HETANEWS

Memilih Jadi Hamba Tuhan, Jack Marpaung Beri Kesaksian di Pelabuhan Tigaras

Simalungun, hetanews.com- Penyanyi Batak Legendaris, Jack Marpaung beri kesaksian saat kebaktian di pelabuhan Tigaras. Pada kesempatan ini Jack juga melantunkan lagu untuk menghibur warga Tigaras.

Jack Marpaung ikut serta saat Pelaksanaan pembinaan ketahanan wilayah [Bintahwil] oleh Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut [Lantamal] I Belawan, di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumut, Kamis (19/9/2019).

Penyanyi dan pencipta lagu Batak ini hadir bersama Komandan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan [Yonmarharlan] I Belawan, Letkol Marinir James Munthe.

Kegiatan Bintahwil yang digelar selama 2 hari  diawali dengan acara kebaktian bersama warga Tigaras dan personil Yonmarharlan I Belawan. Sebelum Pdt Edison Panjaitan memulai khotbah, Jack memberi kesaksian hidupnya.

Jack menceritakan kalau Ayahnya adalah seorang TNI yang sering berpindah tugas. Kakek kelahiran Porsea Kabupaten Tobasa ini berujar kalau dirinya juga ikut berpindah.

"Saya lahir di Porsea, Bapak saya dulu Tentara, dulu waktu saya umur 1 tahun saya di bawa ke Kota Kota Medan, habis itu ke Kota Cane, balik lagi ke kota Medan, pokonya banyak lah perjalanan itu karena bapak saya dinas," kata penyanyi bersuara lengking ini.

Jack menyebut dirinya adalah anak kolong. Sebutan yang akrab bagi anak anak TNI. Ia mengakui perjalanan hidupnya kala masih muda tak lepas dari hukuman di bui. Bahkan Jack pernah merasakan sakitnya di penjara, yang dia sebut kamar 13.

Jack mengenang, kamar 13 itu kurungan penjara berukuran 1,5 Meter x 1,5 Meter. Gelap gulita tanpa cahaya dan dingin.

"Disana [kamar 13] sakit sekali. Tidur gak bisa telentang, harus [bentuk badan] tanda tanya. Kalau masuk orang [ke kamar 13] jangankan 6 bulan, gak sampai seminggu pasti gila," kenangnya. 

Pengalaman bisa bertahan dari hukuman itu, kata dia, tak lepas dari doa. Sejak kecil Ibunda Jack mengajar dirinya selalu berdoa. "Saya selalu berdoa. Sejak kecil saya diajari Mama saya berdoa. Dan doa Ibu itu begitu kuat sekali, karena doa Ibu kita berhasil," ungkapnya.

Dari pengalaman menjalani hukuman di kamar 13, pentolan Trio Lasidos ini tak menyangka pengalaman pahit dia itu berubah menjadi sebuah karya yang luar biasa. Lagu berjudul di Kamar 13 itu meluncur di tahun 1969.

"Sankin sakitnya tercipta lah lagu itu. Pengalaman di kamar 13 itu membuat saya jera. Itu lagu pertobatan," ungkapnya.

"Di lagu itu ada kata-kata pertobatan yang disampaikan kepada seorang Jaksa. Kalau pun bebas dari penjara, saya berjanji akan menjadi orang baik, jadi penginjil. Jadi tak ada yang mustahil bagi Tuhan," katanya.

Setelah pergulatan itu Jack dan Trio Lasidos melejit. Tak hanya hanya kalangan orang batak saja, Trio Lasidos manggung hingga ke belahan dunia. " Gara-gara itu saya sudah keliling Amerika," imbuhnya.

Kini Jack Marpaung memilih sebagai Pendeta disebuah gereja di Kota Medan. Awalnya dia menolak saat diminta oleh seorang pendeta untuk menjadi gembala. Akhirnya Jack memilih tawaran itu dibanding berpetualang dari panggung ke panggung.

"Sekarang saya jadi Pendeta di Medan. Saya tidak pernah menyangka jadi Hamba Tuhan. Padahal banyak tawaran manggung yang sawerannya banyak. Tapi saya meninggalkan itu," ungkapnya.

Tak cuma memberi kesaksian, Jack Marpaung bersedia menghibur warga Tigaras yang merindukan suaranya yang melengking nan tinggi itu. Jack menyanyikan dua lagu Rohani seraya mengajak warga untuk melantunkannya bersama.

Baca juga: Yonmarhanlan I Belawan Gelar Bintahwil, Ada Aksi Berenang dari Tigaras Ke Simanindo

Penulis: gee. Editor: edo.