HETANEWS

3 Terdakwa Kasus Pabrik Korek Api Meledak Didakwa Pasal Berlapis

Dirut PT Kiat Unggul Indramawan, manajer pabrik Burhan, dan supervisor pabrik, Lismawarni usai sidang di Pengadilan Negeri Binjai, Kamis (19/9/2019). Tribun Medan/Dedy Kurniawan

Medan, hetanews.com - Tiga terdakwa pabrik mancis TOKE milik PT KIAT Unggul yang meledak dan memakan korban jiwa Juni lalu, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Binjai, Kamis (19/9/2019).

Ketiga terdakwa adalah Direktur Umum PT Kiat Unggul, Indramawan, manajer pabrik Burhan, dan supervisor pabrik, Lismawarni.

Dakwaan pertama yang dibacakan untuk terdakwa Burhan. Terdakwa Burhan didakwa Pasal 188 Subsider Pasal 359 KUHP dan atau Pasal 74 huruf d Jo Pasal 18 UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan atau Pasal 76i Jo Pasal 88 UU No 35/2014 tentang perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

"Terdakwa dalam operasionalnya tidak sesuai SOP karena tidak menyediakan pendeteksi panas, tidak menyediakan jalur evakuasi, tidak membuat penanggulangan kebakaran karena kerjanya berkaitan dengan gas," paparnya.

"Terdakwa Burhan selalu memerintahkan pintu rumah depan selalu ditutup dan digembok. Terdakwa (Burhan) mengetahui kalau usaha perakitan korek gas tidak ada izin apapun," tambahnya.

Para pekerja di pabrik mancis saat sebelum peristiwa kebakaran.

Setelah dakwaan Burhan, JPU Linda membacakan dakwaan Lismawarni. Dalam dakwaannya, Lismawarni lah yang menyewa satu unit rumah hunian dijadikan pabrik rumahan, yang mengalami tragedi kebakaran hingga menewaskan 30 orang.

"Terdakwa Lismawarni didakwa Pasal 188 atau Pasal 359 KUHP dan atau Pasal 74 huruf d Jo Pasal 183 UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan atau Pasal 76i Jo Pasal 88 UU No 35/2014 tentang Perubahan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Selanjutnya, JPU Hamidah membacakan dakwaan Dirut PT Kiat Unggul, Indramawan. Dalam dakwaannya, Direktur Utama atau Bos PT Kiat Unggul disebut tidak pernah mengetahui siapa saja karyawannya, dan lalai demi meraup untung banyak.

JPU Hamidah menyampaikan bahwa Indramawan tidak pernah memeriksa dan mengabaikan tanggung jawab memperhatikan keselamatan kerja.

"Terdakwa Indramawan didakwa Pasal 188 Subsider Pasal 359 KUHPidana dan atau Pasal 183 UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan atau Pasal 76i Jo Pasal 88 UU No 35/2014 tentang Perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 62 ayat (1) UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan atau Pasal 120 ayat (1) UU No 3/2014 tentang Perindustrian, "jelasnya.

Sidang berlangsung, dipimpin Ketua PN Binjai sebagai Ketua Majelis Hakim Fauzul Hamdi didampingi Dedy dan Tri Syahriawani. Hakim Ketua langsung melanjutkan sidang pemeriksaan saksi-saksi.

"Karena tidak ada eksepsi, dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi. Ada saksinya, kan? Sudah hadir semua?" tanya majelis.

JPU pun menghadirkan 14 orang saksi dari kalangan masyarakat setempat dan keluarga korban, karyawan.

Mereka diambil sumpah bersamaan, tak berlangsung lama, sidang diskors untuk waktu istirahat, salat dan makan.

sumber: tribunnews.com

Editor: gun.