HETANEWS

Dua Serikat Buruh Pabrik Mie Saling Berhadapan, Kapolsek Minta Duduk Bersama

Unjukrasa dari massa PK SBSI berhadapan dengan Serikat Pekerja Bahu Membahu Tolong Menolong

Simalungun, hetanews.com - Dua serikat buruh di pabrik mie milik PT Indorasaprima Sukses Gemilang saling berhadapan. Kapolsek Bangun AKP B Manurung minta persoalan diantara kedua belah pihak diselesaikan dengan duduk bersama.

Dua serikat buruh di pabrik mie itu ialah PK SBSI [Pengurus Komisariat- Serikat Buruh Solidaritas Indonesia] dan Serikat Pekerja Persaudaraan Bahu Membahu Tolong Menolong. Kedua serikat buruh ini memiliki anggota di perusahaan tersebut.

Keduanya saling berhadap ketika PK SBSI melakukan unjuk rasa ke lokasi pabrik mie di Siantar Estate, Kecamatan Siantar, Selasa (17/9/2019) siang. Kehadiran mereka dihalau serikat buruh PT. Indorasaprima Sukses Bersama.

Aksi unjukrasa diawali adanya tuntutan dari serikat buruh PK SBSI. Mereka menuntut adanya pemecatan terhadap 5 orang buruh. Tidak itu saja, mereka menuding perusahaan mempekerjakan buruh selama 20 jam kerja.

Ketika itu, Kapolsek Bangun, AKP B Manurung dan beberapa polisi lainya mengawal berjalannya aksi. Polisi kemudian mengantisipasi kericuhan. Kapolsek memberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk menyampaikan aspirasi.

Tudingan yang disampaikan oleh buruh yang berunjukrasa ditepis oleh personalia pabrik Mie bernama, Agung. Dia mengatakan ke-5 buruh bukan dipecat. 

"Kami masih memberikan kesempatan kerja. Sudah kita buat surat panggilan kerja 1, 2 dan 3. Tapi sampai sekarang gak direspon. Kalau begini, berarti sudah memutuskan hubungan kerja sendiri," kata Agung menjawab tudingan.

Pernyataan Agung juga dibenarkan buruh pabrik Mie dari Serikat Pekerja Persaudaraan di Pabrik tersebut. Sonti Manullang, sebagai salah seorang Mandor mengaku membawahi ke-5 pekerja tersebut.

"Saya gak pernah memaksa mereka bekerja. Saya juga mengingatkan untuk bawa fotocopy KTP dan KK biar ngurus BPJS. Tapi gak prnah digubris. Bukan dipecat, surat pemanggilan kerja juga sudah kami antar," bantah  Ibu yang sudah 15 tahun kerja di pabrik Bihun tersebut.

Ketua SBSI, Ramlan Sinaga yang turut hadir mendampingi aksi menilai pernyataan tersebut adalah versi dari pihak perusahaan. Meski kedua belah pihak beda argumen, dia meminta buruh tidak saling tercerai berai.

"Kami akan pertanyakan ini ke Dinas tenaga kerja simalungun. Kenapa gak pernah kesini, melihat kondisi ini. Apa tidur-tidur saja," ungkapnya.

Dialog keduanya tidak menemui titik terang. Menurut Agung, jika masih ada tuntutan dari buruh kepada perusahaan, dia menilai agar persoalan tersebut diselesaikan lewat peradilan hubungan industrial. 

"Kalau memang ada masalah, kita selesaikan di peradilan hukum industrial. Jangan kita berdebat disini. Kita selesaikan di pengadilan saja," katanya.

Ketika kedua belah pihak selesai menyampaikan pendapatnya masing-masing, Kapolsek Bangun AKP, B Manurung memediasi keduanya untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

"Jika ada masalah biar diselesaikan bersama. Masalah ini sederhana saja. Saling memaafkan. Harus ada kesepakatan diantara kita," katanya.

AKP B Manurung mengaku siap memediasi para buruh yang tengah berkonflik. "Kapan mau duduk bersama saya siap. Kalau pun menempuh jalur hukum silahkan saja," katanya.

Pada kesempatan ini, pemerintah Nagori setempat juga hadir. Bersama dengan pihak kepolisian, mereka menjembatani pertemuan antara buruh dengan pihak pengusaha, untuk menjadwalkan pertemuan kedua belah pihak.

Penulis: gee. Editor: edo.