HETANEWS

Potensi Tanaman Karet dari Sumatera Utara

Ilustrasi tanaman karet. (Int)

Oleh: Purim Hulu, Mahasiswa STIS

Tanaman karet ditemukan pertama kali di Benua Amerika .  Pada saat Christhopher Columbus menemukan Benua Amerika pada tahun 1476 . Karet memang bukan tanaman asli dari Indonesia , namun perkembangan tanaman ini di Indonesia sudah sangat meningkat pesat. Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun dan merupakan tanaman pekebunan yang bernilai ekonomis tinggi.

Tanaman tahunan Ini dapat disadap getahnya pertama kali pada umur 5 tahun . Tanaman yang sudah diketahui oleh banyak orang ini memiliki berbagai manfaat, secara umum karet bermanfaat sebagai bahan baku bagi industri ban, otomotif, aspal, dan lain-lain.

Gambaran Umum Kondisi  Tanaman Karet di Sumatera Utara

Sumatera Utara merupakan salah satu pusat perkebunan di Indonesia. Perkebunan di Sumatera Utara telah dibuka sejak masa penjajahan Belanda. Komoditi hasil perkebunan yang paling penting dari Sumatera Utara saat ini antara lain kelapa sawit, karet, kopi, coklat dan tembakau .  Hal ini juga yang mendorong pemerintah Provinsi  menjadikan sektor perkebunan menjadi salah satu prioritas pembangunan tahun 2020. Komoditas perkebunan yang akan dikembangkan, antara lain kelapa sawit, karet, kopi, kelapa dan kakao.

Karet  adalah salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia termasuk juga di Provinsi Sumatera Utara.

Karet sebagai salah satu komoditas ekspor Utama Sumatera utara yang cukup penting selain Komoditi Lemak dan Minyak Nabati dan sebagai salah satu sumber terbesar kontribusi PDRB di Provinsi Ini.

Berdasarkan Data BPS (Badan Pusat Statistik),  pada tahun 2018, Sumatera Utara menempati posisi kedua sebagai penghasil karet terbesar di Indonesia, dimana total produksi nya adalah sebesar 461,3 ton  dan hanya kalah oleh provinsi Sumatera Selatan.

Tentunya hal ini akan mengakibatkan peranan yang besar teradap total produksi karet secara nasional. 

Namun, tanaman karet di Sumatera Utara mengalami beberapa masalah, salah satunya adalah masalah produktivitas hasil tanaman karet, dimana dari tahun 2012 sempai tahun 2018 produktivitas tanaman karet mengalami trend naik dan turun. Pada tahun 2012, produktivitasnya sebesar 486,31 ribu ton dan menjadi 413,3 ribu ton pada tahun 2016 dan kembali meningkat menjadi 461,3 ribu ton pada tahun 2018.

Kecenderungan penurunan ini juga disebabkan oleh penurunan jumlah luas lahan tanaman kerat setiap tahunnya , dimana berdasarkan data luas tanaman karet Tahun 2018  hanya sebesar 450,3 ribu Ha.

Jika dibandingkan dengan tahun 2012 yaitu sebesar 473,75 ribu Ha .  Sehingga apabila pemerintah benar-benar serius dalam mengembangkan tanaman karet sebagai salah satu prioritas pembangunan kedapan, maka  masalah produktivitas ini harus segera diselesaikan dengan baik. Sehingga produktivitas tanaman karet dapat kembali mengalam peningkatan dan benar-benar memberi manfaat secara luas terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara. Hal ini tentunya membutuhkan persiapan dan komitmen dari semua pihak terkait , termasuk masyarakat untuk mendukung tercapainya tanaman karet yang benar-benar mampu menjadi penyumbang pembangunan pada tahun 2020 nanti .        

Apa Upaya yang dapat dilakukan?

Mengatasi penurunan luas lahan tentu akan sangat sulit dilakukan karena keterbatasan luas lahan yang tersedia dan berbagai kegiatan lain yang mengakibatkan wilayah perkebunan terus beralih menjadi tempat perumahan atau perindustrian yang tentunya akan mengancam keberadaan jumlah lahan perkebunan saat ini .

Oleh karena itu, perlu cara lain untuk meningkatkan produktivitas tanaman karet setiap tahunnya ketika luas lahan yang akan terus menurun.

Salah satu cara yang dapat dilakukan agar mendongkrak produktivitas karet adalah dengan  penyediaan bahan tanam klon unggul.

Dimana secara umum di Sumatera Utara umur pohon karet yang dimiliki sudah cukup tua. Umur pohon karet yang sudah lebih dari 10 tahun akan tidak produktif lagi seperti biasa.

Oleh karena itu, tanaman karet sangat membutuhkan peremajaan dengan perlunya ditanam klon-klon baru yang unggul untuk menggantikan pohon yang sudah tua.

Selain itu, pemerintah juga dapat membantu petani karet dengan menyediakan bahan penunjang tanaman seperti pupuk dan pestisida untuk membuat tanaman karetnya produktif.

Hal ini tentu akan sangat membantu petani mengingat keterbatasan jangkauan petani memperoleh bahan seperti ini dan keterbatasan dana membelinya, sehingga diperlukan peran pemerintah dalam mendukung petani. (*)

Penulis: tim. Editor: gun.