HETANEWS

Dosen Tunanetra Keliling Indonesia Dalam Rangka Ini

Dosen Tunanetra, Dr Hj Murtini SH MH saat foto bersama Sekda Kota Tanjungbalai, Yusmada Siahaan SH MH. (foto/ferry)

Tanjungbalai, hetanews.com - Berawal dari sikap tidak harmonis dan diremehkan yang diterimanya saat berurusan di kantor pemerintahan atau pelayanan publik, membuat seorang wanita disabilitas  (cacat penglihatan), mengelilingi Indonesia dengan menumpang bus umum untuk bertemu dengan pejabat dan mensosialisasikan pelayanan publik bagi orang cacat.

Dia adalah Dr Hj Murtini SH MH, seorang dosen tunanetra  yang mengalami kecelakaan pada tahun 2007 lalu, dan hingga menjadi tunanetra.

Wanita 62 tahun ini, mengunjungi beberapa kantor pemerintahan, pada Kamis (14/11/2019), seperti Kantor Walikota dan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Tanjungbalai  Asahan.

Tiba di kantor Pemko Tanjungbalai, dia disambut langsung oleh Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Tanjungbalai, Yusmada Siahaan SH MH, di ruang kerjanya.

Dalam kunjungannya tersebut, dosen tunanetra INI, Mengaku telah mengunjungi sejumlah daerah Kabupaten/ Kota yang ada di 33 Provinsi se Indonesia.

Kepada Sekdakot Tanjungbalai, Yusmada Siahaan, warga   Tangerang, Jakarta ini mengaku, ini melihat secara langsung bentuk pelayanan publik dari setiap pemerintah daerah kepada masyarakat penyandang cacat, khususnya tunanetra.

Selain itu, Murtini juga mengaku sedang berusaha untuk  memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia), tentang pelayanan publik terhadap masyarakat penyandang cacat.

Selama melakukan kunjungan tersebut, sejak tahun 2007 lalu, Murtini mengaku mendapatkan bermacam-macam sambutan, baik dari masyarakat, maupun Pemerintah, termasuk saat berkunjung ke Kota Tanjungbalai.

Ibu Murtini Dosen Tunanetra saat mengunjungi Lapas kelas II Tanjungbalai. (foto/ferry)

Dari semua kunjungan tersebut, sebut Murtini, baru di Pemko Tanjungbalai, dirinya mendapat sambutan istimewa yakni dari Sekdako Tanjungbalai.

“Saya sudah melakukan kunjungan ke sejumlah daerah yang ada di 33 Provinsi di Indonesia mulai dari Papua hingga sampai di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara ini. Dari semua kunjungan tersebut, saya sangat terkesan dan merasa terhormat saat mengunjungi Kota Tanjungbalai. Soalnya, setelah saya sampai di Kantor Pemko Tanjungbalai ini, Sekda Kota Tanjungbalai langsung menyambut dan mempersilahkan saya memasuki ruang kerjanya. Di daerah lain, pada umumnya pejabatnya selalu mengelak bertemu dengan saya dengan bermacam alasan,” ujarnya, yang saat itu didampingi oleh Monalisa, salah seorang pengusaha di Kota Tanjungbalai.

Dr Murtini mengaku, sejak dokter yang merawatnya menyatakan dirinya akan mengalami buta permanen seumur hidup, pada tahun 2007 lalu, dirinya langsung mengajukan pensiun sebagai doses Universitas Negeri Jakarta.

Alasannya, karena dirinya tidak ingin hanya menerima gaji tanpa bekerja atau menerima gaji buta saja.

“Dan sejak saat itulah saya bertekat untuk mengunjungi semua pelayanan publik yang ada di Indonesia, untuk melihat pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat penyandang cacat. Karena, sesuai dengan UUD 1945, masyarakat penyandang cacat itu adalah tanggung jawab negara,”  tegasnya.

Dalam melakukan perjalanan, Murtini mengaku, tidak pernah meminta bantuan biaya dari pihak lain.

Meski demikian, ia juga tidak menolak, ketika ada orang yang memberikan bantuan untuk biaya perjalanannya. Alasannya, karena dirinya telah menyediakan modal sekitar Rp 200 juta, sebelum mulai melakukan perjalanan mengunjungi setiap daerah yang ada di Indonesia ini.

"Saya mulai perjalanan ini dengan modal uang hasil tabungan saya sendiri, ditambah dengan bantuan dari anak-anak,” ungkap perempuan yang mengaku kelahiran Palembang, 19 Maret 1958 ini.

Sebagai seorang dosen tunanetra, Hj Murtini mengaku, punya cita-cita untuk meraih gelar profesor. Oleh sebab itu, Murtini berharap, dari hasil perjalanannya itu bisa menjadi modal bagi dirinya, untuk mendapatkan gelar Profesor tersebut.

Murtini mengaku semangatnya tidak akan pernah luntur, walaupun nanti, gelar itu diraih dengan penghargaan. Sebelum mengakhiri kunjungannya tersebut, Dr Murtini juga berpesan kepada Sekda Kota Tanjungbalai, agar lebih memperhatikan kinerja dari Dinas Sosial, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat penyandang cacat.

Saat bertemu dengan Murtini, Yusmada mengungkapkan terima kasih atas kunjungannya.

“Kami (Pemkot Tanjungbalai) berharap, semoga Ibu Murtini tetap dalam kondisi sehat dan lindungan Allah SWT dalam setiap kunjungannya. Harapannya nanti memecahkan rekor MURI dapat tercapai, karena apa yang dilakukan Ibu Murtini, merupakan salah satu misi sosial yang sangat baik dan positif, terutama kepedulian terhadap orang lain, khususnya kaum penyandang cacat, “ungkap Sekdakot Tanjungbalai.

Hal senada juga diungkapkan oleh Jayanta, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Tanjungbalai Asahan saat menerima kunjungan dosen tunanetra ini.

"Saya sangat senang mendapat kunjungan dari Ibu Martini karena kegigihan beliau untuk mensosialisasikan pelayanan publik bagi orang cacat,"ucapnya, didampingi Kepala KPLP, Monang Saragih dan beberapa pegawai lainnya.

"Saya bisa menyebut Ibu Murtini sebagai duta pelayanan publik bagi kaum disabilitas,"sebutnya.

Selain itu, Kalapas juga terpegun dan kagum akan kegigihan Ibu Murtini, karena berhasil mendidik 6 orang anak – anaknya, dalam bidangnya masing - masing.

Untuk diketahui, anak pertama Ibu Martini menjabat sebagai Dandim di wilayah Timur, anak kedua Perwira Polri (Lulusan Akpol) yang ketiga Perwira Angkatan Laut, ke empat Lulusan STPDN dan menjabat sebagai camat, anak kelima merupakan dokter spesialis saraf di RS Jakarta dan terakhir perempuan yang baru saja lulus, pada 2019 sebagai Taruni Militer.

Tampak keakraban saat Ibu Murtini berbicara dengan Kalapas. Murtini mengaku sangat merasa kagum atas kebaikan Kalapas, karena menyambutnya secara langsung, tidak seperti ditempat lain.

Penulis: ferry. Editor: gun.