HETANEWS

Alami Kebutaan saat Bertugas, Prajurit TNI Ini Awalnya Terpuruk, Kini Berprestasi

Prajurit TNI Prada Gilang Al Fajar yang alami kebutaan saat bertugas namun tak putus asa dan kini berprestasi.

Medan, hetanews.com - Seorang prajurit TNI bernama Prada Gilang Al Fajar harus kehilangan penglihatan. Kedua matanya dinyatakan mengalami kebutaan total akibat terpapar zat-zat berbahaya ketika bertugas membantu korban bencana alam erupsi Gunung Sinabung pada 2014.

Kenyataan ini membuatnya sempat terpuruk. Dia juga merasakan kesedihan sang ibu yang seakan sulit menerima takdir tersebut. Dalam keputusasaan dan keterbatasan fisik, Prada Gilang tetap menjalani tugas sebagai prajurit TNI di Batalyon Arhanud 11 Wirabuanayudha, wilayah jajaran Kodam I Bukit Barisan, Medan, Sumatera Utara.

Perlahan seiring berjalannya waktu, Prada Gilang menemukan kembali semangatnya. Dia mendapati panggilan baru dihidupnya untuk menjadi bagian dari atlet TNI penyandang difabel. Hasilnya, sejumlah medali ajang kejuaraan paralimpik berhasil diraihnya.

Prada Gilang menceritakan sebuah peristiwa yang mengubah hidupnya. Saat itu tahun 2014, dia mendapat tugas untuk membantu pembangunan relokasi perumahan bagi warga korban erupsi Gunung Sinabung di Desa Siosar, Kabupaten Karo.

Saat tugas itulah dia terpapar debu vulkanis hingga tak sadarkan diri dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit (RS) Putri Hijau. Hasil pemeriksaan tim dokter kala itu, Prada Gilang divonis mengalami kelumpuhan dan kebutaan.

“Tentunya pertamanya sedih. Kasus ini berbeda dengan orang yang buta sejak lahir dan seperti yang saya alami,” ujarnya, Jumat (4/10/2019).

Prada Gilang juga merasakan kesedihan yang dialami orangtuanya. Hal inilah yang mendorongnya untuk tetap kuat dan tegar.

“Orangtua sudah bangga saya jadi prajurit, namun kondisinya seperti ini. Saya sering melihat ibu saya hanya terduduk di rumah dan menangis. Saya tak ingin ibu bersedih. Saya harus bangkit untuk memberi semangat ke ibu saya. Itu yang selalu memotivasi saya,” ucapnya.

Meski divonis lumpuh dan buta, Prada Gilang tidak merasa terpuruk dengan kondisinya. Dia tetap optimistis dengan menjalani berbagai pengobatan hingga akhirnya dapat berjalan kembali. Kendati demikian, syaraf kedua matanya dinyatakan sudah pucat dan tidak dapat disembuhkan.

“Saraf mata pak Gilang mengalami kerusakan atau dalam bahasa kedokteran disebut atropi papil. Ini kondisi sulit dan bisa dikatakan akhir dari kesehatan mata. Pengobatannya sudah tidak ada lagi karena bagian akson saraf mata tidak lagi dapat beregenerasi,” kata Kasubdep Mata RS Putri Hijau Medan Mayor CKM dr Yudhi Dorandes, saat menyampaikan vonis penyakit Prada Gilang.

Pada 2018, Prada Gilang mengikuti kursus bektram di Pusrehab Kemhan Jakarta. Dan di tahun 2019, dia dipindahtugaskan dari Batalyon Arhanud 11 Wirabuanayudha ke Babinminvetcaddam I BB. Meski telah dipindahtugaskan, Prada gilang tidak patah semangat dan bertekad untuk tetap mengharumkan nama bangsa.

Dia pun bergabung dalam National Paralympic Committe Kota Medan dengan cabang olahraga lempar lembing dan tolak peluru. Berbekal semangat dan dukungan dari kedua orangtua, Prada gilang berhasil meraih juara II F11 tolak peluru putra dan juara II F11 lempar lembing putra pada Pekan Paralymlic Provinsi Sumut pada Mei 2019. Dan di saat ini, Prada Gilang menjalani training center untuk persiapan seleksi menuju Peparnas Tahun 2020 mewakili Provinsi Sumut.

sumber: inews.id

Editor: sella.