HETANEWS

Tak Ingin Ada Monopoli, Menko Luhut Ajak BMW Bangun Pabrik Mobil Listrik di Indonesia

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan saat bertemu Vice President Market Development BMW Jochen Scharrer di Munich, Jerman beberapa waktu lalu. (

Jakarta, hetanews.com - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan mengajak perusahaan otomotif asal Jerman, BMW untuk berinvestasi di Tanah Air. Indonesia saat ini tengah gencar mengembangkan ekosistem mobil listrik.

Menko Luhut mengatakan, pemerintah telah menyiapkan beragam insentif, baik produsen maupun konsumen, untuk beralih dari mobil BBM ke mobil listrik.

"Kami berharap Anda bersedia mempertimbangkan untuk membuka fasilitas pembuatan mobil listrik di Indonesia. Kami juga menginginkan adanya keragaman produsen, sehingga tidak ada monopoli satu merek saja," kata Menko Luhut saat berkunjung ke kantor pusat BMW di Munich, Jerman, dikutip Sabtu (30/11/2019).

Dalam kunjungan tersebut, Menko Luhut didampingi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno.

Selain insentif, Indonesia juga tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga air (hydropower) sehingga tarif listrik bisa lebih murah. Apalagi, Indonesia berambisi menjadi salah satu pusat industri mobil listrik dunia dengan kehadiran Huayao Cobalt Co, produsen kobalt terbesar di China.

"Mobil-mobil produksi BMW memakai CATL. baterai dari China dan Samsung dari Korea Selatan, jika mereka pindah ke Indonesia mereka bisa langsung berhubungan dengan produsennya,” katanya.

Menko Luhut mengatakan, pemerintah Indonesia saat ini aktif mendorong teknologi ramah lingkungan, termasuk transportasi. Oleh karena itu, Indonesia menargetkan 50 persen populasi kendaraan akan bertenaga listrik pada 2030. Dia yakin prospek industri mobil listrik di Indonesia bakal cerah.

Vice President Market Development BMW Jochen Scharrer mengatakan, BMW telah memproduksi mobil listrik sejak 2014. Pabrikan menargetkan produksi mobil listrik dan hybrid mencapai 50:50 pada periode 2020-2025.

"Kami berencana meluncurkan 12 mobil listrik baru hingga tahun 2025. Problem kami, baik di Indonesia atau negara-negara lain untuk mengajak konsumen membeli mobil listrik yaitu kurangnya tempat pengisian daya. Pengguna mobil ini lebih suka mengisi daya di rumah atau mungkin di kantor," ucapnya.

sumber: inews.id

Editor: sella.