HETANEWS

Gugatan Wanprestasi Polentyno Ada yang Belum Terpenuhi

RS Horas Insani

Siantar, hetanews.com - Gugatan wanprestasi Dr Polentyno Girsang atas kesepakatan perdamaian ada yang belum terpenuhi. Hal yang belum terpenuhi tersebut ialah penyerahan saham dari pihak tergugat, Direktur PT Horas Insani ke penggugat Dr Polentyno.

Gugatan wanprestasi Dr Polentyno diserahkan sepenuhnya kepada kuasa hukum Mariah Purba, Erwin Purba dan Muliaman Purba. Sidang gugatan ini bergulir di PN Pematangsiantar. 

Selain belum ada penyerahan saham,  kesepakatan perdamaian lain yang belun dipenuhi ialah izin berpraktek Dr Polentyno di RS Horas Insani. 

"Kami dari pengacara berharap agar Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara ini, memberi putusan sesuai dengan rasa keadilan, kepastian hukum dan manfaat," kata Mariah Purba, Kamis (14/11/2019).

Mariah menjelaskan, sidang berlangsung Rabu (13/11) kemarin, agenda keterangan saksi dari penggugat. Saksi yang dihadirkan ada tiga orang yakni Martua Situngkir, Alamsyah Purba, Jutamardi Purba. 

Dijelaskannya, keterangan saksi Alamsayah dan Jutamardi membenarkan atau mendukung gugatan Penggugat. 

Disebutkan juga  bahwa mengenai gugatan wanprestasi atau ingkar janji atas kesepakatan perdamaian, Direktur PT Horas Insani sepengetahuan saksi belum menyerahkan saham tersebut, dan penggugat sampai saat ini tidak berpraktek lagi di RS Horas Insani.

Martua Situngkir

Pada kesempatan lain, salah satu pemegang saham PT Horas Insan, Martua Situngkir mengungkap kondisi RS Horas Insani bak kapal hendak karam.

Martua membeberkan, kondisi Horas Insani yang tidak baik itu ditandai dengan adanya keterlambatan pembayaran gaji serta obat-obatan.

"Perusahaan itu kan mengejar keuntungan. Apa mau dibayar kalau nggak ada untung?" jelasnya.

Bobroknya Horas Insani saat ini, beber Martua, dikarenakan manajemen yang tidak profesional dalam mengendalikan perusahaan.

"Biaya-biaya tidak terkontrol. Laporan keuangan tidak terbuka, tidak transparan," beber pria yang juga salah satu pendiri PT Horas Insani Abadi ini.

Martua mencontohkan, ketika dirinya ingin meminta laporan perusahaan, manajemen tidak memberikannya dengan alasan yang tidak masuk akal.

Ditambah lagi, tidak ada pembagian saham kepada 19 pemegang saham. "Ada 19 orang pemegang saham. Tapi, saham tidak diberikan," beber Martua.

Baca juga: Prihatin, Pihak Ketiga RSHI Tidak Membayar Gaji Penjaga Malam

Penulis: gee. Editor: edo.