HETANEWS

Produk Tekstil dan Sepatu RI Diperluas ke Pasar Eropa

Ilustrasi. Foto : MI/ADAM DWI.

Jakarta, hetanews.com - Kinerja sektor industri tekstil, kulit dan alas kaki Indonesia bakal terus diperkuat terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar di kawasan Eropa. Kualitas produk yang sejak lama diakui dunia ini telah menjadi prioritas ekspor.

 
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan industri tekstil, kulit dan alas kaki merupakan salah satu sektor penyumbang devisa negara yang cukup signifikan dengan capaian nilai ekspor pada tahun 2018 sebesar USD18,96 miliar atau berkontribusi hingga 10,52 persen dari total ekspor nasional. Selain itu, sektor yang tergolong padat karya tersebut telah menyerap tenaga kerja sebanyak 4,65 juta orang.

 
“Industri ini menjadi sektor yang tertua di Indonesia, yang telah mempunyai struktur yang kuat dari hulu sampai hilir, dan produknya memberikan kontribusi nomor tiga dari seluruh komoditas ekspor kita,” kata Sigit melalui keterangan tertulis, Selasa, 21 Oktober 2019.

Kemenperin telah memprioritaskan pengembangan daya saing lantran potensi besar industri tekstil, kulit dan alas kaki. Apalagi, berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, industri tekstil dan pakaian dipilih sebagai sektor pionir dalam penerapan industri 4.0 di Tanah Air melanjutkan fokus memacu ekspor dari sektor industri manufaktur.

 
“Saat ini kita punya industri hulu yang menghasilkan polyester dan rayon, yang dapat menopang kebutuhan bahan baku industri tekstil. Ini bisa mengoptimalkan produktivitas dan menjadi lebih kompetitif,” tuturnya.

 
Kemenperin juga telah berupaya menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Misalnya melalui peluncuran kegiatan pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri serta program Diklat 3 in 1.

 
“Selain itu, seiring dengan implementasi industri 4.0, kami juga mendorong pelaku industri kita agar dapat memanfaatkan teknologi modern. Karena dengan restrukturisasi mesin dan peralatan, produksi bisa menjadi lebih efisien,” paparnya.

 
Di samping itu, dalam upaya memperluas akses pasar ke kancah global, sejumlah pelaku industri dalam negeri difasilitasi untuk ikut serta dalam ajang pameran baik yang skala nasional maupun internasional. Partisipasi di kegiatan pameran yang bersifat teknis dan masif, juga perlu didukung oleh seluruh stakeholder terkait.

 
Misalnya, Pameran Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) di Plasa Pameran Industri, Lobby Kemenperin, Jakarta ini berhasil menggandeng sebanyak 48 perusahaan untuk tampil di kegiatan yang berlangsung pada tanggal 22-25 Oktober 2019 tersebut.

 
Para peserta itu, meliputi industri tekstil dan produk tekstil sebanyak 21 perusahaan, industri alas kaki casual, safety shoes dan sepatu olah raga (8 perusahaan), industri barang jadi kulit (tas, jaket, sarung tangan, dan asoseris) sebanyak 14 perusahaan, serta industri lainnya seperti produsen karpet, spring bed/kasur, produk aksesoris rumah tangga, dan lima perusahaan pendukung.

 
“Seluruh peserta pameran ini hasil produksinya ditujukan untuk pasar ekspor dan pasar dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah bersaing dengan produk merek impor. Oleh karena itu, produk yang dipamerkan dapat menjadi substitusi impor,” paparnya.

 
Sigit pun mengungkapkan pihaknya akan memfasilitasi pelaku industri tekstil, kulit dan alas kaki di dalam negeri untuk ikut serta pada ajang pameran skala internasional, yakni Hannover Messe 2020 di Jerman yang mengusung tagline 'Everything Indonesia'. Indonesia secara resmi telah terpilih sebagai partner country Hannover Messe 2020.

 
“Karena Indonesia dinilai sebagai emerging economic powerhouse yang memiliki kekuatan pada sektor manufaktur dan energi. Event ini merupakan eksibisi teknologi industri internasional terbesar di dunia yang akan diikuti oleh 6500 exhibitor dan dihadiri oleh lebih dari 200 ribu pengunjung setiap tahun,” tuturnya.

 
Partisipasi pada Hannover Messe 2020 tersebut diyakini dapat membuka pintu akselerasi adopsi teknologi pada sektor industri tekstil, kulit dan alas kaki sebagai implementasi dari program 'Making Indonesia 4.0'. Di samping itu, diharapkan terjadi kesepakatan investasi dan pengembangan pasar, mengingat Eropa merupakan importir terbesar dunia untuk produk apparel dan alas kaki dari Indonesia.

 
“Oleh karena itu, momen Hannover Messe 2020 ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh industri apparel dan alas kaki nasional dan sekaligus memperkenalkan kemampuan pasoknya,” imbuh Sigit.

 
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori menegaskan pihaknya masih optimistis terhadap peningkatan produksi dan ekspor produk alas kaki nasional. Hal ini seiring dengan adanya ekspansi dan investasi baru yang masuk.

 
“Ada tujuh investor yang mau masuk,” ujarnya. Mereka itu, antara lain dari Korea Selatan yang bakal meningkatkan kapasitas produksinya di Sukabumi, Jepara, dan Bumiayu. Mereka biasa memproduksi untuk sepatu olahraga merek terkenal seperti Nike, Adidas, dan Puma,” sebutnya.

 
Dengan adanya investasi tersebut, Muhdori meyakini kinerja industri alas kaki di dalam negeri pada tahun depan akan lebih baik lagi. Ia percaya pertumbuhan akan kembali positif baik dari sisi produksi maupun ekspor pada tahun 2020.

 
Muhdori menegaskan, Indonesia masih menjadi eksportir keenam dunia untuk alas kaki, yang kian bersaing dengan Tiongkok dan Vietnam. Indonesia punya pangsa pasar hingga 2,8 persen di kancah global, dan pasar terbesarnya ke wilayah Amerika dan Eropa.

 
Indonesia juga menduduki peringat keempat produsen alas kaki dengan 1,271 juta pasang sepatu atau 5,3 persen dari produksi dunia. Selain itu, harga rata-rata ekspor alas kaki Indonesia masih menempati urutan ke-5 dunia dengan nilai USD16,70, yang menunjukkan Indonesia memproduksi alas kaki dengan harga kompetitif dan kualitas yang baik.

 
“Kami masih optimistis target dari pelaku usaha untuk memacu ekspor hingga 10 persen sampai akhir tahun ini bisa direalisasikan. Apalagi ada potensi saat musim dingin dan hari-hari besar, karena biasanya terjadi lonjakan permintaan ekspor dengan model baru,” kata Muhdori.

Sumber: medcom.id

Editor: tom.