HETANEWS

Museum Sebagai Icon, Potensi Wisata dan Sumber PAD

Mahasiswa FE-USI melakukan field trip ke Museum TB Silalahi di Balige, Tobasa. Foto: ist

Siantar, hetanews.com - Pariwisata budaya kini dianggap sebagai salah satu segmen industri pariwisata yang perkembangannya paling cepat. Hal ini dilandasi oleh adanya kecenderungan atau tren baru di kalangan wisatawan untuk mencari sesuatu yang unik dan autentik dari suatu kebudayaan, perkembangannya paling cepat.

Mengembangkan industri kreatif yang sejalan dengan pengembangan kebudayaan, hasilnya tidak saja meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga mendatangkan keuntungan bagi museum. Untuk itu, kreativitas dan inovasi dari pengelola museum sangat menentukan.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Simalungun yang pada kesempatan ini sepakat melakukan field trip ke museum TB center, Balige, Tobasa melalui mata kuliah ekonomi pariwisata.

Dengan tujuan untuk melakukan observasi dan tanya jawab kepada pengelola, mengenai latar belakang pendirian dan proses berjalannya museum dalam hal pengembangan wisata dan sebagai sumber pendapatan daerah.

Adapun kegiatan tersebut dilakukan, dengan harapan bahwa kota Siantar sebagai kota sejarah dan juga memiliki museum yakni Museum Simalungun untuk dapat melakukan penerapan pengembangan wisata sebagai segmen industri wisata budaya lokal.

"Kita juga berasumsi bahwa selain sebagai metode pembelajaran bagi pelajar dan mahasiswa, museum juga dapat menjadi sumber pencegahan penghapusan aset sejarah, selain itu dapat juga sebagai ikon untuk Kota Siantar, sebab sampai sekarang Siantar belum memiliki icon sebagai kota sejarah Simalungun. Seperti kita lihat tertundanya pembangunan tugu sangnawaluh selama beberapa tahun," kata Dinda Mahasiswi Semester 7 FE-USI.

Selain Dinda, Ade Sintya menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatan mereka di Museum TB Silalahi Center, museum dapat menyelamatkan pengangguran melalui perekrutan tenaga kerja terhadap putra/i daerah dan juga dapat sebagi sumber pendapatan daerah jika museum sudah berkembang.

Dosen mata kuliah, Dian G Purba Tambak menyebutkan bahwa museum adalah wahana pemahaman pendidikan budaya bagi peserta didik, tapi nyatanya sekarang pelajar lebih dominan berkunjung ke wahana bermain atau wisata modern, sehingga pelajar banyak yang tak paham akan sejarah sekitar, sebagai kearifan lokal, sehubungan itu museum juga merupakan warna sebuah daerah, yang dapat menunjukkan bahwa menceritakan sejarah dan karakter daerah tersebut.

Menurutnya, museum harus dikemas dengan baik dan inovatif, agar orang tertarik untuk mengunjunginya, sehingga pada akhirnya dengan perkembangan museum yang maksimal, maka museum tersebut dapat menjadi sumber pendapatan daerah.

Ka Prodi Ekonomi Pembangunan FE USI, Darwin Damanik menuturkan, agar museum Siantar dapat dijadikan warna di kota bersejarah ini berharap agar museum mendapatkan pembenahan dan pengelolan yang signifikan, supaya Siantar dapat menjadi daerah tujuan, baik bagi wisatawan maupun bagi pengunjung transit.

Penulis: tim. Editor: bt.