HETANEWS

Gencatan Senjata Akan Berakhir, Erdogan Temui Putin

AFP/Sergei Chirikov Pertemuan Presiden Turkei Recep tayyib Erdogan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin

Moskow, hetanews.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melangsungkan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa (22/10). Kantor Kepresidenan Rusia menyebut pertemuan antara Putin dan Erdogan membahas perihal normalisasi situasi di timur laut Suriah.

Pertemuan kedua pemimpin negara tersebut berlangsung hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata antara pasukan Turki dan Kurdi di Suriah utara akan berakhir. Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat akan berakhir pada pukul 17:00 GMT, Selasa (22/10).

Sebelum bertolak ke kota Sochi di Rusia, Erdogan mengatakan bahwa Turki akan melanjutkan serangan militer dengan tekad yang lebih besar di Suriah kecuali sampai penarikan pasukan Kurdi di bawah kesepakatan yang ditengahi Amerika Serikat (AS) selesai.

"Jika janji-janji yang diberikan kepada negara kita oleh Amerika Serikat tidak ditepati, kami akan melanjutkan operasi kami dari tempat dengan tekad yang lebih besar," ujar Erdogan kepada wartawan, Selasa (22/10).

Seorang pejabat senior Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mengatakan kepada The Associated Press (AP) Senin (21/10), bahwa pasukannya tengah bersiap untuk mundur dari wilayah yang membentang sepanjang 120 km antara kota Ras al-Ain dan Tal Abyad.

Adapun militer Turki dalam sebuah pernyataan mengatakan pihaknya mencatat setidaknya 125 kendaraan telah membawa para pejuang meninggalkan zona aman.

Setelah penarikan pasukan SDF yang didominasi Unit Perlindungan Rakyat (YPG), Turki kemudian akan membentuk zona aman fase pertama antara Ras al-Ain dan Tal Abyad. Sumber keamanan Turki menyebut, Turki akan kembali memperpanjangnya menjadi 444 km.

Pertemuan Erdogan dengan Putin akan menjadi kunci bagi rencana pemerintah Turki untuk memperluas zona aman, karena Rusia merupakan pendukung terkuat Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Rusia secara tradisional, menentang operasi Turki ke apa yang wilayah yang dianggapnya kekuasaan Suriah.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada Senin (21/10), mengatakan bahwa operasi Turki di Suriah telah membuka peluang tersangka anggota IS melarikan diri dari tahanan. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa para pejuang perang itu dapat kembali ke tanah air mereka, termasuk Rusia.

Ketenangan di timur laut Suriah relatif mereda sejak Turki yang dimediasi oleh AS sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama lima hari pada Kamis (17/10). Gencatan senjata itu dimaksudkan agar para pejuang yang dipimpin Kurdi menarik diri dari daerah perbatasan.

Serangan Turki yang dilancarkan di timur laut Suriah sejak Rabu (9/10), disebut dengan Operasi Peace Spring. Turki menyebut operasi tersebut bertujuan menciptakan zona aman yang bersih dari kelompok bersenjata.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi adalah sekutu utama AS dalam perang melawan Negara Islam (IS). Turki menganggap SDF didominasi Unit Perlindungan Rakyat (YPG), milisi Kurdi yang dilatih, sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang sejak 1984 melakukan perlawanan terhadap Ankara.

Moskow dan Ankara yang berlawanan sisi dalam perang saudara Suriah, telah membangun persekutuan halus pada tahun lalu. Turki membeli sistem sistem pertahanan udara buatan Rusia, S-400, meskipun mendapat kecaman dari sesama negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sumber: Media Indonesia

Editor: tom.