HETANEWS

Ini yang Terjadi di Kutub Utara Jika Suhu Naik 2 Derajat Celcius

Ilustrasi Kutub Utara

Kutub utara, hetanews.com - Kutub Utara sedang memanas. Kenaikan suhu di sana terjadi sangat cepat, melesat naik menuju 2 derajat Celcius, lebih cepat dari planet manapun.

Dampak kenaikan suhu bisa berakibat fatal bagi beruang kutub dan spesies lain yang hidup di sana. Mencairnya Kutub Utara juga mengancam eksistensi umat manusia, sebab akan berimplikasi pada naiknya permukaan air laut hingga cuaca ekstrem di kawasan garis khatulistiwa.

“Kita memang belum memasuki kondisi Arktik yang baru, tapi kita sedang berada di ambang pintu,” ujar Eric Post, seorang profesor ekologi perubahan Iklim di University of California, saat menanggapi kenaikan suhu yang terjadi begitu cepat di Kutub Utara.

Diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada Rabu (4/12), 15 peneliti dari berbagai disiplin ilmu--mulai dari ilmu sosial hingga politik-- menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi apabila suhu udara di Bumi naik secara global. Termasuk meningkatnya metana, yakni emisi yang disebabkan pencairan lapisan es.

“Banyak perubahan drastis selama dekade terakhir, sehingga membuat kamu bertanya-tanya, apa yang akan terjadi pada dekade berikutnya dari pemanasan global,” ungkap Post, dalam pernyataannya sebagaimana dikutip dari Newsweek.

Arktik di Kutub Utara.
Arktik Kutub Utara.

Pemanasan suhu di Bumi telah terjadi sejak abad ke-19. Secara global suhu udara di Bumi naik 0,8 derajat Celcius. Terlebih Arktik mengalami pemanasan dua kali lipat, sekitar 2-3 derajat Celcius dalam rentang waktu yang sama. Sementara dalam satu dekade terakhir, Kutub Utara telah menghangat 0,75 derajat Celcius.

Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring memanasnya suhu udara di Bumi. Ini berarti, suhu di Kutub Utara kemungkinan akan naik 4 derajat Celcius, lebih hangat dari kenaikan suhu global yang hanya mencapai 2 derajat Celcius. Sementara di belahan Bumi sebelah selatan di Antartika, kenaikan suhu diperkirakan mencapai 2 hingga 3 derajat Celcius.

Lalu, apa dampaknya pada lingkungan? Jangan disepelekan, karena pencairan di Kutub Utara bisa menimbulkan cuaca ekstrem di negara-negara yang berdekatan dengan garis khatulistiwa, termasuk Indonesia.

Kehilangan es dan pencairan gletser juga akan berkontribusi pada kenaikan permukaan air laut yang diperkirakan bisa mencapai 3 meter, di mana skenario terburuknya bisa membuat kota-kota seperti Amsterdam, St. Petersburg, dan Los Angeles berada di bawah air alias terendam.

Dampak juga akan dirasakan oleh hewan-hewan yang hidup di Kutub Utara dan Antartika. Seperti yang terjadi sekarang, di mana jumlah Rusa Kutub diketahui telah mengalami penurunan sebagai akibat dari ekspansi semak belukar yang berkaitan dengan penyusutan lapisan es di Belahan Utara.

beruang kutub liar terlihat di kota industri Norilsk, Rusia
Seekor beruang kutub liar terlihat di kota industri Norilsk, Rusia. 

Penghuni lain benua es adalah spesies penguin yang bermigrasi ke tempat yang sebelumnya tidak pernah dikunjungi hanya untuk berkembang biak. Dan beruang kutub banyak yang kelaparan karena habitatnya terus mencair. Situasi ini diprediksi akan memburuk dalam beberapa dekade mendatang. Diprediksi akan datang suatu masa di mana musim panas membuat Kutub Utara terbebas dari es.

“Ketika es laut berkurang, beruang kutub dipaksa ke daratan untuk waktu yang lebih lama,” ujar Steven Amstrup, kepala ilmuwan di Polar Bears International.

“Di Teluk Hudson bagian barat, mereka sekarang berada di darat selama hampir sebulan penuh, lebih lama dari 30 tahun yang lalu. Ada batas berapa lama mereka bisa berpuasa (tidak makan). Karena itu, semakin sedikit es laut, maka semakin sedikit pula beruang kutub yang hidup.”

Peneliti menyebut, sangat penting untuk melakukan penyelamatan Bumi sejak dini, dengan memperlambat atau mengurangi pemanasan global.

“Mengingat implikasi dari pemanasan ini, sangat penting bagi kita untuk memahami, mempersiapkan, hingga mampu mengatasi perubahan iklim, lingkungan, ekologi, dan sosial yang akan terjadi ketika pemanasan suhu udara terus terjadi,” tulis para peneliti dalam laporannya.

“Salah satu dari penanganan itu bisa dilakukan dengan cara mengurangi gas rumah kaca, karena bagaimanapun, tidak ada yang bisa menghentikannya,” kata Amstrup.

Sumber: kumparan.com 

Editor: suci.