Siantar, hetanews.com - Pria lanjut usia (Lansia) yang satu ini, mungkin sudah tidak asing lagi bagi warga kota Siantar dan sekitarnya, termasuk warga luar yang sering berkunjung ke Siantar.

Meski sudah tua, dia tampak masih gigih menjalankan profesinya, yaitu sebagai juru parkir (Jurkir), mengatur kenderaan bermotor, yang parkir di depan toko ponsel jalan Bandung Siantar.

Namanya Muhammad Samsudin Marpaung (89). Namun, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan, Opung Marpaung.

Ketika ditemui hetanews.com, Sabtu (5/10/2019) siang, Muhammad Samsudin Marpaung, yang masih terlihat sehat ini, menyampaikan, bahwa semangat adalah kunci menjadikannya sehat sampai saat ini.

"Saya selalu semangat menjalani hidup. Sampai di usia 89 tahun pun, saya tetap semangat. Selama tubuh saya masih sehat, saya akan bekerja terus,"ujarnya, yang menetap di Jalan Rakutta Sembiring, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar.

Pengakuan pria yang lahir tanggal 6 Juni 1930 ini, profesi sebagai tukang parkir, dilakoninya sejak tahun 1974 hingga sampai saat ini (2019).

"Saya mulai jadi tukang parkir tahun 1974 sampai sekarang, jadi sudah 45 tahun. Dulu masih di Jalan Sutomo, belum di Jalan Merdeka. Kalau tidak salah, ingatan ku ya, Presiden masih Soekarno, saya sudah jadi tukang parkir," ungkapnya.

Dikatakan bapak 12 anak yang terdiri dari enam laki-laki dan enam perempuan ini, seluruh anaknya tamat sekolah lewat upahnya, menjadi tukang parkir yang telah lama dilakoninya hingga menjadi tukang parkir yang melegendaris di Kota Siantar.

Dari seluruh anaknya, sudah ada yang hidup mapan dan tinggal di luar kota, seperti Jakarta dan Batam. Bahkan anaknya, juga ada yang lulusan sarjana S1 hingga S3.

"Anak pertama Sarjana Hukum (S1) tinggal di Surabaya, anak kedua di Jakarta. Baru, anak perempuan ku yang nomor empat itu lulusan S3, sekarang tinggal di Batam," ungkapnya kembali.

Ketika disinggung, apakah dirinya belum mau pensiun? Muhammad Samsudin Marpaung menjawab, “sudah lama aku pensiun, tapi aku tetap keberja menjadi tukang parkir,”katanya.

"Badan saya masih sehat. Saya masih ingin di lapangan, masih ingin jadi tukang parkir,"ucapnya lagi.

Dikisahkan tukang parkir dari masa Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini, penghasilannya tidap menetap. Terkadang dapat lebih, terkadang kurang.

"Penghasilan tidak tetap. Kadang banyak, kadang sikit. Tapi itu yang harus kita syukuri," jelasnya, seraya mengatakan, selepas bekerja, dirinya pulang kerumahnya dengan menumpangi angkot yang saban hari melintas dekat rumahnya.