HETANEWS

Perang Rebut Opini Publik dalam Upaya Pemakzulan Trump

Para pengunjuk rasa menempatkan spanduk besar di halaman yang berbatasan dengan Gedung Capitol, saat seorang diplomat AS di Ukraina, William Taylor, dan pejabat Kementerian Luar Negeri AS, George Kent, memberikan kesaksian di hadapan Komite Intelijen DPR AS, 14 November 2019.

Washington, D.C., hetanews.com - Penyelidikan impeachment atau pemakzulan Presiden Donald Trump bergerak ke babak baru yang penting minggu ini, yakni khalayak umum. Pihak oposisi dari Partai Demokrat percaya Trump menyalahgunakan kekuasaannya dengan menekan Ukraina untuk menyelidiki saingan politiknya, calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden.

Mereka berharap sidang yang ditayangkan lewat televisi untuk konsumsi publik akan mempengaruhi opini publik untuk mendukung mereka memakzulkan presiden.

Dua diplomat kawakan Amerika, George Kent dan William Taylor, menjadi pusat perhatian dalam sidang dengar pendapat mengenai penyelidikan impeachment atau pemakzulan presiden.

William Taylor yang pernah menjabat sebagai kuasa usaha di Kedutaan Besar Amerika di Kiev, mengatakan Gedung Putih menahan bantuan militer ke Ukraina untuk sementara waktu sebagai bagian dari kampanye tekanan oleh presiden yang menuntut penyelidikan terhadap saingannya Joe Biden.

“Menahan bantuan itu tanpa alasan yang baik selain bantuan untuk kampanye politik tidak masuk akal,” jelasnya.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat Adam Schiff mengatakan bahwa dugaan perilaku presiden itu sesuai dengan standar konstitusi mengenai kejahatan dan pelanggaran yang membenarkan pemakzulan.

“Apakah ini yang seharusnya diharapkan oleh orang Amerika dari presiden mereka? Jika ini bukan perilaku yang membenarkan pemakzulan, lalu apa namanya?," kata Adam Schiff.

Partai Republik mengatakan kesaksian yang diberikan oleh para saksi tentang tindakan presiden berasal dari tangan kedua dan ketiga dan bahwa Ukraina akhirnya menerima bantuan militer.

Anggota Kongres dari Partai Republik, Devin Nunes, mengatakan penyelidikan pemakzulan yang sedang berlangsung merupakan bagian dari rencana lama Partai Demokrat untuk menjatuhkan presiden.

"Siapa pun yang akrab dengan perang bumi hangus Partai Demokrat melawan Presiden Trump tidak akan terkejut melihat semua tanda-tanda khas bahwa ini adalah kampanye kotor untuk konsumsi media yang dirancang dengan seksama,” kata Devin Nunes.

Trump telah berulang kali mengatakan Partai Demokrat tidak punya alasan kuat untuk memakzulkan dirinya.

“Tidak pernah ada presiden yang begitu transparan. Ini adalah upaya mencari-cari pada tingkat tertinggi dan upaya demikian sangat buruk bagi negara kita,” kata Presiden Trump.

Richard Nixon mengundurkan diri dari kursi kepresidenan pada tahun 1974 ketika dukungannya anjlok dalam jajak pendapat publik.

Bill Clinton lolos dari sidang pemakzulan Senat pada tahun 1999 ketika sebagian besar publik menolak upaya pemakzulannya dari jabatan presiden.

Sumber: voaindonesia.com

Editor: tom.