HETANEWS

Polisi Segera Limpahkan Kasus Punguan Situmorang ke Kejari Samosir

TS alias Parman Bongsu yang sudah ditetapkan tersangka oleh Polres Samosir terkait penebangan pohon, di lahan register. (foto/stm)

Samosir, hetanews.com - Awal bukti permulaan yang cukup dan keterangan para saksi ahli dari Dinas Kehutanan KPH XIII Dolok Sanggul, akhirnya Satuan Tindak Pidana Tertentu (Tipter) Reskrim Polres Samosir, menetapkan TS alias Tunggul Sitanggang alias Parman Bungsu, menjadi tersangka penebangan Hutan Lindung SK 579,  di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir, sekitar bulan Juli 2019, lalu.

Dan setelah melakukan pengembangan disertai keterangan TS, akhirnya pihak penyidik Tipiter Polres Samosir dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) nomor B/176/VIII/2019/Reskrim, kembali menetapkan tersangka kedua atas nama Punguan Situmorang alias PS.

Setelahnya, Polres Samosir melakukan konfrontir kepada kedua tersangka yang menyangkal melakukan tindak pidana penebangan hutan lindung itu, pada Sabtu (7/9/2019), lalu.

Hal itu dibenarkan Kasat Reskrim Polres Samosir melalui Kanit Tipiternya, Aiptu Darmono Samosir, ketika dikonfirmasi awak media, di ruang kerjanya, pada Senin (16/9/2019).

"Kita telah melakukan konfrontir pada minggu lalu kepada kedua tersangka, bersama penasihat hukumnya, dan para saksi masing-masing. Apa yang terjadi diproses penandatanganan surat jual beli dan penyerahan uang, serta dimana dimulainya penebangan hutan, dikonfrontir itu saling menjelaskan. Hasil dari konfrontir akan kita susun dan biarlah hakim nanti yang menilainya, di pengadilan. Dan setelah semua dokumen lengkap kita susun, akan segera kita limpahkan dalam waktu dekat kepada Kejaksaan Negeri Samosir," ujar Darmono Samosir.

Lokasi lahan register yang dicek Polres Samosir bersama Dinas Kehutanan UTPT IX  dari Humbamg Hasuduatan. (foto/stm)

Menurutnya, tersangka PS yang juga ketua salah satu OKP di Samosir ini, melalui penasihatnya, juga telah mengajukan saksi yang meringankan, yaitu, Kasner dan Hotlan Sidabutar. Sehingga kita masukkan dalam dokumen tambahan, sebelum diajukan kepada jaksa, ujarnya.

Sebelumnya, berkas tersangka TS telah dilimpahkan kepada Kejari Samosir, pada Agustus 2019, lalu. "Benar, telah kita limpahkan dan oleh jaksa, sudah diberikan catatan untuk diperbaiki," tambahnya.

Terpisah, Kajari Samosir, melalui Kasi Pidum, John Keynes SH, mengaku telah menerima berkas tersebut dan telah meminta Polres Samosir untuk memperbaikinya.

"Kita sedang proses dan ada perbaikan yang kita mintakan kepada Polres Samosir, menunggu penyitaan barang buktinya," ujar John Keynes.

Tampaknya, kasus pidana lingkungan menjadi atensi dari Kejaksaan Agung untuk dilakukan penuntutan, bila sudah terpenuhi alat bukti berdasarkan penelitian kejaksaan.

"Buktinya, pada berkas terdahulu terkait pidana lingkungan, sebanyak 3 tersangka yang dilimpahkan Polres Samosir ke pengadilan dan telah dilakukan sidang pertama dan minggu ini, sidang tuntutan, serta dalam waktu dekat akan mendengar putusan hakim," tegas Jhon Siagian.

Akibat perbuatannya, pelaku pidana penebangan hutan Negara, akan dijerat dengan Pasal 12 huruf b Yo Pasal 82 ayat (1) huruf b dari UU Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2013 dengan ancaman hukuman minimal 1 (satu) tahun dan maksimal 5 (lima) tahun.

Penulis: stm. Editor: gun.