HETANEWS

Saksi Mabes Polri Akui Lengah Sabu 40 Kg Luput dari Kejaran, Hanya Bisa Ungkap Sisanya Saja

Lima terdakwa kurir sabu 50 kg Malaysia-Medan dengan terdakwa Iskandar alias Is Bin Hamid, Suhairi, Boiman, Marsimin dan Sunarto berlanjut di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (9/10/2019).

Medan, hetanews.com - Lima terdakwa kurir sabu 50 kg Malaysia-Medan dengan terdakwa Iskandar alias Is Bin Hamid, Suhairi, Boiman, Marsimin dan Sunarto berlanjut di Pengadilan Negeri Medan, Rabu (9/10/2019).

Kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Ainun menghadirkan saksi dari Bareskrim Polri yaitu Goldman Sinaga dan Sahrul Budi.

Dalam kesaksiannya dihadapan Ketua Majelis Hakim Erintuah Damanik dan penuntut umum, Nur Ainun Siregar, keduanya menceritakan bahwa pihaknya mendapat informasi peredaran sabu asal Malaysia ke Medan.

Goldman membeberkan bahwa dari hasil pengembangan tim lapangan, pihaknya mencari keberadaan Atok (DPO).

Untuk memasok sabu ke Medan, Atok menghubungi terdakwa Iskandar alias Is bin Hamid (39).

Lalu Iskanda menghubungi terdakwa Suhairi alias Heri bin Manjo. Level selanjutnya yang berperan ke mana sabu tersebut diantar adalah terdakwa Boiman, Sunarto dan Marsimin.

“Pengintaian tim tertanggal 26 April 2019. Sabu seberat 40 kilogram luput dari kejaran kami yang mulia. Mobil Yaris yang digunakan terdakwa Boiman mengangkut sabu tersebut berhasil kabur dari kejaran kami. Sisanya 50 kg sabu kelima terdakwa yang berhasil kami ungkap,” tutur Goldman dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Erintuah Damanik.

Selanjutnya Goldman mengaku tidak tahu kemana sabu seberat 41 kg sabu yang luput tersebut.

“Sudah kita lakukan interogasi namun mereka mengaku tidak tahu yang mulia. Sebab mereka hanya menunggu arahan dari Atok via sambungan ponsel melalui terdakwa Iskandar. Kelimanya keburu dibekuk secara terpisah sehingga tidak tahu kemana sabunya akan dikirim,” terang saksi.

Informasi disebutkan saksi bahwa kelima terdakwa Januari 2019 lalu telah menjual 20 kg sabu dan Februari 2019 seberat 30 kg.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, Majelis Hakim akhirnya menunda persidangan dengan agenda tuntutan untuk para terdakwa.

Dalam dakwaan JPU Nur Ainun menyebutkan Iskandar alias Is Bin Hamid bersama dengan Suhairi, Boiman, Marsimin dan Sunarto ditangkap pada 26 April 2019 sekitar pukul 17.30 WIB bertempat di Hotel Alam Sutera Palembang.

Kelimana didakwa melakukan Tindak Pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika yakni tanpa hak atau melawan hokum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I dalam bentuk bukan tanaman.

Dimana awalnya terdakwa Iskandar yang merupakan orang kepercayaan Atok (DPO) dan sebagai koordinator lapangan dalam peredaran narkotika melakukan komunikasi HP dimana saat itu ia berada di Hotel Alam Sutera Palembang.

Kemudian terdakwa memberikan nomor HP terdakwa Suhairi kepada Atok (DPO) yang selanjutnya Iskandar pindah ke Hotel Grand Lestari Palembang yang kemudian Atok (DPO) menelepon dan menyuruh saksi Suhairi untuk mengambil sabu 90 bungkus di Jl. Medan Tembung, Medan.

"Iskandar menyimpan sabu tersebut di gudang yang juga sebagai tempat tinggal terdakwa Suhairi yang beralamat di Pasar 3 Jalan Masjid, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan Provinsi Sumut," tuturnya.

Selanjutnya Suhairi dan Boiman mengambil sabu tersebut dan disimpan di gudang.

Pada pukul 17.20 WIB, Suhairi menelepon terdakwa Iskandar melaporkan bahwa ada 90 bungkus sabu yang kemudian Suhairi diperintahkan oleh terdakwa Iskandar untuk mengantar 40 bungkus ke Batang Kilat.

"Lalu kemudian sekitar pukul 17.30 WIB Suhairi menghubungi terdakwa Marsimin untuk antar 40 bungkus yang terdiri dari 2 tas ke Batang Kilat bersama Boiman dengan gunakan mobil Yaris warna hitam milik dari Suhairi," jelas Jaksa Nur.

Setelah mengantar sabu tersebut, kemudian Marsimin dan Sunarto menemui Suhairi yang selanjutnya Suhairi menyerahkan Rp 1 juta kepada Marsimin untuk dibagi dua.

Sebelum meninggalkan mereka, Suhairi juga menyampaikan kepada Marsimin untuk nanti ada kerjaan lagi stand by saja karena narkotika jenis sabu dengan berat 50 bungkus belum diperintahkan oleh terdakwa Iskandar.

Kemudian terdakwa Willy Muhamad dan Rio Aditya yang merupakan anggota Bareskrim Polri yang saat itu berada di Palembang memperoleh informasi pengembangan dari Tim Bareskrim Polri yang berada di Medan terkait penangkapan terhadap Suhairi, Boiman, Marsimin dan Sunarto.

"Lalu personil melakukan pencarian terhadap terdakwa Iskandar dan pada tanggal 28 April 2019, polisi Willy Muhamad dan Rio Aditya dapat menangkap terdakwa Iskandar di Hotel Grand Lestari Palembang," beber JPU.

Bahwa berdasarkan penyitaan barang bukti yang dilakukan oleh penyidik sebesar 55 bungkus atau berat 50 kg yang diduga narkotika jenis sabu yang kemudian dilakukan uji laboratorium kriminalistik.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dengan pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika," pungkas Jaksa.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.