HETANEWS

Kata Diplomat, Trump Ingin Zelenskiy Sebut: Penyelidikan, Biden, Clinton

George Kent, Wakil Asisten Menteri Luar Negeri untuk Europa tiba untuk memberi kesaksian dalam penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump di Washington, 15 Oktober 2019.

Washington, D.C., hetanews.com - Presiden Donald Trump ingin Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berdiri di depan pengeras suara dan mengatakan tiga kata: penyelidikan, Biden dan Clinton, demikian kesaksian seorang pejabat tinggi Departemen Luar Negeri Amerika.

Faksi Demokrat yang sedang melakukan penyelidikan pemakzulan Trump, pada Kamis (7/11) merilis transkrip kesaksian Wakil Asisten Menteri Luar Negeri George Kent yang disampaikan di hadapan Kongres bulan lalu.

Kent mengatakan kata-kata yang ingin didengar Trump dari Zelenskiy itu disampaikan kepada Kent oleh beberapa orang lain di dalam pemerintahan yang berurusan langsung dengan Trump.

“Itulah pesannya. Zelenskiy harus berbicara di depan mikrofon dan pada dasarnya harus ada tiga kata dalam pernyataannya, itu singkatnya,” ujar Kent sebagaimana dalam transkrip itu.

Faksi Demokrat ingin tahu apakah Trump telah menahan bantuan militer kepada Ukraina yang senilai AS$400 juta kecuali jika Zelenskiy secara terbuka berkomitmen menyelidiki Joe Biden, kandidat calon presiden Partai Demokrat yang menjadi saingan kuatnya dalam pemilu presiden tahun depan.

Trump juga bersikeras bahwa Ukraina ikut campur tangan dalam pemilu presiden 2016 untuk menguntungkan Partai Demokrat dan calon presiden Hillary Clinton.

Kent mengatakan ia prihatin dengan “upaya untuk memulai tuntutan bermotif politik yang berbahaya/merugikan aturan hukum, baik di Ukraina, maupun di Amerika."

Kent juga bersaksi bahwa pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani, melakukan “kampanye kebohongan” terhadap Duta Besar Amerika Untuk Ukraina Marie Yovanovitch sebelum Trump memecatnya.

“Pernyataan dan tuduhan-tuduhan terhadap mantan Duta Besar Yovanovitch tidak berdasar, tidak benar. Titik,” demikian kesaksian Kent.

Ditambahkannya, “Giuliani… telah melakukan kampanye penuh kebohongan dan informasi yang salah selama beberapa bulan penuh.”

Kent mengatakan ia juga menjadi target serangan Giuliani dan diminta untuk “diam saja” ketika membahas isu Ukraina. “Giuliani tidak berkonsultasi dengan Departemen Luar Negeri tentang apa yang dilakukannya pada paruh pertama 2019. Dan sepengetahuan saya, ia tidak pernah menyatakan bahwa ia mempromosikan kebijakan Amerika.”

Faksi Demokrat dan sejumlah pihak di dalam pemerintahan telah menuduh Giuliani memiliki “kebijakan luar negeri bayangan” di belakang Departemen Luar Negeri, dengan menekan pemerintah Ukraina untuk menyelidiki Joe Biden dan putranya Hunter, serta beberapa anggota faksi Demokrat.

Tidak ada bukti bahwa Joe dan Hunter Biden melakukan korupsi. Tuduhan bahwa Ukraina ikut mencampuri pemilihan presiden tahun 2016 juga didasarkan pada teori konspirasi yang tidak berdasar.

George Kent, Marie Yovanovitch dan Duta Besar Amerika Untuk Ukraina saat ini Bill Taylor, dijadwalkan memberikan kesaksian di depan publik minggu depan. 

Sumber: voaindonesia.com

Editor: tom.