HETANEWS

Merasa 'Dilece-lece', Korban Penganiayaan Ragukan Permintaan Maaf dari Sosok Jurnalis Senior Ini

Ilustrasi perkelahian. (Int)

Asahan, hetanews.com – Di awal Oktober 2019, tepatnya Selasa (1/10/2019) lalu, 2 orang pewarta Asahan, sempat terlibat cekcok mulut yang berakhir dengan perkelahian, di salah satu warung dibilangan kota Kisaran.

Adalah Hendri Arbain (Terlapor, red) yang merupakan Jurnalis senior kawakan yang saat ini aktif dan menulis di media daylisatu.com, serta menjabat sebagai kepala biro Asahan.

Ia diduga kuat mempunyai niat terselubung kepada pelapor, karena ulah yang dibuatnya, ternyata secara tak langsung membuatnya jerah dan mengakui kesalahan.

Hal itu dibuktikan dengan surat perdamaian yang dikonsep oleh salah seorang Jurnalis senior yang disaksikan oleh beberapa kawan-kawan Jurnalis yang biasa di sebut Warung Oak Adek (WPA), Rabu (23/9/2019) lalu, pukul 16.00 WIB.

Surat Perdamain yang dibuat keduanya, namun dikonsep oleh salah seorang Jurnalis.

Betapa tidak, di balik 'surat sakti' itu, ternyata secara kasat mata, tampak dengan jelas kelemahan dari sisi hukum yang begitu mencolok.

Diisi surat itu, terlihat dengan jelas, yakni tidak dicantumkannya hari/tanggal serta tempat dimana keduanya melakukan perdamaian.

Hal tersebut menimbulkan kecurigaan bagi pelapor, Akhmad Randi Siregar, terkait dengan tidak sinkronnya isi surat perdamaian dengan STBL nomor 403/X/2019/Ash dan LP/560/X/2019/SU/Res Ash, tertanggal 1 Oktober 2019, di Mako Polres Asahan, Jalan Ahmad Yani by Pass Kisaran.

Berangkat dari hal tersebut, salah seorang wartawan sesepuh Asahan, Rino Ariady yang pernah aktif di koran Media Informasi (2007), Persia (2014) serta di sebuah majalah terbitan Polda Sumut (2015) itu sangat menyayangkan tindakan oknum Jurnalis tersebut.

Laporan Polisi yang dibuat oleh korban penganiayaan, pada 1 Oktober 2019, lalu.

"Saya memang hanya tamatan SMP, tapi orang 'Pasar' nan bodoh sekalipun, pasti tau dimana letak kesalahan surat perdamaian yang kalian buat ini, bukan polisi saja yang promoter kelian pun harus promoter," jelasnya.

Pria 63 tahun yang saat ini beralih profesi menjadi petani cabai ini, meminta aparat penegak hukum (APH) untuk terus melanjutkan proses hukum sampai di tingkat peradilan.

"Sebenarnya tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang malas dan kurang teliti. Ingat satu hal, jika hukum itu 'dilece-lece' (dipermainkan, red), maka ia akan dan pasti menjadi boomerang bagi pemainnya", pungkasnya saat ditemui di kediamannya, Jum'at (25/10/2019).

Penulis: rendi. Editor: gun.