HETANEWS

Kabinet Baru, IHSG Ditutup Menguat Tipis

Presiden Joko Widodo (baris depan ke-6 kiri) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin (baris depan ke-6 dari kanan) bersama para menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Rabu, 23 Oktober 2019. (Foto: AFP)

Jakarta, hetanews.com - Meski sempat terkoreksi negatif pada pembukaan pasar pagi hari, tak lama setelah pengumuman kabinet Indonesia Bersatu, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup positif.

Presiden Joko Widodo telah mengumumkan nama-nama menteri Kabinet Indonesia Maju. Di bidang perekonomian, ada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Investasi Luhut Binsar Panjaitan, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia.

Menurut catatan Bursa Efek Indonesia, IHSG sempat melemah 0,02 persen di awal perdagangan ke level 6.224,42, sebelum akhirnya ditutup menguat 0,52 persen di level 6.257,81.

Angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), 23 Oktober 2019: satu jam setelah lantai bursa dibuka (kiri) dan saat penutupan pasar pukul 16.00 WIB (kanan).

Angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), 23 Oktober 2019: satu jam setelah lantai bursa dibuka (kiri) dan saat penutupan pasar pukul 16.00 WIB (kanan).

Ekonom Indef Abra Talattov mengatakan pelemahan IHSG di awal perdagangan dikarenakan orang masih mempertanyakan ketepatan Jokowi dalam memilih menteri terutama di bidang perekonomian. Apalagi, kata dia, ada politikus yang mengisi pos Menko Perekonomian yaitu Airlangga Hartanto dan Kepala BKPM Bahlil yang masih dipertanyakan jaringan internasionalnya untuk menggaet investor asing.

"Jadi memang pengumuman kabinet ini dinilai cukup membuat kejutan kepada para investor terutama investor asing. Karena investor asing sampai jam 11 tadi sudah melakukan jual bersih sampai Rp 121 miliar, sampai jam setengah sebelas tadi. Dan itu mempengaruhi penurunan IHSG sampai 0,36 persen," jelas Abra Talattov kepada VOA, Rabu (23/10).

Koreksi Negatif di Pembukaan Pasar Dinilai Masih Wajar

Talattov menjelaskan pelemahan di angka 0,3 persen di pagi hingga siang tadi masih dalam kategori wajar. Menurutnya, pelemahan IHSG baru dipandang sebagai persoalan jika mencapai 2-3 persen. Atau di atas 5 persen yang mengindikasikan ada kekhawatiran ekonomi memburuk.

"Kalau menurut saya pemerintah dengan jajaran kabinetnya harus segera menyampaikan target-target sasaran jangka pendek dan jangka menengahnya seperti apa. Itu yang dikhawatirkan akan terjadi perubahan kebijakan dari hulunya. Apakah ada beberapa kebijakan sektoral akan berubah atau tidak," tambahnya.

Kendati demikian, menurut Talattov masih ada faktor eksternal seperti Brexit, perang Suriah, dan perang dagang antara Amerika dan Tiongkok yang juga ikut andil dalam pelemahan IHSG pada awal pembukaan hingga siang hari tadi. Namun, faktor eksternal ini menurutnya tidak terlalu dominan jika dibandingkan dengan pengumuman kabinet kerja tadi pagi.

Ekonom Indef, Abra Talattov. (Foto courtesy: pribadi)

Ekonom Indef, Abra Talattov. (Foto courtesy: pribadi)

Pelemahan Pasar Lebih karena Faktor Eksternal, Ketimbang Pengumuman Kabinet

Head Research Mega Capital Sekuritas, Danny Eugene. (Foto courtesy: pribadi)

Head Research Mega Capital Sekuritas, Danny Eugene. (Foto courtesy: pribadi)

Head Research Mega Capital Sekuritas Danny Eugene juga menilai pelemahan IHSG lebih disebabkan faktor eksternal, ketimbang pengumuman kabinet. Salah satunya yaitu faktor turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

"Asia merah juga ya. Ini terkait dengan IMF yang baru rilis regional report. Mereka downgrade ekonomi Asia dari 5,4 persen menjadi 5 persen. Saya pikir lihatnya lebih ke arah sana, bukan faktor dalam negeri," jelasnya.

Danny juga tidak mempersoalkan jabatan menteri yang berkaitan dengan perekonomian yang diisi oleh politikus. Kata dia, hal tersebut tidak menjadi masalah selama politikus itu memiliki kompetensi di kementerian yang mereka pimpin.

"Kalau kita mau berbicara kabinet saya lihat cukup bagus ya. Bahkan mungkin saya melihatnya ini lebih bagus daripada periode pertama. Karena sesuai dengan apa yang dibutuhkan Indonesia lima tahun ke depan," imbuhnya.

Sumber: Voice of America Indonesia

Editor: tom.