HETANEWS.COM

Digelar Sederhana, Pemutaran Perdana Film Puang Sorma Pukau Warga

Foto bersama disela - sela pemutaran perdana Film Puang Sorma.

Siantar, hetanews.com - Suasana di depan Jorat/Pasaranggahan Raja Siantar, pada Sabtu malam (7/12/2019), tampak berbeda dengan malam-malam biasanya.

Malam itu, hampir seribuan warga memadati lokasi Kelurahan Pamatang Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan itu. Para warga Pamatang dan warga dari luar Kota Siantar, antusias menyaksikan pemutaran perdana Film Puang Sorma.

Bahkan, warga dengan rela menunggu film itu diputar ketika anak-anak Sangar Budaya Rayantara, masih menampilkan sejumlah tortor Simalungun, sebagai pembuka acara.

Tidak ada taratak, tidak ada tikar yang luas. Namun warga dengan tertib duduk beralaskan tikar yang mereka bawa sendiri ke lokasi acara.

Jauh dari kesan mewah, pemutaran Film Puang Sorma itu, digelar benar-benar sederhara karena dilakukan dengan swadaya atau gotong royong oleh anak-anak sanggar yang dipimpin Sultan Saragih dan Oppung Raminah Garingging itu.

“Mohon maaf buat seluruh warga yang hadir. Kami tidak bisa menyediakan tempat yang baik untuk menonton film ini. Ini semua gotong royong, mulai dari pengadaan infokus dan slide, semua gotong royong. Itupun terimakasih, karena diluar dugaan kami, warga sangat ramai datang,” ucap Sultan Saragih saat memandu pembukaan acara.

Selanjutnya, Sultan memperkenalkan para pemain-pemain yang terlibat dalam pembuatan Film Puang Sorma. Dan disela-sela memperkenalkan para pemain, Sultan kembali meminta maaf, apabila wajah para pemain tidak jelas terlihat karena minimnya pencahayaaan.

“Kalau wajah para pemain tidak begitu jelas terlihat dari belakang. Mohon maaf, kita kekurangan pencahayaan,” aku Sultan.

Setelah memperkenalkan para pemain, pemutaran Film Puang Sorma pun dilakukan, melalui bantuan slide sederhana. Meskipun begitu, tampak antusias warga menyaksikan film tersebut.

Film Puang Sorma, menceritakan Lagenda Panakboru Aggaranim Boru Damanik sebagai pesan kesadaran menjaga lingkungan kebersihan dan kejernihan air, yang mana banyak sekarang mata air yang kondisinya buruk, bahkan tidak terawatt, sehingga banyak sampah dan jorok.

Puang Sorma, salah seorang perempuan putri raja menjadi ular tepatnya berada di permandian mata air, sehingga keluarga mencari dan mencari hingga perempuan tersebut muncul sudah menjadi ular di dalam mata air.

Sultan Saragih menuturkan, adapun dibuatnya film itu untuk melawan lupa, bahwa di Kota Siantar, tepatnya di Pamatang terdapat mata air yang bersih.

Selain itu, pembuatan film juga sebagai energi baru bagi generasi muda untuk mengetahui cerita rakyat Simalungun, dan edukasi bagi masyarakat untuk menghormati alam menjadi bagian tak terpisahkan dari diri masyarakat.

Antusias warga saat pemutaran perdana Film Puang Sorma.

Sultan Saragih mengaku, sebagai pegiat seni budaya akan terus berupaya mencari celah agar taradisi  dan budaya Simalungun sampai generasi milinial. Dimana film ini merupakan media efektif untuk menyampaikan pesan sesuai bahasa kaum muda.

Dengan adanya pemutaran film tersebut, terlihat bahwa kedatangan warga sangat banyak baik dari Kota Siantar bahkan dari luar Kota Siantar, jadi dengan adnya filim ini kiranya bisa menjadi pacuan dan mencintai lingkungan.

