HETANEWS.COM

LWF Kampanye Keadilan Iklim di Pematangsiantar

Kampanye keadilan iklim, Rabu (4/11/2019), lalu, di Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. (foto/fani)

Siantar, hetanews.com - “Kampanye keadilan iklim di Pematangsiantar dilakukan bersama-sama dengan diselenggarakannya Conference of Parties (COP) ke 25, tentang perubahan iklim di Madrid, Spanyol,” ungkap Fernando Sihotang sebagai salah satu inisiator kegiatan kampanye keadilan iklim, Rabu (4/11/2019), lalu, di Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar.

COP merupakan salah satu konferensi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (UNCCC, atau United Nations Climate Change Conferences) untuk menghimpun negara-negara yang telah menjadi negara pihak yang telah meratifikasi UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change atau Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim).

COP bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan keputusan-keputusan dunia terkait rencana-rencana aksi masing-masing negara untuk perubahan iklim.

Hal ini dilakukan untuk mencegah terhadinya krisis lingkungan di seluruh dunia.

Lutheran World Federation (LWF), merupakan lembaga Gereja-gereja Lutheran di dunia berbasis di Jenewa, Swiss, terlibat aktif dengan mengutus delegasinya pada konferensi ini.

LWF juga berperan penting sebagai inisiator dilakukannya konsolidasi lintas iman dalam membangun negosiasi iklim di tingkatan global.

Dalam rangka mendukung gerakan global untuk mencegah krisis perubahan iklim, LWF bekerjasama dengan gereja-gereja Lutheran di Indonesia (melalui Komite Nasional LWF Indonesia) dan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar melakukan kampanye bertajuk “menghadirkan keadilan iklim di Pematangsiantar”.

Kegiatan ini diorganisir oleh Fernando Sihotang dan Tumpak Hutabarat (@siparjalang) dengan melibatkan komunitas-komunitas kreatif lintas generasi di Pematangsiantar.

Kegiatan mencakup seminar nasional dan pameran lukisan bertemakan lingkungan dan perubahan iklim yang disajikan oleh para pelukis muda di Pematangsiantar. Selain mendukung gerakan global untuk iklim, kegiatan ini bertujuan membangun ruang aksi kolaboratif bagi warga kota Siantar untuk memitigasi kerusakan lingkungan yang melibatkan seluruh elemen seperti pemerintah lokal, warga kota, komunitas-komunitas agama, dan institusi pendidikan.

Yang hadir menyampaikan refleksi di seminar ini, yaitu Pdt. Rumanja Purba (Ephorus GKPS dan Ketua KNLWF Indonesia); Desri Sumbayak (Vice President LWF); dan Prof. Dr. Sanggam Siahaan (Rektor UHKBPN Pematangsiantar).

Pdt. Rumanja menyampaikan, bahwa tanggungjawab iklim adalah tanggungjawab semua agama. Gerakan melestarikan bumi harus dimulai dengan refleksi spiritualitas yang diimani oleh masing-masing individu.

Desri Sumbayak memberikan gambaran global keterlibatan LWF bersama-sama dengan institusi-institusi agama dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dalam membangun platform bersama mencegah terjadinya krisis iklim.

Sementara, Rektor UHN Pematangsiantar, Sanggam Siahaan beranggapan, bahwa institusi pendidikan tinggi harus berperan penting dalam membangun gagasan-gagasan ilmiah yang bisa dijadikan sebagai referensi oleh pengambil keputusan di pemerintahan.

Selain ketiga reflector, ada 3 narasumber diundang untuk mendialogkan tajuk bersama-sama dengan 1.200 peserta yang antusias mengikuti seminar.

Mereka adalah Siparjalang (tokoh pemuda Pematangsiantar); Apni Naibaho (petani organik); dan Dedi Tunasto (Kadis Lingkungan Hidup Pematangsiantar).

Siparjalang menyuguhkan beberapa pengalaman melakukan perjalanan iklim di beberapa pulau di Indonesia dan hampir 30 negara di dunia.

Ia juga mengajak peserta dan pemerintah untuk melihat potensi lokal yang dimiliki oleh Siantar yang bisa dikembangkan menjadi potensi ekonomi berbasis wisata. Potensi tersebut, menurut beliau, tidak terlihat karena tingkat kerusakan lingkungan yang luar biasa.

Siparjalang menjabarkan, bahwa ada sekitar 15 % (37.500 jiwa) warga Siantar yang tidak dapat mengakses sanitasi yang layak, termasuk jamban (BPS, 2017). Hal ini membuktikan bahwa lingkungan yang sehat belum dapat diakses oleh semua orang di kota yang dulunya dikenal sebagai kota asri.

Ketidakadilan ini (iklim) justru menaikkan index kemiskinan di sebuah kota yang tidak dikelola secara bertanggungjawab.

Apni Naibaho menceritakan perjalanannya menjadi seorang petani organik dalam usianya yang masih sangat muda.

Ia menganggap profesi petani sebagai sebuah status, namun sebagai pilihan (passion) berbuat sesuatu untuk keberlanjutan bumi.

Pada sesi terakhir, Dedi Tunasto meyakinkan peserta seminar, bahwa Pemerintah Kota terus melakukan inovasi dan menerima masukan dari masyarakat terkait upaya-upaya pelestarian lingkungan.

Menutup perjumpaan dialog hari ini, Fernando menguatkan opini tentang keadilan iklim yang dalam perjalanannya adalah gagasan reflektif dunia tentang pembangunan ekonomi dan keberlanjutan.

Dua kata kunci yang selalu digaungkan oleh komunitas internasional, yaitu bagaimana pembangunan ekonomi dapat berjalan selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh dijadikan sebagai alat keuntungan segelintir, namun pada sisi lainmenjadi monster iklim bagi banyak orang.

Iklim dan lingkungan yang sehat harus dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi semakin banyak orang mengkonsolidasikan gerakan untuk keadilan iklim bagi semua ciptaan.

Penulis: tim. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!