HETANEWS

Larangan Angdes Masuk Inti Kota Ternyata Membuat Pedagang Merugi dan ‘Ganggu’ Anak Sekolah

Kondisi jalan Merdeka Siantar.

Siantar, hetanews.com – Lahirnya larangan angkutan pedesaan (Angdes) masuk inti kota Pematangsiantar (Jalan Merdeka dan Sutomo), ternyata sangat berdampak bagi pedagang, maupun anak sekolah yang tinggal di Kabupaten Simalungun.

Pasalnya, mereka harus merogo kantong lebih dalam untuk membayar ongkos angkot yang ditumpanginya.

Seperti yang dialami pedagang sayur, di Pasar Dwikora ini,  Erwin Sipayung, warga Simpang Raya, Kabupaten Simalungun.

Ketika dikonfirmasi terkait larangan itu, ia mengaku tidak setuju dengan kebijakan tersebut.

"Kalau saya pribadi, saya sangat keberatan dengan adanya kebijakan itu, karena kita akan mengeluarkan biaya lebih besar lagi," ungkapnya, kepada awak media ini, Kamis (17/10/2019).

Selain mengeluarkan biaya lebih besar, pendapatan para petani, di Simpang Raya juga akan menurun, ungkapnya.

Baca juga: Keluhan Supir Ketika Angdes Dilarang Masuk Inti Kota

"Karena saya saja dari kampung saya (Simpang Raya), itu sekali naik angkot, ongkosnya sudah Rp 7 ribu, bagaimana kalau dua kali, itu kan sama saja mengurangi pendapatan para petani,"tegasnya.

Menurutnya, bukan hanya berdampak kepada petani saja kalau Angdes tidak boleh masuk ke inti kota, namun  anak sekolah juga pasti mengeluh. Karena sudah pasti memakan waktu untuk jam anak sekolah, dan pastinya anak sekolah pasti terlambat, ujarnya.

Dia berharap, agar Angdes bisa tetap masuk ke inti kota  dan kebijakan yang dibuat harus memikirkan dampaknya.

"Karena kalau angdes tidak bisa masuk ke inti kota, kasihan kami para pedagang, harus membawa barang dagangan kami dari angkot satu ke angkot lainnya. Begitu juga anak sekolah yang dari kampung saya, pasti mereka akan telambat masuk sekolah dan pasti mengeluarkan biaya lebih besar lagi,"tutupnya dengan nada mengeluh.

Penulis: res. Editor: gun.
Komentar 2
  • pebriando naibaho
    Gimana dengan barang dari pedesaan.
    Berarti tidak boleh masuk pajak dong
  • pebriando naibaho
    Karna minoritas pedagang desa menggunakan angkot desa.
    Jika berarti peraturan ini dapat di simpulkan untuk memperkecil perdagangan di pajak horas(kota).
    Orang kecil di perkecil,orang besar di perbesar.karna orang yg modal besar y beli mobil sendiri. Sedangkan orang kecil pasti terlantar.
    Tolong kebijakan dipikirkan terlebih dahulu. Apa efek y untuk rakyat kecil