HETANEWS

Waspadai Startup yang Sukses dalam Waktu Pendek

Ilustrasi Startup

Yogyakarta, hetanews.com - Perkembangan perusahaan rintisan atau startup begitu pesat di Indonesia. Namun patut diwaspadai, karena ternyata pertumbuhan nilai perusahaan-perusahaan rintisan ini dalam waktu cepat berkembang menjadi unicorn bahkan decacorn tanpa didasari kinerja fundamental yang kokoh.

Unicorn merupakan sebuah perusahaan startup yang memiliki nilai valuasi sedikitnya US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun.  Sedangkan decacorn memiliki nilai valuasi sedikitnya US$ 10 miliar atau setara Rp 140 triliun.

Guru Besar UGM

Guru Besar Bidang Keuangan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Agus Sartono, mengungkapkan, layanan dari perusahaan rintisan ini sekarang begitu luas dan bersentuhan dengan masyarakat hampir setiap saat. Melibatkan mitra individu yang banyak, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Seringkali pula mampu menciptakan efisiensi baik waktu dan biaya dalam kehidupan sehari-hari.

Yang dikhawatirkan, menurut Prof Agus, kapan pun perusahaan semacam ini bisa kolaps. Bisa jadi karena ditinggalkan investornya yang sadar bahwa ternyata mereka hanya dijadikan money ilusion, atau memang karena terus merugi. Jika ini terjadi akan sangat berdampak luas terhadap perekonomian negara.

Menurut Prof Agus yang juga Deputi IV Bidang Pendidikan dan Keagamaan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemko PMK), kejatuhan perusahaan digital pernah terjadi. Akhir 1990 bermunculan berbagai perusahaan rintisan yang saat itu dikenal dengan perusahaan dot com. Salah satu yang fenomenal saat itu ialan pets.com, sebuah perusahaan e-commerce yang menjual berbagai produk hewan piaraan melalui internet. Perusahaan ini berdiri November 1998 dan dinyatakan bangkrut November 2000. Ada banyak perusahaan sejenis saat itu yang juga mengalami nasib sama.

"Karakteristik mereka sama, yaitu menarik dana dari para investor di bursa saham dengan janji-janji bahwa di masa depan nilai perusahaan akan semakin tumbuh. Padahal perusahan ini belum menghasilkan keuntungan, bahkan beberapa di antaranya tidak menghasilkan pendapatan karena layanan yang diberikan bersifat gratis,” kata Agus saat menyampaikan orasi ilmiah di dies natalis ke-64 Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Kamis (19/9/2019).

Agus menambahkan, munculnya startup yang sekadar meniru produk atau layanan yang sudah ada dipastikan tidak akan sukses. Di satu sisi banyak pula perusahaan startup yang sukses dan bertahan lama. Mereka mampu bertahan dan kemudian benar benar menciptakan inovasi untuk menciptakan produk baru, menciptakan segmen baru, seperti Apple, Amazon, Microsoft, dan lain sebagaiya.

Karena itu, menurut Prof Agus, tren bisnis digital ini harus dipelajari dan diteliti, sehingga peristiwa seperti pecahnya gelembung perusahaan dot com di tahun 2000 tidak terulang Indonesia.

Sumber: Suara Pembaruan

Editor: tom.