HETANEWS

Kemenkeu Bekukan Aliran Dana ke Desa Fiktif

Ilustrasi. Foto : MI/RAMDANI.

Jakarta, hetanews.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bakal membekukan aliran dana ke sejumlah desa fiktif. Penyaluran dana tersebut disetop setelah pemerintah memperoleh data jumlah desa siluman.

 
Dirjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Astera Prima mengatakan saat ini Kementerian Dalam Negeri masih mengidentifikasi desa-desa yang aktif menerima program Dana Desa.

"Nanti yang tahapan berikutnya ya kita freeze. Yang untuk daerah-daerah tertentu yang bermasalah. Ya kita lagi nunggu, begitu ada ininya (datanya). Mereka kan lagi identifikasi nih," katanya di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta. Senin, 18 November 2019.

Prima menjelaskan data tersebut akan dipakai untuk menghitung besaran total kerugian negara atas alokasi dana desa (ADD) tahun anggaran 2016-2018.

 
"Makanya kita harus sinkronisasi datanya dulu," ungkap dia.

 
Adapun realisasi penyaluran Dana Desa dari RKUN ke RKUD per 31 Oktober 2019 sebesar Rp51,96 triliun atau 74,23 persen dari pagu alokasi. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 16,96 persen (yoy).

 
Dalam mempercepat penyaluran Dana Desa Tahap III, Kementerian Keuangan bersama Kementerian Desa PDTT dan Kementerian Dalam Negeri terus mendorong daerah untuk segera memenuhi persyaratan penyaluran Dana Desa Tahap III sebagaimana diatur dalam PMK No. 193 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Dana Desa.

 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya mengungkap ada desa fiktif alias 'desa siluman' yang aktif menerima program Dana Desa. Maksudnya 'desa siluman' tersebut adalah desa yang tidak berpenghuni tetapi mendapatkan kucuran Dana Desa dari pemerintah.

 
Desa fiktif bermunculan akibat besarnya alokasi dana desa dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Dalam pengusutan KPK, terdapat 34 desa bermasalah di Kabupaten Konawe yang ditemukan Polda Sulawesi Tenggara (Sultra). Empat di antaranya fiktif, sisanya memang benar-benar ada tetapi tanggal surat keputusan (SK) pembentukan dimanipulasi.

Sumber: medcom.id

Editor: tom.