HETANEWS

4 Lagi Ditangkap, Tersangka Bom di Mapolrestabes Medan Jadi 30 Orang

POLICE LINE Police Line atau garis Polisi dipasang tak jauh dari rumah terduga teroris yang digeledah Tim Densus 88 di Kampung Sentosa, Canang Kering, Lingkungan 20, Kelurahan Sicanang, Medan Belawan Selasa (19/11).

Medan,Sumatera Utara, hetanews.com - Tim gabungan Densus 88 Anti Teror dan Polda Sumatera Utara terus mengembangkan kasus bom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11) lalu. Hingga Selasa (19/11) kemarin, jumlah tersangka kasus tersebut kembali bertambah empat, menjadi 30 orang.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja mengatakan, empat tersangka baru ini ditangkap di wilayah Medan. Namun, Tatan enggan merinci inisial keempat tersangka tersebut dan juga masing-masing perannya seperti apa.

“Inisialnya nanti disampaikan oleh Densus 88, kita juga masih menunggu hasil perkembangannya lebih lanjut. Untuk perannya bermacam-macam,” ujar Tatan saat diwawancarai di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Tingkat II Medan, Selasa (19/11) siang.

Kata Tatan, secara keseluruhan sudah ada 30 orang tersangka yang ditangkap. Dari 30 tersangka tersebut, 3 orang di antaranya sudah meninggal dunia. Kemudian, 3 perempuan dan 24 laki-laki. “Seluruh tersangka ini masih kita amankan, baik itu di Mako Brimob maupun Polda Sumut,” sebutnya.

Terkait barang bukti baru yang disita dari 4 tersangka, dia tak menyebutkan secara pasti. Tatan mengaku, sampai saat ini masih dalam pengembangan dan penyelidikan tim. Termasuk, aliran dana dari kelompok jaringan teroris ini. “Masih dalam penyelidikan dan kita masih menunggu,” ucapnya.

Dikatakannya, untuk jenazah tersangka yang tewas sudah dipulangkan kepada keluarganya masing-masing. Sedangkan 6 korban bom di Mapolrestabes Medan, kini tinggal 1 orang lagi yang masih dirawat di RS Bhayangkara. “Satu korban yang dirawat berstatus anggota polisi dengan luka di tangannya. Sedangkan 5 korban lagi sudah pulang berobat jalan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Tatan mengatakan, kelompok jaringan teroris ini memanfaatkan media sosial. Artinya, media sosial cukup berperan dalam jaringan ini, apalagi rata-rata para tersangka usianya masih tergolong muda antara 20 tahun hingga 40 tahun. “Mereka berinteraksi menggunakan media sosial. Dengan kata lain, memanfaatkan media sosial sebagai sarana berkomunikasi. Untuk itu, diharapkan kepada masyarakat khususnya anak muda atau kaum milenial jangan mudah terpancing atau isu yang diperoleh dari media sosial,” katanya.

Ia menambahkan, untuk mengantisipasi aksi terorisme, diimbau dan diminta kepada masyarakat apabila melihat hal-hal yang mencurigakan untuk segera melaporkan kepada polisi, TNI atau aparatur pemerintah setempat. “Misalnya, ada yang tidak berinteraksi dengan warga lain, tertutup, jarang terlihat tapi ketika muncul dengan kelompok-kelompok kecil, maka tolong laporkan,” pungkasnya.

Sementara menurut informasi yang diperoleh Sumut Pos, kemarin, Tim Densus 88 kembali menangkap jaringan terduga teroris Habibullah berinisial A alias Al di Jalan KL Yos Sudarso, Simpang Aloha, Medan Labuhan. Penangkapan terduga teroris menetap di Kampung Sentosa, Canang Kering, Lingkungan 20, Kelurahan Sicanang, Medan Belawan ini, disergap petugas saat menunggung angkot di lokasi tersebut. Penyergapan terduga teroris berlangsung cepat. Petugas langsung membawa keduanya untuk dilakukan pengembangan.

Pascapenyergapan, petugas kembali melakukan penggeledahan dua rumah dari terduga teroris yang diamankan. Penggeledahan kedua rumah hanya berjarak sekitar 100 meter, hasilnya petugas menemukan senjata rakitan, bahan peledak, dan map coklat dari kedua rumah tersebut. “Rumah itu selama ini ditempati Habibullah bersama orangtuanya, Rita. Sejak hari Rabu, si Habibullah tidak nampak di rumah itu. Sabtu kemarin, mamaknya pergi dari rumah itu, menitipkan kunci rumahnya kepada saya,” kata Samsidar.

Mengenai aktivitas mereka, selama ini Habibullah bekerja sebagai tukang las. Selain itu, mereka tertutup dengan warga. “Kalau lihat keseharian, mereka agak tertutup,” aku Samsidar.

Sementara kepling setempat, Zihadun Akbar mengatakan, kedua rumah yang digeledah merupakan warganya. Selama ini ia tidak mengetahui persis tentang latar belakang keduanya. Petugas yang datang memintanya untuk menyaksikan penggeledahan kedua rumah tersebut. “Tadi ada beberapa barang dicurigai dari rumah itu diamankan petugas, yang jelas ada pisau dan senjata rakitan diamankan petugas,” aku kepling.

