HETANEWS

Maruarar Minta Pengusaha Muda Tetap Jaga Idealisme dalam Berbisnis

Anggota Komisi XI DPR Maruarar Sirait (tengah) berfoto bersama Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia (ketiga dari kanan), Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani (kedua dari kanan), calon ketua umum Hipmi, Mardani H Maming (kedua dari kiri, dan tokoh senior Hipmi M Lufti (ketiga dari kiri) di sela-sela Munas Hipmi di Hotel Sultan, Jakarta, Senin, 16 September 2019

Jakarta, hetanews.com - Anggota Dewan Kehormatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Maruarar Sirait mengajak pengusaha muda di seluruh Indonesia untuk tetap membangun idealisme dalam berbisnis. Santun itu penting, namun subtansi jauh lebih penting.

Hal itu disampaikan Ara, sapaan Maruarar, dalam Forum Bisnis I Munas XVI Hipmi bertema "Melanjutkan Peran Hipmi Sebagai Lokomotif Pembangunan Ekonomi Berkeadilan" di Hotel Sultan Jakarta, Senin (16/9/2019). Selain Maruarar, hadir sebagai pembicara adalah mantan Ketua Umum HIPMI yang juga mantan Menteri Perdagangan Muhammmad Luthfi dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Roslani.

Mengawali paparannya, Ara bercerita saat sahabatnya, Rosan, dua tahun lalu yang diminta untuk menjadi ketua panitia pertemuan 1.200 pengusaha dengan presiden. Saat itu, Rosan mengundang presiden tetapi tidak datang.

“Terus, saya tanya apa yang harus dilakukan kalau Presiden hadir? Boleh atau tidak kita membuat suatu hal yang baru, yaitu membahas yang substansial dan apa masalah yang harus diselesaikan?” tuturnya.

Ara pun berupaya mendatangkan Presiden Jokowi. Anggota Komisi XI DPR itu mengaku tak ingin saat presiden datang ke suatu acara hanya memukul gong, berfoto bersama, dan tidak ada sesuatu yang substansi untuk dikerjakan ke depan.

Pada tahun lalu, cerita Maruarar, dirinya menerima keluhan dari Ketua Umum Hipmi Bahlil Lahadalia terkait rencana Menko Perekonomian Darmin Nasution yang mengeluarkan kebijakan relaksasi pelepasan daftar negatif investasi (DNI). Dalam rencana ini, ada 54 bidang usaha yang selama ini digarap oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang bisa dikuasai asing.

Maka, Ara dan Bahlil pun secara terbuka berjuang melawan kebijakan tersebut. "Masak, bisnis umbi-umbian dan warnet mau dikasih ke asing. Kita lawan rencana kebijakan ini. UMKM kita harus diutamakan. Ada 115 juta pelaku UMKM kita," kata Ara yang disambut tepuk ratusan pengusaha muda yang hadir.

“Saya katakan waktu itu, lawan. Bagaimana, ya, menyuarakan kepentingan anak buahmu. Jangan karena engkau dekat dengan presiden, engkau tidak berani memperjuangkan anak buahmu,” kata Ara ke Bahlil kala itu.

Hasilnya, rencana kebijakan relaksasi DNI itu sampai sekarang hilang bak ditelah bumi. Menurut Maruarar, Bahlil merupakan sosok Ketua Umum HIPMI yang mementingkan anak buah. Bahlil juga membuktikan diri sebagai anak muda yang kritis.

"Santun itu penting. Namun, memperjuangkan substansi, memperjuangkan kebenaran, jauh lebih penting lagi. Maka, demi kebenaran, jangan karena posisi, anak-anak muda Hipmi lalu melupakan idealisme dan agenda," kata Maruarar yang disambuk tepuk tangan para hadirin.

Ara pun menitipkan pesan kepada Ketua Umum Hipmi yang terpilih besok untuk tidak takut mengambil risiko. Dia juga mengingatkan Hipmi untuk turut mendorong segera disahkannya RUU Kewirawisahaan menjadi UU.

Maruarar juga mengakui, sebagai anggota DPR dari PDIP yang merupakan partai pendukung pemerintah, tak mudah. Namun, itu bukan berarti kebijakan menteri yang tidak sesuai dengan kepentingan nasional tidak bisa dilawan.

“Kita diam, hari ini mereka (pemerintah) perlu mendengar yang berjuang dari luar dan dari dalam pun saya berjuang. Ini tidak mudah, karena saya harus berhadapan dengan teman-teman saya sendiri, yang berbeda visi, yakni bagaimana membangun kepentingan nasional,” katanya.

Ketua Kadin Rosan Roeslani meminta pengusaha muda membangun optimisme berusaha. Dalam setiap keadaan pengusaha harus optimis menjalankan bisnisnya.

Sementara, Ketua DPR Bambang Soesatyo mengingatkan anggota Hipmi untuk tak hanya berkutat menjalankan usaha ekspor barang mentah. Hipmi diminta untuk mengembangkannya menjadi berbagai ragam komoditas lain yang memiliki nilai tambah.

Menurutnya, keinginan milenial menjadi wirausaha harus disambut cepat oleh pemerintah maupun Hipmi. Dengan demikian, Indonesia bisa melahirkan banyak wirausaha baru, khususnya yang bisa membuat nilai tambah di berbagai industri pertambangan mineral, perkebunan, maupun perikanan.

 

Sumber: Suara Pembaruan

Editor: tom.