Adapun pemain Film Puang Sorma, Puang Sorma Anggarainim Damanik diperankan Debora Damanik, Raja Siattar diperankan Willy Girsang, Puang Bolon Adelin boru Napitupulu.

Dayang-dayang Meta Malau, Irma Sinaga, Jesica Purba, Kerina Purba, Graciella Saragih, Tessa Sianipar, Cindy Purba, Kharisma Sipayung, Veronika. Guru Bolon diperankan Roresky Sianipar.

Andrew Silalahi, penata musik dan sound efect dengan pemeran tambahan, Damar Laut Purba, sebagai utusan Kerajaan Purba Pakpak, masih garis keturunan Raja Attian Purba Pakpak.

Dodo Pandapotan, salah seorang warga yang menonton film itu, mengatakan Film Puang Sorma mengingatkan generasi muda supaya aktif  melestarikan budaya dan lingkungan.

Doktrin Pemahaman Nilai-nilai Budaya

Sementara di sesi diskusi yang juga dipandu Sultan Saragih, menanyakan kepada pemantik diskusi, yakni Hermanto Sipayung dari jurnalis dan Abram Cristopher Sinaga dari pegiat Kajian Tata Kota,  terkait pesan-pesan tersirat dalam film tersebut.

Hermanto Sipayung, memaparkan, sejak awal film sudah menunjukkan nilai-nilai Budaya Simalungun yang patut untuk terus dipertahankan oleh generasi muda.

Menurut Hermanto, menjaga kelestarian lingkungan, juga merupakan suatu budaya yang harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.

Hermanto mengungkapkan, pengenalan budaya melalui visual seperti film sangat mempermudah memperkenalkan nilai-nilai budaya bagi generasi di zaman yang semakin canggih.

Bahkan, sudah sepatutnya penyampaikan nilai-nilai budaya juga dilakukan dengan pembuatan film animasi, supaya anak-anak lebih mudah didoktrin untuk memahami budaya.

“Pembuatan film ini sangat bagus. Kalau saya sebutkan sudah luar biasa. Ini merupakan bahagian cara mendokrin generasi muda untuk lebih cepat memahami nilai-nilai budaya. Dan kepada generasi muda, silahkan ikuti zamanmu tapi jangan tinggalkan budayamu. Tetaplah menunjukkan jati diri budaya masing-masing,”  pungkas Penanggungjawab/Pemimpin Redaksi Media Online SimadaNews.com itu.

Selain itu, Mentor Gerakan Kebajikan Pancasila (GKP) itu mengungkapkan, pembuatan Film Puang Sorma, juga salah satu cara mengingatkan  masyarakat Siantar akan sejarah, bahwa Pamatang Simalungun, merupakan Pusat Kerajaan Siantar yang memiliki mata air yang bersih. Begitu juga dengan, situs-situs sejarah yang memiliki nilai-nilai tinggi yang harus dipertahankan dan dilestarikan.

“Jadi tidak bisa dipungkiri, dari alur film tadi membuktikan Pamatang Simalungun adalah Pusat Kerajaan yang layak dijadikan sebagai lokasi situs cagar budaya, dan kita harapkan pemerintah kedepannya menetapkan Pamatang sebagai lokasi cagar budaya di Kota Siantar,” pungkas mantan Pemimpin Redaksi Harian Metro Siantar itu.

Hal senada dikatakan Abram Cristopher Sinaga. Dia mengaku, dengan menyaksikan Film Puang Sorma, dapat menumbuhkan rasa generasi muda mencintai lingkungan dan mencintai sejarah Kota Siantar. Terbukti,  banyaknya yang datang menonton filim tersebut.

“Melihat antusias warga, itu juga menunjukan kerinduan akan mengetahui sejarah dan budaya. Begitu juga kerinduan akan adanya lokasi yang tepat untuk menyaksikan film seperti bioskop atau lokasi teater,” ucap Abrham.

Penulis: tim. Editor: gun.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!