakwa, Jonny Ambarita dan Thomson Ambarita, dalam kasus pengeroyokan terhadap  Bahara Sibuea, selaku humas Toba Pulp Lestari (TPL).

Pengunjukrasa juga mengkritisi kinerja  penyidik Polres Simalungun yang begitu  cepat memproses pengaduan Bahara Sibuea dkk, yang mengaku korban pengeroyokan, hingga menyeret Jonny Ambarita dan Thomson Ambarita, sebagai terdakwa di PN Simalungun. 

Massa menudin polisi pilih kasih dalam penegakan hukum.

Sebab menurut mereka, berbanding terbalik dengan lambannya penanganan Laporan Polisi No. STPL/84/IX/2019 tanggal 18 September 2019 yang dilaporkan oleh Thomson Ambarita, sebagai korban dan Bahara Sibuea, sebagai pelaku penganiayaan.

Massa mendesak PN Simalungun agar membebaskan Jonny Ambarita (44)  dan Thomson Ambarita (41) dari dalam tahanan. 

Kemudian mendesak Polres Simalungun  untuk segera menangkap humas PT TPL, Bahara Sibuea  atas dugaan penganiayaan, terhadap Thomson Ambarita,  pada 16 September 2019, lalu, di Buntu Pangaturan, Desa Sihaporas, sekitar pukul 11.30 WIB, berdasarkan Laporan Polisi No. STPL/84/IX/2019 tanggal18 September 2019.               

Siang itu, massa tampak dengan tertib memantau jalannya persidangan atas dua rekan mereka itu,Jonny Ambarita dan Thomson Ambarita, dengan agenda pembacaan eksepsi (keberatan) atas dakwaan jaksa, Firmansyah SH.               

Eksepsi yang dibacakan oleh Ronald Sapriansyah menyatakan, dakwaan harus batal demi hukum karena tidak memenuhi yaray (sarat,red) formil dan disusun secara tidak cermat oleh jaksa. Meminta hakim membebaskan terdakwa dari tahanan.

Ketua majelis hakim, Roziyanti, Aries Ginting dan Justiar Ronald SH, menunda persidangan hingga Senin mendatang untuk memberikan kesempatan kepada jaksa, menanggapi eksepsi tersebut.

Usai persidangan, para pendemo meninggalkan kantor pengadilan dengan tertib.

Penulis: ay. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan