HETANEWS.COM

Surati Presiden, Terdakwa Tuding Jaksa dan Polisi Rekayasa Proses Hukum

Terdakwa didampingi pengacaranya. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Terdakwa Alasen Kaban (54), kembali akan melayangkan surat ke Presiden RI, terkait kasus yang menimpanya.

Dirinya merasa tidak mendapatkan keadilan dan dikriminalisasi, dalam proses hukum yang penuh rekayasa.

Hal itu disampaikannya melalui nota pembelaan (pledoi), yang dibacakannya dalam persidangan, Senin (23/9/2019), di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun.

Jaksa Julita Nababan dan Fernando Nababan, dituding mempunyai ikatan yang kuat, karena persamaan marga, yang diyakini terdakwa, mempunyai isme yang kuat. Meski jaksa telah mengetahui proses hukum yang culas dan kotor, namun memberi dukungan kepada kesaksian, Fernando Nababan, yang penuh rekayasa.

Menurut Alasen Kaban, didampingi pengacaranya, saat penangkapan dan penggeledahan semua isi kamar sudah diobrak abrik oleh petugas, saksi Fernando Nababan dan dua rekannya, barang bukti yang ditemukan hanya kaca pirex dan beberapa plastik klip kosong.

Setelah itu, baru dipanggil Kepala Dusun, Suhartono untuk menyaksikan penggeledahan (seperti keterangan Suhartono di persidangan). Karena tidak ada sabu sabu yang ditemukan, hanya kaca pirex dari dalam ember di kamar mandi. Terdakwa mengakui, baru mengkonsumsi sabu, karena memang sudah tergantung dengan sabu, untuk menghilangkan rasa sakit pada ginjalnya.

Tapi Fernando Nababan, merasa tidak puas dan kembali lagi ke kamar dan mendapatkan 2 paket sabu dari tong sampah. Menurut terdakwa, itu rekayasa Fernando Nababan. Karena sebelumnya, tong sampah sudah dibongkar dan isinya sudah dikeluarkan.

Lalu 2 paket sabu diperlihatkan kepada terdakwa dan saksi Suhartono. Terdakwa ditangkap bersama Gaos Kamal dan difoto bersama barang bukti. Tapi hingga ke persidangan, jaksa tak mampu menghadirkan Gaos Kamal, yang tinggal di rumah terdakwa.

Keterangan Gaos Kamal, hanya dibacakan dalam persidangan yang menyebutkan terdakwa sebagai penjual sabu sabu. Kesaksian yang dibacakan jaksa, dalam persidangan, jelas tidak dapat diterima karena hanya rekayasa jaksa dan juper.

Jaksa tahu, kesaksian Gaos Kamal, belum ditandatangani saat diperiksa berkas, di kejaksaan. Karena menurut Juper, Gaos sudah tidak ada lagi sesuai keterangan pemerintah setempat. Padahal petunjuk jaksa jelas dan didengar terdakwa "tangkap dan hadirkan Gaos Kamal", kata terdakwa dalam pledoinya.

Jadi keterangan yang dibacakan itu patut diduga rekayasa jaksa dan juper. Alasen Kaban tidak terima dituntut 7 tahun oleh jaksa, dirinya minta agar proses hukum terhadap dirinya sesuai fakta. Bukan rekayasa Fernando Nababan atau proses hukum "balas dendam".

Karena dirinya pernah melaporkan Kasat Narkoba, AKP TP Butar-butar dan juga membuat surat ke Presiden pada kasusnya yang pertama. Sehingga polisi memiliki dendam. Dan Fernando sempat mengatakan "kemana lagi kau mau mengadu, ke Tuhan Yang Maha Esa,"kata terdakwa menirukan ucapan polisi itu.

Diungkapkan terdakwa lagi, jika juper menjanjikan dirinya akan direhab, karena ketergantungan dengan biaya Rp.80 juta. Setelah uang disiapkan, juper membatalkannya, dengan alasan trackrecord terdakwa sangat mengerikan.

Lalu untuk mencuci berkas agar dilampirkan pasal 127, juper meminta Rp.100 juta, tapi terdakwa pun akhirnya menolak permintaan itu.

Juper dalam persidangan telah membantahnya. Sedangkan istri terdakwa, mempunyai rekaman tersebut.

Istri dan cucu terdakwa juga menerangkan, telah dilakukan kekerasan terhadap terdakwa dan Gaos Kamal, di rumahnya, jalan Keramat Kuba Perdagangan saat penangkapan.

Pledoi setebal lebih kurang 40 halaman tersebut, dibacakan hampir 2 jam, dan tim pengacara, Ramot SH, juga mengajukan pledoi lainnya.

Majelis hakim, Roziyanti SH, Justiar Ronald SH dan Aries Ginting SH, menunda persidangan hingga sepekan untuk memberi kesempatan jaksa, menanggapi pledoi terdakwa.

Penulis: ay. Editor: gun.