Siantar, hetanews.com - Selain menggangu para warga yang berolah raga, Festival of Light, yang berada di Jalan Farel Pasaribu, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Siantar Marihat, tepatnya di Lapangan Horbo, juga dikuatirkan merusak sarana yang ada di lokasi itu.

Warga sekitar dengan tegas menolak diadakannya Festival of Light, di lapangan tersebut.

Seperti disampaikan Daniel Sihombing (19), kepada wartawan, Minggu (6/10/2019).

Pria betubuh tegap ini, mengaku jadi terganggu berolah raga di lapangan itu.

"Ya sudah pasti menolak, karena kita yang sering berolah raga di lapangan ini jadi tergangu, dengan adanya festival ini. Apalagi, sebagian tempat ini ditutup, jadi orang yang mau berolah raga pun terhambat,"ungkap Daniel, sekitar pukul 16.45 WIB.

Menurutnya, sebelum festival ini diadakan, sore hari, lapangan Farel Pasaribu ini, sudah dipenuhi para warga yang hendak berolah raga.

"Biasanya disini (Lapangan Farel,red) kalau jam segini (sore), sudah ramai orang berolah raga. Tapi sekarang lihatlah, uda beberapa hari ini sangat sepi. Dan biasanya pun, para pemain bola sudah main disini,"ujarnya, sembari menunjuk ke arah lapangan.

Baca juga: Ganggu Aktivitas Olah Raga, Festival Of Light di Lapangan Farel Pasaribu Diprotes Warga

Lanjutnya, lagi pula disini sudah tidak bisa duduk - duduk lagi, karena ada festival).

Dan biasanya juga di pinggiran pasar sini, kalau hari Minggu, banyak yang jualan, tapi beberapa hari ini tidak ada lagi, gak tau entah kenapa, ujarnya.

Ketika ditanya soal tiket masuk Rp30 ribu ke festival itu dan itu oun hanya melihat wahana air mancur menari, Daniel Sihombing mengatakan, harga tiket masuk itu sangat mahal.

"Kalau menurut saya, harga tiket masuk sebesar Rp 30 ribu itu ya kemahalan lah, apalagi hanya untuk melihat air mancur saja," ujarnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Feri, warga sekitar yang kebetulan melintas di jalan tersebut.

Dirinya juga menolak Festival of Light itu. Kalatnya, kalau Festival of Light yang sekarang berdiri di lapangan itu harus dibongkar atau dihentikan.

"Seharusnya itu (Festival) dibongkar saja, karena sangat menggangu. Karena  acara itu, kami jadi tidak bisa lagi duduk duduk di lapangan, atau melihat para pemain bola bermain di lapangan,"ujar Feri, sembari meninggalkan awak media ini.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Lapangan Farel Pasaribu, disewakan untuk Festival of Light  ('air mancur menari'), selama 1 bulan oleh Dinas Parawisata Pematangsiantar. Tarif sewa lapangan untuk kegiatan komersil itu, dibandrol hanya Rp 1 juta rupiah per hari.