HETANEWS.COM

Kekerasan Pecah di Bolivia Terkait Penghitungan Suara

Kelompok pendukung oposisi Bolivia bentrok dengan pihak keamanan. Foto: AFP

La Paz, hetanews.com - Kekerasan pecah di beberapa kota Bolivia, Senin, setelah kandidat oposisi utama menolak hasil pemilihan presiden. Hasilnya tampak akan memberikan kemenangan kepada Evo Morales yang sudah lama menjabat.

 
Pendukung para saingan bentrok di Ibu Kota La Paz, sementara di kota Sucre selatan, gerombolan massa yang marah membakar markas besar otoritas pemilu setempat, tayangan TV menunjukkan.

 
Para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di kota pertambangan Potosi dan menyerang otoritas pemilu lokal serta kantor-kantor pemerintah daerah.

Polisi antihuru-hara membubarkan kerumunan yang mencoba menyerbu kantor pemilu di kota Anduro di Andes, selatan La Paz. Bentrokan juga dilaporkan di Tarija di selatan, Cochabamba di pusat, dan Cobija di utara.

 
Carlos Mesa, yang berada di urutan kedua di bawah Morales dalam pemungutan suara Minggu -- memaksakan putaran kedua, menurut hasil sementara. Ia mengecam hasil revisi yang dikeluarkan oleh otoritas pemilu sebagai ‘penipuan.’

 
"Kami tidak akan mengakui hasil itu yang merupakan bagian dari penipuan yang memalukan, yang membuat masyarakat Bolivia berada dalam situasi ketegangan yang tidak perlu," kata Mesa, dinukil dari AFP, Selasa 22 Oktober 2019.

 
Mesa, mantan presiden negara itu antara 2001-2005, menuduh Morales berkolusi dengan Mahkamah Pemilihan Umum (TSE) untuk mengubah hasil yang tertunda dan menghindari putaran kedua.

 
Diplomat terkemuka Amerika Serikat untuk Amerika Latin mengatakan Pengadilan Pemilu berusaha "untuk menumbangkan demokrasi Bolivia dengan menunda penghitungan suara dan mengambil tindakan yang merusak kredibilitas pemilu Bolivia."

 
"Kami meminta TSE segera bertindak untuk mengembalikan kredibilitas dalam proses penghitungan suara," kata pejabat itu, Michael Kozak, di Twitter.

Perubahan mendadak

Pemantau pemilu dari Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) menyuarakan ‘keprihatinan mendalam’ pada perubahan mendadak pada hitungan pemilu untuk menunjukkan Morales mendekati kemenangan langsung pada putaran pertama.

 
Misi pengamat OAS di negara itu mengungkapkan "kejutan pada perubahan drastis dan sulit dijelaskan dalam tren hasil awal yang diungkapkan setelah penutupan jajak pendapat," katanya dalam sebuah pernyataan.

 
“Hasil awal yang dirilis Minggu malam menunjukkan tidak satupun Morales, 59, atau Mesa yang berusia 66 tahun meraih mayoritas dan jelas mengindikasikan putaran kedua," kata misi OAS.

 
Hasil parsial menempatkan Morales memimpin dengan 45 persen suara, dengan Mesa pada 38 persen, yang berarti Morales harus bertarung ke putaran kedua untuk kali pertama.

 
Tetapi hasil yang dirilis Senin malam, setelah penundaan yang lama, menunjukkan Morales beringsut menuju kemenangan langsung dengan 95 persen suara telah dihitung.

 
OAS menyerukan otoritas pemilu "dengan tegas mempertahankan kehendak rakyat Bolivia" dan menyerukan agar tercipta ketenangan di jalanan.
 
"Sangat penting bahwa ketenangan dipertahankan dan segala bentuk kekerasan dihindari dalam situasi sulit ini," tambahnya.

Protes pusat penghitungan

Morales, presiden terlama menjabat di Amerika Latin, secara kontroversial mengincar masa jabatan keempat.
 
Dia memperoleh izin Mahkamah Konstitusi pada 2017 untuk mencalonkan diri lagi sebagai presiden meskipun konstitusi hanya memperbolehkan dua masa jabatan berturut-turut.

 
Mantan petani koka dan pemimpin serikat kiri itu memimpin negara Amerika Latin yang miskin tapi kaya sumber daya selama 13 tahun terakhir. Meskipun popularitasnya telah menyusut di tengah tuduhan korupsi dan otoriterisme.

 
Dia memimpin negara itu sejak menjabat pada 2006, ketika dia menjadi presiden pribumi pertamanya. Mandat baru akan membuatnya berkuasa hingga 2025.

 
Sebagai pemimpin Gerakan untuk Partai Sosialisme (MAS), Morales menunjuk pada satu dekade stabilitas ekonomi dan industrialisasi yang besar sebagai pencapaiannya. Sementara bersikeras bahwa ia telah memberi ‘martabat’ kepada penduduk asli Bolivia, yang terbesar di Amerika Latin.

 
Dia mendapat kecaman keras tahun ini ketika kebakaran hutan pada Agustus dan September menghancurkan hutan dan padang rumput Bolivia. Di mana para aktivis mengatakan kebijakannya mendorong penggunaan api untuk membersihkan lahan pertanian.

Sumber: medcom.id

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!