Sementara, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal mengatakan, hingga kini sebanyak 71 terduga teroris diringkus Mabes Polri paskabom bunuh diri di Mapolrestabes Medan. Menurut Iqbal, penangkapan ke-71 terduga teroris tersebut juga sebagai langkah antisipasi pengamanan menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.”Sudah kami tangkap 71 orang, lanjut penyidikan 68 orang. Meninggal dunia tiga orang,” ujar Iqbal di Gedung The Tribata Polri, Jakarta Selatan, Selasa (19/11).

Iqbal merinci ke-71 terduga teroris itu terbagi lima orang di Pekanbaru, tiga orang di wilayah Jabodetabek, 11 orang di Jawa Barat, satu orang di Kalimantan, dua orang di Aceh, dua orang di Jawa Timur, lima orang di Banten, 11 orang di Jawa Tengah, dan 30 orang di Medan.

Jenazah Dikebumikan

Jenazah terduga jaringan teroris Khairuddin (36), dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) Canang Kering, Kelurahan Belawan Sicanang, Medan Belawan, Selasa (19/11) pukul 13.00 WIB. Kedatangan jenazah dengan ambulans langsung menuju lokasi pemakaman, proses pemakaman mendapat perhatian warga setempat dengan pengawasan petugas Polres Pelabuhan Belawan bersama personel Yonmarhanlan I Belawan.

Penguburan jenazah jaringan terduga teroris ini berjalan lancar tanpa ada penolakan dari warga, padahal, sehari sebelumnya sempat beredar spanduk yang berisikan tentang penolakan pemakaman jenazah terduga teroris di lokasi tersebut.

Sebagaimana diketahui, Khairuddin diketahui tewas tertembak dalam saat disergap petugas Densus 88 Mabes Polri dan Poldasu saat ditangkap di kawasan Jalan Raya Desa Kota Datar, Kecamatan Hamparanperak. Selain itu, temannya juga tewas ditembak saat terjadinya penyergapan terhadap jaringan terduga pelaku bom bunuh diri.

Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Ikhwan Lubis menyaksikan pemakaman itu, mengimbau warga masyarakat agar mengikuti pengajian di masjid-masjid dan bukan di tempat tertutup. “Masyarakat jangan mengikuti pengajian di tempat yang tertutup. Pengajian harus dilaksanakan di dalam masjid,” imbaunya.

Anak Svt Dirawat Adik Kandungnya

enangkapan terhadap seorang wanita berinisial Svt (31), terduga jaringan teroris di Kelurahan Cengkeh Turi, Kota Binjai, menyebabkan anaknya yang masih berusia 5 tahun berinisial Ul sempat terlantar. Bocah malang tersebut sempat diasuh pemilik kontrakan tempat mereka tinggal, Ibu Anim.

Namun menurut informasi yang diperoleh dari Camat Binjai Utara, Adri Rivanto, Ul saat ini sudah dirawat adik Svt. “Anaknya pada Minggu (17/11) lalu sudah diambil seseorang yang mengaku adik kandung Svt,” ujar Adri.

Kepada Adri, adik kandung Svt itu mengaku tinggal di Secanggang, Langkat. “Pagi itu diambil orang yang mengaku sebagai adik kandungnya. Anak tersebut memang sempat diasuh pemilik kontrakan, Ibu Anim,” beber Adri.

Sebelumnya, Svt mengontrak rumah milik Anim (62), yang sudah berjalan dua bulan lebih. Keseharian Svt berpakaian serba tertutup. Svt sudah menikah tiga kali. Dari suami pertama, Svt dikaruniai 3 orang anak. Pernikahan kedua, Svt menikah secara siri. Terakhir, Svt menikah dengan seorang lajang yang terpaut usia sekitar 9 tahun. Suami ketiganya ini kerja di Malaysia.

“Suaminya yang di Malaysia juga ditangkap. Cuma enggak tahu masalahnya apa kenapa ditangkap,” ujar warga setempat saat Sumut Pos melihat rumah yang digerebek, Kamis (14/11) lalu.

Sementara, Personel Polres Binjai melakukan razia di dua lokasi, kemarin (18/11). Adalah di Jalan Makalona dan Simpang Megawati Jalan Soekarno-Hatta, Binjai Timur. “Razia dilakukan terhadap pelaku teroris yang membawa senjata tajam yang melintas di wilkum Polres Binjai,” kata Kasubbag Humas Polres Binjai, Iptu Siswanto Ginting.

Apel sebelum pelaksanaan razia dipimpin Waka Polres Binjai, Kompol Hamdan. Menurut Siswanto, razia dilakukan lantaran diperkirakan akan melintas wilkum Polres Binjai. “Kepada personel, selalu berhati-hati atau mawas diri dalam melaksanakan sweeping pada angkutan jalan. Baik kereta maupun angkutan umum yang sedang melintas. Kepada pengendara mobil pribadi, juga diberitahukan agar menurunkan kaca mobilnya untuk angkutan umum atau angkot untuk diperiksa identitasnya,” ujar mantan Kanit Intelkam Polres Binjai ini

Sumber: sumutpos.co

Editor: tom.