HETANEWS

ISIS Tidak Akan Senang dengan Gencatan Senjata Turki

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat kampanye di Dallas. Foto: AFP

Dallas, hetanews.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengomentari gencatan senjata yang dilakukan Turki terkait serangan ke Kurdi di Suriah.

Berbicara kepada pendukungnya saat kampanye di Dallas pada Kamis, 17 Oktober, Presiden Trump mengakui pendekatannya ‘tidak konvensional’. Namun Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dicapai "tanpa menumpahkan setetes darah warga Amerika".

"Itu tidak konvensional yang saya lakukan. Saya katakan, mereka harus bertarung sebentar. Kadang-kadang Anda harus membiarkan mereka bertarung sebentar,” ujar Trump, seperti dikutip Sky News, Jumat, 18 Oktober 2019.

"Turki akan bahagia. Rakyat Kurdi akan bahagia. ISIS tidak akan bahagia,” tegasnya.
 
Gencatan senjata Turki menyusul diskusi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Wakil Presiden Amerika Mike Pence di Ankara. Kesepakatan dirancang untuk memastikan bahwa pasukan Kurdi dapat menarik diri dari ‘zona aman’ yang Turki ingin bentuk.

 
Sebelumnya di Twitter, Trump mengklaim "jutaan nyawa akan diselamatkan" dari gencatan senjata itu. Trump mengatakan "cinta yang kuat" diperlukan sebelum bisa dicapai.

 
Dia juga memuji Erdogan, menggambarkannya sebagai "pria tangguh, pria kuat yang telah melakukan hal yang benar”.
 
Sementara Wakil Presiden Pence mengatakan, “AS sudah mulai memfasilitasi penarikan pasukan milisi Kurdi (YPG) dari zona aman hingga 32 kilometer“. Pence menambahkan bahwa Turki telah sepakat untuk tidak melakukan aksi militer terhadap komunitas Kobani.

 
"AS akan terus terlibat secara diplomatis, politis, dan tentu saja, dengan bantuan kemanusiaan dan untuk mendukung semua orang yang terkena dampak di wilayah ini,” ungkap Pence.

 
Serangan Turki telah menciptakan krisis kemanusiaan baru di Suriah dengan 200.000 warga sipil melarikan diri dari kekerasan. Operasi ini membuahkan peringatan keamanan terhadap ribuan militan Islamic State (ISIS) yang berpotensi ditinggalkan di penjara Kurdi.

 
Komandan pasukan pimpinan Kurdi di Suriah, Mazloum Abdi, mengatakan kepada Kurdi TV: "Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa untuk keberhasilan perjanjian gencatan senjata."

 
Tetapi seorang pejabat Kurdi, Razan Hiddo, menyatakan bahwa orang-orang Kurdi akan menolak untuk hidup di bawah pendudukan Turki. Kelompok Kurdi mengatakan mereka merasa dikhianati oleh penarikan AS yang tidak terduga, setelah mereka memimpin perang melawan IS dengan dukungan Amerika.

 
Setidaknya 224 pejuang dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi dan 183 pemberontak yang didukung Turki tewas setelah delapan hari pertama pertempuran. 72 orang warga Suriah juga turut tewas,” menurut pernyataan Syrian Observatory for Human Rights.

 
Menyusul penarikan AS, warga Kurdi menanggapi dengan secara efektif mengalihkan kesetiaan dan mengundang pasukan Pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia dan Iran, ke kota-kota di kota-kota yang mereka kuasai.

Sumber: medcom.id

Editor: tom.