HETANEWS

Polisi Klaim Rusuh di Wamena Bermula dari Tawuran Pelajar

Polisi Klaim Rusuh di Wamena Bermula dari Tawuran Pelajar Puluhan pengunjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa Papua menggelar aksi di Kawasan Bundaran HI Jakarta, Selasa, 1 Desember 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, hetanews.com - Polda Papua mengklaim kerusuhan berujung pembakaran Kantor Bupati Jayawijaya bermula dari tawuran antarpelajar, Senin (23/9). Kerusuhan itu terjadi di Jalan Yos Sudarso, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal menjelaskan awalnya pukul 07.15 WIT siswa SMA PGRI bersama sekitar 200 orang menggelar unjuk rasa di halaman sekolah. Mereka mengajak siswa sekolah Yapis bergabung dalam aksi.

Namun para pelajar sekolah Yapis tidak mau mengikuti demonstrasi sehingga terjadi perkelahian.

"Aksi perkelahian tersebut meluas dengan melakukan pembakaran beberapa fasilitas pemerintah, umum dan pribadi di Kabupaten Jayawijaya. Aparat gabungan TNI dan Polri masih berupaya menenangkan massa tersebut," kata Kamal melalui keterangan tertulis.

Selain itu, Kamal menjelaskan terkait isu ucapan rasisme yang diduga diucapkan seorang guru, pihak kepolisian telah mengkonfirmasi ke sekolah dan dibantah.

"Pihak sekolah dan guru dan kita pastikan tidak ada kata-kata rasis. Kami harap masyarakat di Wamena dan di tanah Papua tidak mudah untuk terprovokasi isu yang belum tentu kebenarannya," tuturnya.

Menhan Sebut Ada Penyusup

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menanggapi unjuk rasa yang menewaskan salah satu personel TNI Pratu Zulkifli saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa di Papua.

Ia menduga ada pihak yang menyamar sebagai pelajar atau mahasiswa dalam aksi tersebut.

"Itu yang nyaru, apa namanya mahasiswa atau SMA? Bukan SMA itu. Hanya make-make baju," ujar Ryamizard di Gedung DPR, Jakarta, Senin (23/9).

Ryamizard tidak menyebutkan siapa yang menyusupi aksi mahasiswa atau pelajar SMA dalam unjuk rasa berujung rusuh. Ia menyatakan kekerasan yang menyebabkan satu personel TNI meninggal dunia tidak boleh terjadi.

Lebih lanjut, Ryamizard mengatakan pemerintah terus melakukan upaya untuk memulihkan kondisi di Papua. 

"Tetap aja dengan hati dingin, tidak panas. Selesaikan dengan baik," ujarnya.

Ia menilai tewasnya personel TNI dalam aksi tersebut sebagai bentuk pengorbanan dalam bertugas.

"Menyelesaikan sesuatu yang itu pasti ada pengorbanannya," ujar Ryamizard.

Terpisah, anggota Komisi I DPR Jazuli Juwaini meminta pemerintah serius dalam mengkalkulasi kondisi di Papua. Pemerintah, kata dia, membaca peta secara jelas dan transparan ketika mengatasi persoalan di sana.

"Menurut saya pemerintah harus serius mengkalkulasi penyelesaian ini," ujar Jazuli di Gedung DPR, Jakarta.

Lebih dari itu, Jazuli sepakat penindakan hukum di Papua tidak boleh melanggar hak asasi manusia. Akan tetapi, ia menyebut pemerintah harus tegas agar tidak dianggap melakukan pembiaran.

"Perlu ditangani secara komprehensif, memang harus diperhatikan hal-hal yang sensitifnya. Sekali lagi tanpa melanggar HAM, tapi penegakan hukum harus dilakukan dan menyelamatkan warga bangsa, apalagi tentara itu juga satu keniscayaan," ujarnya.

Kodam XVII/Cenderawasih menyampaikan prajurit TNI yaitu Praka Zulkifli dari satuan Yonif 751/Raider tewas dalam aksi demo Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) di daerah Expo Waena, Jayapura, Papua.

Dia diduga tewas akibat dibacok di bagian kepala oleh oknum mahasiswa.

Aliansi mahasiswa Papua (AMP) menyampaikan klarifikasi terkait peristiwa di Jayapura dan Wamena. Mereka menyatakan penyebutan nama AMP dalam peristiwa tersebut tidak tepat dan menyesatkan.

"Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) hanya berada di luar Papua. Kedudukan AMP ada di 13 kota di luar Papua, sehingga penyebutan AMP dalam peristiwa yang terjadi di dalam Papua tentu tidak benar," kata Ketua Umum AMP Jhon Gobai dalam keterangan tertulis.

Dia menambahkan AMP secara nasional tidak mengagendakan atau merencanakan aksi apapun pada Senin (23/9).

Sumber: CNN Indonesia


 

Editor: tom.