HETANEWS

Bagaimana Marquez Bisa Jadi 'Raja' MotoGP

Marc Marquez merebut enam gelar juara dunia MotoGP dalam tujuh musim terakhir.

Jakarta, hetanews.com - Marc Marquez berhasil menjadi 'Raja' MotoGP dengan merebut enam gelar juara dunia dalam tujuh musim terakhir. Bagaimana Marquez bisa mendapatkan status 'Raja' di MotoGP hanya dalam waktu singkat?

Marquez merebut enam gelar juara dunia MotoGP sejak promosi pada 2013. Hanya pada musim 2015 pebalap 26 tahun itu gagal menjadi juara dunia. Hanya dalam waktu tujuh musim di MotoGP, Marquez sudah mendekat dengan status pebalap dengan koleksi gelar juara dunia terbanyak.

Marquez hanya tertinggal dua gelar dari Giacomo Agostini untuk menjadi pebalap dengan koleksi gelar juara dunia kelas primer Grand Prix terbanyak. Khusus untuk Valentino Rossi, The Baby Alien hanya kurang satu gelar juara dunia untuk menyamai sembilan gelar juara dunia The Doctor di semua kelas.

Banyak pihak menganggap Marquez bisa mendominasi MotoGP dalam tujuh musim terakhir karena Honda menjadi satu-satunya tim berhasil mengembangkan sepeda motor dengan sempurna. Honda sukses mengembangkan sepeda motor RC213V menjadi lebih sempurna dalam beberapa tahun terakhir, mengimbangi kecepatan milik Desmosedici Ducati dan akselerasi M1 Yamaha.

Marc Marquez mendekat ke torehan gelar juara dunia Valentino Rossi.
Marc Marquez mendekat ke torehan gelar juara dunia Valentino Rossi.

Tapi jika Marquez selalu menjadi juara dunia MotoGP karena Honda memiliki sepeda motor yang sempurna, maka seharusnya Dani Pedrosa bisa menjadi juara dunia, atau Jorge Lorenzo dan Cal Crutchlow serta Takaaki Nakagami di LCR bisa setidaknya bisa meraih kemenangan di MotoGP.

Kenyataannya di MotoGP 2019 hanya ada satu pebalap Honda yang mampu naik podium selain Marquez hingga seri ke-15 di Thailand berakhir. Pebalap itu adalah Crutchlow, yang finis ketiga pada balapan MotoGP Qatar dan MotoGP Jerman.

Alasan kenapa Marquez begitu mendominasi di MotoGP tergambar dari pernyataan Lorenzo. Dalam wawancara dengan Motorsport, Lorenzo mengungkapkan harapannya untuk Honda Racing Corporation di MotoGP 2020.

"Yang akan saya lakukan [jika saya pihak HRC] adalah berusaha mendesain sepeda motor yang bisa ditunggangi lebih dari satu pebalap," ujar Lorenzo.

Pernyataan Lorenzo di atas merupakan ungkapan frustrasi pebalap Honda, kecuali Marquez, musim ini. Pasalnya, hanya Marquez yang mampu menunggangi sepeda motor RC213V 2019 dengan sempurna. Sementara tiga pebalap lainnya kesulitan beradaptasi dengan RC213V yang lebih agresif.

Sejak awal Manajer Teknik HRC Takeo Yokoyama mengatakan fokus utama Honda tahun lalu adalah membuat mesin RC213V 2019 lebih bertenaga di jalur lurus demi mengimbangi kecepatan Desmosedici milik Ducati. Yokoyama mengaku tidak khawatir Honda membuat mesin RC213V lebih agresif, karena dia yakin Marquez bisa mengatasinya.

"Kami tahu sepeda motor ini lebih sulit daripada musim lalu, karena target kami adalah memiliki mesin dengan tenaga maksimal, karena kami tahu kami punya Marquez yang bisa menghadapi berbagai macam masalah sulit dengan sepeda motor. Kami memutuskan untuk melakukannya, dan sesuai harapan, Marquez bisa mengatasi dengan baik, bahkan lebih baik daripada yang kami harapkan," ujar Yokoyama.

HRC membuat mesin RC213V 2019 berdasarkan keyakinan Marquez bisa menggunakannya dengan sempurna di MotoGP 2019, tapi tidak terhadap tiga pebalap Honda lainnya. Maka bisa disimpulkan Honda membuat mesin yang tepat 'hanya' untuk Marquez. Itulah jawaban kenapa Marquez dan Honda bisa menguasai MotoGP dalam beberapa musim terakhir.

Perpaduan antara pengembangan sepeda motor Honda yang tepat ditambah gaya membalap Marquez yang agresif dan tidak kenal takut, menjadi perpaduan pas yang tidak mampu digoyahkan tim-tim pabrikan lainnya di MotoGP.

Marc Marquez satu-satunya pebalap Honda yang mampu menguasai sepeda motor RC213V.
Marc Marquez satu-satunya pebalap Honda yang mampu menguasai sepeda motor RC213V​

Untuk mengetahui betapa Marquez menguasai sepeda motor RC213V bisa dilihat dari catatan waktu di MotoGP Thailand, akhir pekan lalu. Ketika itu Marquez memenangi balapan dengan keunggulan 29 detik atas Nakagami, 33 detik atas Crutchlow dan 54 detik dari Lorenzo.

"Marquez bukan saja pebalap terbaik Honda, tapi juga di MotoGP, jadi sulit bagi Honda untuk mengubah sepeda motor untuk kami, karena Marquez bisa terus menang. Itu masalahnya. Jika saya bos HRC, saya akan melakukan hal yang sama," ujar Crutchlow.

  • Terima Kasih ke Pedrosa

Sukses Honda dan Marquez mendominasi MotoGP juga tidak lepas dari peran Dani Pedrosa. Kenapa bisa begitu? Karena Pedrosa tidak mampu mengimbangi kecepatan Marquez selama menjadi rekan setim Ant of Cervera sepanjang 2013-2018.

Marc Marquez berpeluang merebut status pebalap MotoGP terhebat sepanjang sejarah.
Marc Marquez berpeluang merebut status pebalap MotoGP terhebat sepanjang sejarah.

Andai Pedrosa mampu mengimbangi raihan jumlah kemenangan Marquez di MotoGP, Honda mungkin tidak akan hanya fokus mengembangkan RC213V hanya berdasarkan 'keinginan' Marquez. Fokus Honda bisa terbagi dan berpeluang tidak mampu mengembangkan RC213V dengan sempurna.

Itulah salah satu alasan kenapa tim rival Honda tidak mampu melawan. Yamaha terbagi fokus antara menerima masukan Valentino Rossi dan Maverick Vinales dalam mengembangkan M1. Nama Rossi memang lebih menjual, tapi faktanya justru Vinales yang meraih kemenangan lebih banyak di MotoGP sejak 2017.

Begitu juga Ducati. Andrea Dovizioso memang pebalap paling dominan di tim asal Italia itu, tapi ternyata Ducati belum juga mampu memberikan Desmodovi sepeda motor yang ideal untuk mengalahkan Marquez.

Kesimpulannya adalah Marquez dan Honda merupakan perpaduan yang pas, dan dominasi The Baby Alien berpeluang berlanjut di MotoGP dalam beberapa musim ke depan.

Sumber: CNNindonesia.com

Editor: suci.