HETANEWS

Menengok Efektivitas Masker Basah untuk Tangkal Polusi Udara

Menengok Efektivitas Masker Basah untuk Tangkal Polusi Udara Ilustrasi. Masker basah akan membuat penggunanya kesulitan bernapas. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Jakarta, hetanews.com - Masker ianggap sebagai solusi melindungi diri dar Polusi udara. Bagi warga terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan, masker menjadi 'perkakas' penting yang harus dimiliki.

Melihat asap yang semakin pekat, sebagian orang menyarankan untuk menggunakan masker basah. Masker yang digunakan dalam kondisi basah ini dipercaya lebih efektif menangkal polutan. Benarkah demikian?

Sesungguhnya tak ada yang salah dengan penggunaan masker basah. Hanya saja, penggunaan musti memperhatikan beberapa konsekuensi yang diakibatkan.

Dokter ahli paru, Profesor Faisal Yunus mengatakan, kondisi basah membuat polutan dengan cepat menutup pori-pori masker. Pori-pori ini menjadi jalur masuknya udara saat seseorang menggunakan masker.

"Konsekuensinya, debu-debu bisa cepat menutup pori pada masker. Orang lama-lama jadi susah bernapas," kata Faisal saat dihubungi CnnIndonesia.com, Kamis (19/9).

Selain itu, karena cepat tertutup oleh debu, maka masker harus diganti secara rutin sesuai kondisi. Jika masker tak cepat diganti, kata Faisal, penggunanya akan mengalami kesulitan bernapas dan mulai mencari rongga udara lain-baik di sisi kiri atau kanan masker-untuk menghirup udara.

"Kalau seperti ini, sama saja, dong, udaranya [yang terhirup] enggak tersaring," kata Faisal.penggunanya akan mengalami kesulitan bernapas dan mulai mencari rongga udara lain-baik di sisi kiri atau kanan masker-untuk menghirup udara.

"Kalau seperti ini, sama saja, dong, udaranya [yang terhirup] enggak tersaring," kata Faisal.

Faisal mengatakan, masker jenis N95 adalah pilihan tepat untuk melindungi tubuh dari polusi udara. Masker jenis ini jauh lebih efektif untuk menyaring polutan. Perhatikan pula cara pemakaian masker agar benar-benar menempel pada wajah dan tidak bocor.

Polusi udara seperti kabut asap karhutla dapat menimbulkan gangguan pada tubuh. Udara yang tercemar ini utamanya menyerang saluran pernapasan.

Menghirup udara yang tercemar berisiko menimbulkan penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Beberapa gejala yang ditimbulkan antara lain hidung tersumbat, batuk, demam ringan, sakit pada tenggorokan, dan sakit kepala ringan.

Sumber: Cnn Indonesia

Editor: tom.