HETANEWS

Uni Eropa Desak Parlemen Inggris Dukung Kesepakatan Brexit

Deretan pemimpina Uni Eropa mendorong Parlemen Inggris terima kesepakatan Brexit. Foto: AFP

Brussels, hetanews.com - Para pemimpin Uni Eropa mendukung kesepakatan Brexit yang diperjuangkan dengan keras pada Kamis. Tetapi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menghadapi perjuangan berat untuk mendapatkan persetujuan Parlemen Inggris.

 
"Sepertinya kita sangat dekat dengan putaran terakhir," kata Presiden Dewan Uni Eropa Donald Tusk kepada wartawan setelah 27 pemimpin lainnya menyetujui perjanjian itu.

 
Namun terlepas dari optimisme dari Johnson, partai-partai oposisi Inggris dan beberapa sekutu perdana menteri sendiri di House of Commons dengan cepat memperingatkan mereka tidak akan mendukungnya ketika melakukan pemungutan suara dalam pemilihan khusus pada Sabtu.

Jika kesepakatan itu dikalahkan, perdana menteri berkewajiban untuk meminta para pemimpin UE untuk menunda Brexit untuk ketiga kalinya. Jika ditunda, ini melanggar janji Johnson untuk memimpin Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Oktober.

 
Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker memperingatkan penolakan semacam itu akan menciptakan "situasi yang sangat rumit”. Sementara Tusk mengatakan bahwa jika itu terjadi, ia akan berkonsultasi dengan negara-negara anggota tentang cara merespons.

 
Namun Johnson bersikeras bahwa dia sangat percaya diri para anggota parlemen akan mendukung kesepakatan itu. Tetapi tanggapan langsung dari oposisi dan bahkan mitra dalam partai pendukung, justru bermusuhan.

 
Juncker berusaha memusatkan pikiran para anggota parlemen, mengatakan bahwa Brussels tidak dapat melihat perlunya penundaan Brexit yang menyakitkan lagi.

 
"Kami memiliki kesepakatan, dan kesepakatan ini berarti tidak ada kebutuhan untuk perpanjangan apa pun," tegas Juncker, seperti dikutip AFP, Jumat, 18 Oktober 2019.

 
Ditanya apakah mereka memiliki pesan untuk 48 persen pemilih Inggris yang mendukung tetap di UE dalam referendum Brexit Juni 2016, Juncker hanya mengatakan: "Saya ingin mengatakan kepada 48 persen itu, bahwa mereka benar."

 
Sementara Tusk mengatakan, “Aku menyesal berusia 48 dan bukan 52."
 
Namun terlepas dari kekhawatiran mereka, kedua pria itu berpendapat bahwa kesepakatan itu akan melindungi hak-hak warga negara Uni Eropa yang tersisa dan integritas pasar tunggal blok itu.

Rampungkan Brexit

Johnson, seorang pemimpin kampanye ‘Leave’ pada 2016 yang telah berjanji untuk meninggalkan Uni Eropa pada akhir bulan ini mendatang apa pun yang terjadi. Kini dia telah mendapatkan "banyak kesepakatan baru yang mengambil kembali kendali".

 
Terlihat lelah setelah berhari-hari melakukan langkah politik yang intens, Johnson mendesak para anggota parlemen "untuk bersama-sama menyelesaikan Brexit, menyelesaikan kesepakatan luar biasa ini dan memberikan Brexit tanpa penundaan lagi."

 
Kompromi yang dicapai pada Kamis adalah kemenangan pribadi bagi Johnson, yang berkali-kali diberitahu oleh para pemimpin Uni Eropa bahwa mereka tidak terbuka untuk mengerjakan kembali sebuah kesepakatan yang pada awalnya telah ditandatangani tahun lalu.

 
Tetapi ada tanda-tanda langsung bahwa Parlemen -,yang menolak teks Brexit sebelumnya tiga kali,- mungkin menolak lagi menolak.

 
Partai Persatuan Demokratik Irlandia Utara (DUP), yang menopang Konservatif Johnson, mengatakan pihaknya "tidak dapat mendukung proposal ini". Oposisi utama Partai Buruh, Nasional Skotlandia, dan Demokrat Liberal juga menentangnya.

Sumber: medcom.id

Editor: tom.