HETANEWS

PLN Minta Izin Wamen BUMN Terbitkan Utang

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.

Jakarta, hetanews.com - PT PLN (Persero) meminta restu untuk kembali berutang untuk investasi kelistrikan. Hal ini pun sudah dibicarakan dengan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo.

 
Usai bertemu dengan Tiko, sapaan Kartika, Direktur Pengadaan Strategis PLN Djoko R Abumanan mengatakan perusahaan telah meminta izin untuk melakukan aksi korporasi tersebut.

 
"Cuma izin minta utang. Kan PLN tiap tahun butuh ratusan triliun," kata Djoko ditemui di Kementerian BUMN. Jakarta, Kamis, 14 November 2019.

Namun demikian, ia belum bisa merinci detail besaran utang tersebut. Ia hanya menjelaskan baru tahap berbicara dengan Tiko mengenai mekanisme alternatif pembiayaan yang lebih efisien. Skema pembiayaan alternatif ini kemungkinan menggunakanSovereign Welfare Fund (SWF). Akan tetapi, penggunaan utang ini tergantung penugasan dari pemerintah.

"Bukan (global bond), tipe lain. SWF," ucapnya singkat.

Mengutip laman fiskal.kemenkeu.go.id, Sovereign Wealth Funds adalah kendaraan finansial yang dimiliki oleh negara yang memiliki atau mengatur dana publik dan menginvestasikannya ke aset-aset yang luas dan beragam.

Belum lama ini, PLN telah menerbitkan surat utang internasional atau global bond senilai USD1,5 miliar. Global bond ini digunakan perusahaan untuk mengamankan kebutuhan pendanaan investasi tahun depan.

Global bond ini ditentukan harganya pada 30 Oktober 2019 dalam tiga tranche yaitu USD500 juta dengan tenor 10 tahun tiga bulan, USD500 juta dengan tenor 30 tahun tiga bulan, dan 500 juta euro dengan tenor 12 tahun, serta tingkat bunga (kupon) masing-masing 3,375 persen, 4,375 persen, dan 1,875 persen.

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan dana yang diraih dari penerbitan surat utang ini akan digunakan untuk pelengkap dana internal dan PMN yang tersedia untuk 2019, sehingga dapat mendukung usaha pencapaian target pemerintah untuk rasio elektrifikasi menuju 100 persen di 2020 serta pembangunan kawasan terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

"Di tengah kondisi pasar yang kondusif, PLN tidak hanya berhasil mendapatkan pendanaan dengan tenor yang panjang sehingga meringankan beban likuiditas, namun juga berhasil memperluas basis investor di pasar Eropa dengan global bond bermata uang euro dengan tenor 12 tahun," kata Sarwono.

Sumber: medcom.id

Editor: tom.