HETANEWS

Polwan Terpapar Jaringan Teroris JAD Segera Dipecat

Antara Ilustrasi: Salah satu kamar kontrakan milik dua dari enam terduga teroris kelompok JAD yang ditangkap di Bekasi.

Jakarta, hetanews.com - Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri Kombes Asep Adi Saputra mengatakan anggota Polda Maluku Utara Bribda Nesti Ode Samili, 23, yang diduga terpapar radikalisme akan disidang dan direkomendasikan untuk dipecat.

"Masih dalam pemeriksaan internal dan ada prosedur kode etik, pastinya kita rekomendasikan diberhentikan," kata Asep di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (9/10).

Dia menjelaskan, meskipun telah lama terpapar radikalisme, Bripda Nesti diketahui belum memberikan kontribusi atau perannya dalam jaringan terorisme tersebut.

"Yang paling jadi kunci penting, jelas dia tersambung link-nya dengan JAD," sebutnya.

Sejak terpapar radikalisme, Bripda Nesti rutin melakukan komunikasi dengan jaringan teroris. Namun, polisi masih menyelidiki sejauh mana peran Bripda Nesti.

"Iya komunikasi, dan kita belum sampai ke sana untuk yang keterlibatan lain," lanjutnya.

Asep memastikan ada dua mekanisme paralel dalam penanganan Bripda Nesti, yakni tentang bagaimana kewajibannya yang masih berstatus Polwan. Selain itu, Densus 88 masih mendalami keterlibatan Bripda Nesti dengan jaringan teroris.

Sebelumnya, Asep mengatakan pihaknya menduga anggota Polda Maluku Utara Bribda Nesti Ode Samili, 23, sudah terpapar radikalisme yang terafiliasi jaringan Jamaah Ansharut Daulah

"Ditandai dengan yang bersangkutan aktif terafiliasi dengan JAD. Ini jelas ada kaitan dengan saudara Abuzi, jaringan teroris yang kita amankan 2 minggu lalu di Bekasi," kata Asep.

Asep memastikan Bripda Nesti telah lama terpapar radikalisme dengan mempelajari secara otodidak melalui media sosial.

"Pertama hasil pemeriksaa terpaparnya sudah begitu dalam, dilihat dari medsos yang dipelajarinya," sebut Asep.

Dia menyebut tim dari Densus 88 masih mendalami kemungkinan Bripda Nesti membocorkan informasi tentang kepolisian kepada JAD tersebut.

"Masih kita dalami (kemungkinan Bripda Nesti jadi informan teroris). Yang jelas, dia ini aktif bangun hubungan dengan JAD," pungkasnya.

Diketahui Bripda Nesti ditangkap untuk kedua kali dengan dugaan kasus serupa. Nesti diduga berpaham terhadap kelompok radikal Islamic State (IS).

Pada Minggu (26/5) Nesti ditangkap oleh Polda Jawa Timur saat mendarat di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur pada Mei 2019. Rencananya ia menuju ke Surabaya menggunakan identitas palsu. Kemudian Nesti kembali ditangkap oleh Densus 88 Antiteror di Yogyakarta pada akhir September 2019.

Sumber: Media Indonesia

Editor: tom.