HETANEWS

Seorang Suku Anak Dalam di Jambi Meninggal Gara-Gara Asap Kebakaran Hutan

Ilustrasi Mayat

Jambi, hetanews.com - Suparlan (58), warga adat Suku Anak Dalam (SAD) Pangkalan Ranjau, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi, meninggal dunia akibat paparan kabut asap yang semakin memperparah asmanya. Sebelum meninggal, Suparlan sempat menjalani perawatan selama empat hari.

"Dio (Suparlan) punyo asma, terus dio ikut memadamkan lahan yang terbakar, setelah itu empat hari dio sakit sesak napas, akhirnyo meninggal dunio, sekarang sudah dimakamkan," kata Hulubalang Suku Anak Dalam Pangkalan Ranjau Kubu Lalan, Safrizal Bri, Kamis (19/9).

Selama empat hari Suparlan hanya dirawat ala kadarnya oleh keluarga di rumahnya yang terbuat dari papan dengan sirkulasi udara yang seadanya. Suparlan tidak sempat dirujuk ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), apalagi dirujuk ke dokter karena keluarganya tidak memiliki cukup biaya.

"Macam mano nak bawa ke dokter, keluargonyo dak punyo biaya, dan jugo lokasinyo jauh dari tempat kami iko," lanjut Bri.

Dalam beberapa hari terakhir, menurut Bri, kondisi wilayah adat Suku Anak Dalam di Pangkalan Ranjau, sangat pekat diselimuti kabut asap. Bahkan jarak pandang pada pagi hari hanya mencapai 100 meter.

Kini kelompok masyarakat adat hanya bisa berharap agar pemerintah dapat memberikan pelayanan kesehatan gratis yang mudah dijangkau oleh kelompok mereka. Mereka mengaku sangat dirugikan dengan bencana kebakaran hutan dan lahan.

"Suku anak dalam di kelompok kami iko banyak petani dan kerjonyo di ladang, saat asap kayak iko kami rugi, jadi kami sangat berharap ado layanan kesehatan," katanya.

Sementara itu, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Jambi telah memperburuk kualitas udara. Dalam tiga hari terakhir secara beruntun kualitas udara berada pada level berbahaya.

Bahkan berdasarkan data realtime tanggal 18 September 2019, pukul 20.30 WIB, kualitas indeks standar pencemaran udara yang diukur melalui alat stasiun ukur milik KLHK Jambi menunjukan PM 2.5 diatas baku dengan nilai 761 atau kategori berbahaya.

Indek standar pencemaran udara terpantau melalui aplikasi Air Visual. Dalam tiga hari beruntun, terutama saat malam hingga pagi hari, kualitas udara di Jambi memasuki kategori berbahaya dengan nilai 559 AQI-US. 

sumber: merdeka.com

Editor: sella.