HETANEWS

Tiongkok Menahan Diri Soal Kesepakatan Perang Dagang

Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He berfoto di Kantor Oval dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat putaran perundingan perdagangan. ( Foto: AFP / Dokumentasi )

Beijing, hetanews.com - Tiongkok manahan diri untuk berkomentar tentang kesepakatan terbaru yang dibuat dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang dagang. Sebaliknya, Presiden AS, Donald Trump, sesumbar bahwa AS telah meraih keuntungan dari kesepakatan baru tersebut.

Donald Trump bahkan mengatakan bahwa petani dan peternak AS kini dapat memikirkan untuk membeli traktor baru dan meningkatkan produksi, karena Tiongkok akan membeli produk pertanian AS senilai US$ 50 miliar atau sekitar Rp 705,65 triliun.

Meskipun memastikan komitmennya, pemerintah Tiongkok memperingatkan AS untuk tidak mundur dari kesepakatan yang telah dicapai negosiator kedua negara pada pekan lalu.

China Daily, salah satu media resmi pemerintah Tiongkok, Senin (14/10/2019), mengutip pejabat Tiongkok yang mengatakan bahwa mereka akan menunggu sampai Presiden Trump dan Presiden Tiongkok, XI Jinping, menandatangani kesepakatan perdagangan “tahap 1” yang menjadi langkah awal megakhiri perang dagang antarkedua negara.

Menurut pejabat tersebut, Tiongkok meyakini kedua pihak telah mencapai pemahaman mendasar dan sepakat dengan "tahap 1" perjanjian perdagangan. Namun selama proses negosiasi lanjutan, hingga penandatangan dokumen yang dijadwalkan pada November 2019, Tiongkok memilih untuk menahan diri dan tidak berkomentar tentang keuntungan pihaknya dari kesepakatan tersebut.

“Berdasarkan pada praktiknya di masa lalu, selalu ada kemungkinan bahwa Washington dapat memutuskan untuk membatalkan kesepakatan, jika berpikir bahwa hal itu akan melayani kepentingannya dengan lebih baik,” demikian pernyataan  pejabat yang menolak disebut namanya, seperti dikutip China Daily.

Sementara itu, para pelaku pasar di bursa komoditas juga masih menahan diri, meskipun pemerintah AS telah memastikan komitmen Tiongkok untuk membeli produk pertanian AS senilai US$ 50 miliar.

Di Chicago Mercantile Exchange, di mana para broker bertaruh pada tren harga produk pertanian, pasar jauh dari euforia.
Harga kedelai naik hanya 0,5% pada perdagangan Senin, meskipun produsen produk kedelai AS diperkirakan menjadi pihak utama yang akan mendapatkan manfaat dari lonjakan pesanan Tiongkok, pascakesepatan perdagangan terbaru AS-Tiongkok.

Impor kedelai Tiongkok dari AS berjumlah US$ 12 miliar atau sekitar Rp 169,356 triliun pada 2017, dimana raksasa Asia itu membeli 57% dari semua ekspor kedelai AS tahun itu. Jumlah tersebut turun menjadi US$ 3 miliar atau sekitar Rp 42,339 triliun pada 2018, karena tarif baru AS dan epidemi demam babi Afrika yang memusnahkan banyak peternakan babi di Tiongkok.

"Reaksi diam pasar menunjukkan keraguan tentang kesepakatan itu, gagasan bahwa jika itu terjadi, hanya mengocok arus perdagangan antara negara-negara yang berbeda,” kata kepala ekonom untuk konsultasi pertanian Doane Advisory Services, Bill Nelson.

 

Sumber: Suara Pembaruan

Editor: tom.