HETANEWS

Pejabat Gedung Putih Didesak Beri Kesaksian Pemakzulan Trump

Presiden AS Donald Trump semakin tersudut dengan ancaman pemakzulan. Foto: AFP

Washington, D.C., hetanews.com - Komite Intelijen Amerika Serikat (AS) memanggil petinggi sementara Kepala Staf Gedung Putih, Mick Mulvaney, untuk datang memberikan kesaksiannya sebagai bagian dari penyelidikan pemakzulan pada Jumat.

"Mulvaney memiliki kesempatan untuk menegakkan sumpahnya kepada bangsa dan konstitusi dengan bersaksi besok di bawah sumpah tentang hal-hal yang berdampak pada kepentingan nasional,” ucap salah satu petinggi Demokrat dalam pernyataan.

"Kami berharap Mulvaney tidak bersembunyi di balik layar guna menyembunyikan kebenaran dan menghalangi penyelidikan kami," sebut dia, disitat dari Los Angeles Times, Jumat, 8 November 2019.

Mulvaney tidak mungkin muncul di muka publik meskipun ada panggilan pengadilan. Gedung Putih menolak untuk bekerja sama dalam penyelidikan pemakzulan sejauh ini, menuduh partai Demokrat melakukan proses yang tidak adil dan upaya partisan untuk membalikkan hasil pemilu 2016.

 
Para petinggi dan mantan direksi lainnya saat ini menghindari kesaksian panggilan pengadilan, dengan bermuka tebal dari kesaksian kongres yang sekaligus penasihat ternama presiden.

 
Tiga komite DPR mengirim surat kepada Mulvaney awal pekan ini untuk meminta dia bersaksi di balik pintu tertutup pada hari Jumat. Penasihat Gedung Putih Kellyanne Conway mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa Mulvaney tidak diharapkan muncul pada Rabu.

 
Penyelidik DPR melakukan lebih dari selusin wawancara tertutup dengan petinggi saat ini dan mantan direksi sejak penyelidikan pemakzulan diumumkan pada akhir September.

 
Demokrat segera melepaskan ratusan transkrip wawancara dengan saksi yang membeberkan kekhawatiran terkait keterlibatan pengacara pribadi Presiden Trump, Rudy Giuliani, dalam kebijakan luar negeri pemerintah terhadap Ukraina.

 
Sejumlah wawancara juga berkontribusi pada sekumpulan bukti bahwa pemerintahan Trump mencoba memanfaatkan pertemuan Gedung Putih dan bantuan keamanan ke Ukraina untuk menekan Kiev untuk melakukan penyelidikan yang dicari oleh Giuliani dan Trump. Demokrat sedang menjadwalkan audiensi publik akan dimulai minggu depan.

 
Mulvaney, yang juga menjabat sebagai direktur Kantor Manajemen dan Anggaran, dipandang sebagai saksi kunci karena keterlibatannya dalam keputusan untuk menahan USD400 juta atau setara Rp5,6 triliun untuk bantuan keamanan ke Ukraina. Bantuan itu akhirnya disepakati.

 
Saat pengarahan Gedung Putih bulan lalu, Mulvaney mengindikasikan bahwa bantuan itu sebagian bergantung pada Ukraina yang sedang melakukan penyelidikan terkait peretasan jaringan Komite Nasional Demokratik tahun 2016.

 
Kemudian, Mulvaney menegaskan kembali sambutannya, mengatakan tidak ada quid pro quo dalam transaksi administrasi Trump dengan Ukraina. “Banyak media yang salah menafsirkan pernyataannya,” sebut dia.

 
Trump menegaskan bahwa hasil panggilannya kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dalam acara di pusat penyelidikan, sangat ‘sempurna’. “Tidak ada quid pro quo dalam hubungan AS dengan Ukraina,” pungkas dia.

Sumber: medcom.id

Editor: tom.