HETANEWS

Kisah Tewasnya Bocah Pompeii oleh Letusan Hebat Gunung Vesuvius

Penemuan kerangka anak kecil di reruntuhan kota kuno Pompeii. Foto: Archaeological Park of Pompeii

Italia, hetanews.com - Sebuah tempat yang dulunya merupakan pusat pemandian air panas orang-orang Pompeii akhirnya dibuka untuk umum. Para arkeolog kemudian merestorasi tempat tersebut sebagai bagian dari Grand Pompeii Project, yakni proyek yang digagas pemerintah Italia dalam rangka konservasi dan pemeliharaan reruntuhan bangunan.

Seperti yang sudah-sudah, penggalian arkeologis yang dilakukan para peneliti justru menguak kisah tragis detik-detik di mana kota Pompeii dibumihanguskan oleh ledakan dahsyat Gunung Vesuvius.

Kali ini, arkeolog menemukan kerangka anak kecil berusia 8 hingga 10 tahun yang diduga bersembunyi di pemandian umum untuk berlindung dari kedahsyatan ledakan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi. Ironisnya, usaha si bocah sia-sia. Ia diduga tewas akibat gas panas dan kepulan abu vulkanik yang dimuntahkan gunung berapi.

“Itu adalah penggalian yang menguras emosional,” ujar Albert Martellone, arkeolog yang memimpin proyek tersebut, kepada AFP. “Bocah itu sedang berlindung. Tapi di situlah ia menemukan kematiannya.”

Penemuan kerangka anak kecil di reruntuhan kota kuno Pompeii. Foto: Archaeological Park of Pompeii

Saat ini, arkeolog tengah berusaha meneliti DNA si bocah guna mengidentifikasi jenis kelamin, dan mengetahui lebih lanjut ihwal kehidupannya. Seperti apakah anak ini menderita penyakit, atau bagaimana detik-detik ketika kematian menjemputnya.

Pemandian umum sendiri adalah salah satu hal yang lazim ditemukan di kota Romawi kuno. Selain digunakan untuk mandi, ruangan semacam ini juga dipakai sebagai pusat bersosialisasi, bersantai, dan berolahraga.

Salah satunya adalah Central Baths of Pompeii, yakni tempat pemandian umum yang dilengkapi dengan pilar-pilar besi dan interior marmer mewah. Menurut peneliti, gaya arsitektur tempat pemandian ini tampaknya terinspirasi dari Baths of Emperor Nero, yakni kompleks pemandian air panas yang ada di Roma.

“Penggalian juga bergerak dari sudut pandang arsitektural, karena tidak lazim menemukan sebuah bangunan yang begitu besar, dengan kamar-kamar yang sedemikian luas, di sebuah kota yang padat penduduk,” ujar Martellone.

Pompeii. Foto: Wikimedia Commons

Ruangan lain yang sekarang dibuka untuk umum adalah domus, atau rumah yang dipenuhi oleh lukisan Leda and the Swan. Lukisan itu ditemukan tahun lalu, mengungkapkan bahwa orang-orang Romawi kuno tampak menyukai keerotisan di kamar tidur, terutama lukisan yang digantungkan di dinding-dinding kamar.

Kota Pompeii dan Herculaneum sendiri hancur akibat letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi. Ratusan jasad ditemukan dalam keadaan laiknya mumi yang terbungkus abu vulkanik.

Belum diketahui berapa jumlah korban meninggal, namun sedikitnya 1.500 jasad telah ditemukan selama penggalian berlangsung di dua kota. Kedua kota itu dibangun sekitar 2.000 tahun lalu, dan telah memberikan pengetahuan tentang bagaimana kehidupan sehari-hari penduduk Pompeii.

Sumber: kumparan.com 

Editor: suci.