HETANEWS

Hari Ini dalam Sejarah: Garuda Indonesia Jatuh di Deli Serdang, 234 Orang Meninggal

Hari Ini dalam Sejarah: Garuda Indonesia Jatuh di Deli Serdang, 234 Orang Meninggal

Deli Serdang, hetanews.com - Hari ini 22 tahun yang lalu, pesawat Garuda Indonesia jenis Airbus A300-B4 dengan nomor penerbangan GA 152 jatuh terbakar di Desa Buah Nabar, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara sekitar pukul 13.18 WIB.

27 September 1997 memberitakan, seluruh penumpang yang terdiri dari 222 penumpang dan 12 awak pesawat meninggal akibat kecelakaan itu.

Direktur Utama Garuda Soepandi dalam keterangan persnya menyebutkan, pesawat yang dipiloti Capt. Rachmo Wiyogo (40) meninggalkan Bandara Cengkareng pada pukul 11.30 WIB.

Pesawat dengan nomor penerbangan GA 152 tersebut dijadwalkan akan tiba diBandara Polonia, Medan pukul 13.58 WIB.

Namun, sekitar 30 kilometer dari Bandara Polonia, pesawat tersebut jatuh di tanah datar dan perbukitan, di dekat perkampungan.

Tidak sedikit pun bagian pesawat yang masih utuh. Semuanya hancur berkeping-keping dan hangus terbakar. Seluruh isi pesawat bercampur aduk dengan potongan tubuh manusia.

Bagi Garuda, kecelakaan jenis A300-B4 merupakan yang pertama kalinya. Kecelakaan ini juga menjadi kecelakaan pesawat terburuk di Tanah Air, setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

  • Kesaksian Warga

Penduduk Desa Buah Nabar, Sarin br Bukit (42) mengaku terkejut dengan kejadian tersebut.

"Mula-mula saya mendengar suara pesawat, rasanya dekat sekali sampai hampir memekakkan telinga. Tapi saya tidak melihat di mana pesawatnya," kata Sarin.

"Ketika keluar dari gubuk di ladang, tiba-tiba saya terkejut dengan suara ledakan dan terlihat moncong pesawat besar sekali mengarah kepada saya.

Saking takutnya, saya menjerit minta tolong dan berlari sekuat-kuatnya," lanjutnya.

Menurut Sarin, ia mendengar lagi suara ledakan keras berulang-berulang yang tidak dapat dihitungnya berapa kali. Ledakan itu diselingi suara benturan badan pesawat dengan pohon besar sebelum pecah berkeping-keping.

Setelah itu, ia melihat api membumbung tinggi. Siang Ketaren (55) warga Dusun V, Desa Sembahe juga memberikan kesaksian serupa dengan Sarin. Saat kejadian, ia sedang bersama 10 temannya yang duduk-duduk di warung kopi.

Meski tidak melihat pesawat, mereka terkejut ketika mendengar suara ledakan sangat keras dan diikuti ledakan keras berikutnya berkali-kali.

"Kami berlari ke lokasi jatuhnya pesawat itu. Sesampainya di sana yang kami lihat hanya api yang masih berkobar. Setelah itu kami mengutus Pilot Purba untuk melapor ke Polsek," ungkap siang.

Kengerian kecelakaan itu juga disaksikan oleh petugas SAR saat mengevakuasi korban. Sesekali mereka mengekspresikan kengeriannya.

Terkadang mereka meringis saat harus mengumpulkan potongan tubuh yang bergelimang darah. Hampir seluruh mayat yang ditemukan tidak ada yang utuh.

  • Investigasi

5 Oktober 1997 memberitakan, kejadian nahas tersebut kemungkinan tidak terjadi apabila pilot menolak perintah petugas menara ATC.

Sebelumnya, petugas ATC memerintahkan pilot untuk menurunkan ketinggian dan tidak membelokkan pesawat.

22 Oktober 1997 memberitakan, Kotak hitam CVR (Cockpit Voice Reader) dan FDR (Flight Data Recorder ditemukan pada 21 Oktober pada kedalaman yang sama berjarak 10-15 meter dengan letak ekor jatuhnya pesawat.

Investigasi kecelakaan Garuda GA-152 itu pun selesai pada 8 November 1999.

Ketua AAIC (Aircraft Accident Investigation Committee), Prof Oetarjo Diran menuturkan bahwa kecelakaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh banyak faktor.

Namun, ia tidak memberikan lebih lanjut terkait penyebab pastinya.

Melansir historia.id, berjudul: Kelabu 26 September, disebutkan peristiwa nahas ini terjadi saat wilayah Jawa dan Sumatra diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan.

Namun, ancaman asap baru benar-benar menyedot perhatian ketika musibah GA 152 terjadi.

Pesawat berangkat dari bandara Sukarno-Hatta dengan membawa 222 penumpang dan 12 awak. Pilot Hance Rahmowiyogo yang sudah memiliki 20 tahun pengalaman terbang meminta panduan dari menara ATC (Air Traffic Control) karena jarak pandang tertutup kabut, sebelum akhirnya kontak terputus.

Dari hasil transkrip komunikasi terakhir yang dipublikasikan ke publik, seperti dikutip dari aviation-safety.net, ditengarai terjadi kesalahmengertian komunikasi dengan menara ATC sebelum GA 152 hilang kontak:

ATC: GIA 152, turn right heading 046, report established on localizer.

GIA 152: Turn right heading 040, GIA 152, check established.

ATC: Turning right sir.

GIA 152: Roger, 152.

ATC: 152, confirm you′re making turning left now?

GIA 152: We are turning right now.

ATC: 152 OK, you continue turning left now.

GIA 152: A .... confirm turning left? We are starting turning right now.

ATC: OK .... OK.

ATC: GIA 152 continue turn right heading 015.

GIA 152: Aaaaaa. Allahu Akbar!

Tim investigasi menyimpulkan bahwa menara ATC keliru memberikan panduan. GA 152 yang seharusnya berbelok ke arah kiri malah diarahkan ke kanan sehingga menabrak tebing gunung, yang jaraknya 48 km dari kota Medan.

Pesawat kemudian meledak berkali-kali. Tak ada yang selamat. Mayoritas penumpang warga negara Indonesia, 17 penumpang asing berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Malaysia, Jepang, dan Jerman.

Kontak terputus pada pukul 13.00. Laporan bahwa pesawat telah jatuh baru muncul pada pukul 14.20. Evakuasi dilakukan namun terhambat sulitnya medan dan kondisi jenazah yang tercerai-berai.

Jenazah yang tidak dikenali dimakamkan secara massal di dekat lokasi jatuhnya pesawat, kini bernama Monumen Membrano, untuk mengenang musibah tersebut.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.