HETANEWS

Perempuan-Perempuan Penyintas Krisis

Dok. Barbara Nitke/STXfilms 2019 Jennifer Lopez (kiri) dan sutradara Lorene Scafaria (kanan) saat syuting Hustlers.

Jakarta, hetanews.com - Pada awalnya, Hustlers mendapat cap sebagai film yang sekadar menyenangkan ditonton (crowd pleaser). Bisa jadi karena film ini berkisah tentang perempuan-perempuan pekerja di klub striptis. Bisa jadi karena salah satu bintangnya ialah Jennifer Lopez, yang, mari kita akui, belum pernah bermain di film kelas Oscar --walaupun sukses secara komersial. Namun, pemutaran publik perdana Hustlers di Festival Toronto silam membalikkan anggapan tersebut.

Hustlers dibintangi empat aktris, yang seperti telah diungkapkan, memerankan kehidupan para pekerja di sebuah klub striptis. Akan tetapi, film ini tidak menjual erotisme, ataupun sensualitas.
Sentuhan Scafaria membuat film ini menyuguhkan keintiman dan persahabatan para perempuan yang sama-sama berjuang.

Film yang terinspirasi dari artikel New York Magazine pada 28 Desember 2015 berjudul The Hustlers At Scores oleh Jessica Pressler ini berkisah para penari striptis yang ikut terdampak dari krisis global 2008.

Ramona (diperankan dengan sangat menonjol oleh Jennifer Lopez yang juga menjadi produser film ini), Destiny (Constance Wu --ingat Crazy Rich Asians?), Annabelle (Lili Reinhart), dan Mercedes (Kiki Palmer) mulanya bekerja pada sebuah klub yang sama. Keempatnya memiliki latar beragam. Ramona ialah single mother; Destiny ialah keturunan imigran yang tinggal bersama neneknya lantaran ditinggal orangtuanya; Annabelle yang diusir keluarganya karena bekerja di klub striptis; dan Mercy yang menghadapi permasalahan pacarnya masuk penjara.

Kisah bermula pada medio 2007. Karier mereka saat itu terbilang lancar lantara para pialang Wall Street juga masih rajin menyambangi tiap malam. Namun, setahun kemudian, klub terimbas krisis Wall Street. Tamu tak lagi berdatangan. Ramona dan Destiny yang sudah berkeluarga dan membesarkan anaknya, Lily, terpisah.

Hingga kemudian saat Destiny memutuskan untuk pulang kembali ke tempat kerja asalnya, ia bertemu lagi dengan Ramona. Situasi klub yang lesu memaksa keduanya untuk menyusun rencana baru: 'fishing.' Istilah yang digunakan untuk membawa para lelaki datang ke klub dengan menjebak mereka.

Girls Power

Scafaria dengan cerdik menempatkan Hustlers bukan sebagai penghakiman moral yang biner, khususnya ketika kapitalisme memegang kuasa. Ia menunjukkan bahwa perempuan tampaknya selalu menjadi golongan yang rentan, termasuk dalam hierarki kekuasaan pekerjaan. Apalagi di diskotek striptis, tempat perempuan ditempatkan sebagai objek.

Digambarkan dengan jelas ketika pertama kali Destiny bergabung di diskotek tempat Ramona bekerja. Para tamu memanggilnya 'Lucy Liu' karena ia keturunan Asia. Atau, saat gaji pertamanya dipotong karena datang di atas jam 5, dan masih harus dipotong lagi dengan biaya 'keamanan' oleh salah satu pekerja.

Hustlers bukanlah sekadar sensualitas para penarinya. Film ini merupakan kisah perempuan-perempuan yang sintas dari krisis. Tergambar lagi saat Ramona bekerja di salah satu lini fesyen. Saat ia meminta izin kepada bosnya untuk memberi kelonggaran waktu bekerja karena ia harus mengantar anaknya sekolah. Jawaban si bos mungkin saja jadi deskripsi bahwa memang demikian masyarakat memperlakukan perempuan: "Aku tidak peduli."

Maka, soal moralitas menjadi hal kesekian saat kita melihat 'kriminalitas' keempat penari yang dipimpin Ramona dan Destiny itu. Itu seperti memakai standar gandar, ketika para pialang di Wall Street juga melakukan 'penipuan' pada tiap skala jabatan mereka, dan masih dimafhumi masyarakat. Ini menjadi pergulatan perempuan untuk tetap bertahan hidup. Merekalah yang harus melakukannya secara independen.

Performa akting keempatnya juga yang mendorong Hustlers memiliki atmosfer feminin yang kuat. Keintiman tergambar sejak awal saat Ramona dan Destiny berbagi mantel bulu, bak hubungan antara ibu dan anak yang saling melindungi dan menguatkan. Kompleksitas intrik keduanya yang sama-sama berjuang untuk hidup keluarga mereka, cukup kuat tergambar.

Saat dunia berpaling dari perempuan dan memberi peluang yang lebih besar untuk laki-laki, lalu apa pilihan para perempuan selain untuk bergumul secara kolektif menyatukan kekuatan dan menciptakan peluang mereka sendiri?

Sumber: Media Indonesia

Editor: tom.