HETANEWS

Lapas Klas IIA Siantar Bangun Rumah Ibadah dari Swadaya Sendiri

Kegiatan Napi beragama Islam saat ibadah di Mesjid. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Sejumlah rumah ibadah sudah berdiri di Lapas klas IIA Pematangsiantar, mesjid dan vihara, sudah berdiri tegak dan telah digunakan jemaat untuk beribadah.

Seperti pantauan hetanews.com, Selasa (24/9/2019), mesjid setiap hari diisi dengan tausyiah dan kegiatan ibadah lainnya, seperti belajar fardhu kifayah, menshokatkan dan mengkafani mayit, belajar membaca Alquran, mengaji dan lainnya.

Setiap hari Selasa, Lapas mendatangkan penceramah dari Kemenag Simalungun, menyampaikan tausyiah dan para napi wanita, diajarkan membaca al qur'an yang dibimbing ibu Aisyiah Siagian, Nurdimah Pasaribu dan Sanrahani Harahap.

Sedangkan kegiatan ibadah untuk napi yang beragama Budha dilaksanakan di vihara.

Menurut humas Lapas Siantar Hiras Silalahi, pembangunan rumah ibadah bersumber dari swadaya sendiri, gaji pegawai sebagai infaq bulanan dan pembangunan dikerjakan oleh napi. Mesjid dan vihara sudah rampung dikerjakan dan sudah digunakan untuk ibadah.

Sedangkan kegiatan ibadah untuk Napi yang beragama Budha dilaksanakan di Vihara. (foto/ay)

Saat ini pembangunan gereja sedang dikerjakan. " Diagendakan menelan biaya Rp.250 juta,"kata Hiras yang juga sebagai ketua pembangunan. Sebelumnya, vihara dibangun oleh seorang pendeta biksu dari Surabaya.

Untuk melancarkan pembangunan ini, dari Lapas juga mengharapkan bantuan dari Pemkab Simalungun dan Pemko P.Siantar, juga stakeholder. Karena tidak ada bantuan pusat untuk pembangunan sarana rumah ibadah di Lapas.

Pembangunan rumah ibadah dan kegiatan rohani setiap hari bertujuan pembinaan mental, agar terbentuk akhlak mulia dan menjadi pribadi yang takut akan Tuhan. "Jika bebas nanti diharapkan dapat menjadi manusia yang baik dan dapat ditetima.kembali ditengah tengah masyarakat.

Sedangkan untuk belajar fardhu kifayah tentang tata cara mengkafani jenazah, sholat jenazah akan mendapatkan sertifikat datu Kemenag. Sehingga nantinya bisa menjadi bilal mayat dan berguna bagi masyarakat, jelas Hiras.

Pembangunan dikerjakan para napi sebagai tukang (ahli bangunan) dibantu 11 napi lainnya. Para napi yang mengerjakan pembangunan ketika ditanya wartawan mengatakan, dirinya harus menjalani pidana penjara selama 9 tahun karena kasus narkotika, juga ada yang menjalani pidana 10 tahun karena kasus asusila.

Ditambahkan Hiras, bimbingan rohani yang dilaksanakan setiap harinya di Lapas Klas IIA Siantar sejak kepemimpinan Bapak Porman Siregar. Rumah ibadah yang dulunya hanya bisa dihuni puluhan orang, kini sudah bisa menampung ratusan Jemaah, katanya.

Penulis: ay. Editor: gun.