HETANEWS

Sentimen Investasi Jerman Rendah di tengah Ketegangan Perdagangan

Kanselir Jerman Angela Merkel. - Reuters

Jakarta, hetanews.com - Kepercayaan diri investor terhadap prospek ekonomi Jerman tetap lemah di tengah ketegangan perdagangan yang membawa negara tersebut menuju ambang resesi.

Indeks ZEW untuk ekspektasi enam bulan ke depan turun menjadi -22,8 dibandingkan dengan -22,5 pada bulan lalu. Proyeksi untuk Jerman dan zona euro saat ini terus memburuk.

Ekonomi terbesar di Eropa tersebut terkontraksi pada kuartal kedua dan penurunan yang berkelanjutan pada sektor manufaktur, di mana pesanan turun selama lima belas bulan berturut-turut akan menyebar ke sektor jasa yang masih cukup solid.

Sementara AS dan China kemungkinan akan segera mengesahkan perjanjian dagang parsial, negosiator Inggris dan Uni Eropa masih belum menemukan solusi yang disepakati untuk menghindari no-deal Brexit.

"Kesepakatan yang dicapai baru-baru ini antara AS dan China tampaknya tidak mengurangi skeptisisme ekonomi untuk saat ini," ujar Presiden ZEW Achim Wambach dalam sebuah pernyataan, dikutip melalui Bloomberg, Selasa (15/10/2019).

Ekonom Bloomberg Jamie Rush mengatakan bahwa indeks ZEW menunjukkan pelemahan ekonomi Jerman yang akan berlanjut hingga 2020.

"Angka ekspektasi ZEW sedikit lebih pesimistis dari perkiraan kami, pertumbuhan nampaknya tidak akan terjadi pada kuartal keempat tahun ini serta ekspansi yang moderat untuk kuartal pertama tahun depan," ujar Rush.

Bank Sentral Eropa melonggarkan kebijakan moneter bulan lalu untuk mendukung ekonomi zona euro, tetapi pada saat yang sama mendesak pemerintah negara-negara kaya untuk bergerak lebih agresif dalam pengeluaran fiskal guna mendorong pertumbuhan.

Setelah pertemuan itu, Gubernur ECB Mario Draghi mengatakan sudah saatnya bagi pemerintah negara Uni Eropa untuk meluncurkan kebijakan fiskal.

Meski demikian saran tesebut tidak digubris, khususnya oleh Kanselir Jerman Angela Merkel.

Menteri Keuangan Jerman  Olaf Scholz mengatakan pemerintah siap untuk bertindak di saat-saat krisis tetapi mereka akan tetap berpegang pada anggaran yang seimbang (balanced budget) untuk saat ini.

Sumber: bisnis.com

Editor: tom.