HETANEWS

Sandiaga Uno Ungkap Sulitnya Bisnis di Industri Penerbangan RI

Jakarta - Mantan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno periode 2019-2024, membongkar rahasia tumbangnya maskapai penerbangan Mandala Airlines di industri penerbangan Indonesia.

Sandi yang merasa tertantang menggeluti bisnis di bidang penerbangan kala itu, melakukan revitalisasi maskapai penerbangan Mandala.

Perubahan besar-besaran pun dimulai, baik itu dari segi nama hingga manajemen pun dilakukan. Dari semula bernama Mandala Airlines diubah menjadi Tigerair Mandala.

Tigerair, merupakan salah satu anak perusahaan dari maskapai ternama di dunia, yakni Singapore Airlines.

Meski diawal-awal sudah direncanakan sedemikian rupa dan merasa optimistis, jika bisnis penerbangan yang ia geluti ini akan berjaya, tetapi Sandiaga harus menelan pil pahit. Tak sampai dua tahun, Tigerair Mandala kemudian memutuskan untuk undur diri dari dunia penerbangan.

"Di awal, dibanggakan sebagai salah satu maskapai yang pertama dan diunggulkan, sehingga dia punya kode penerbangan itu, RI (Republik Indonesia). Mandala waktu itu, sempat juga terbang ke Padang. Saya coba merevitalisasi Mandala," kata Sandiaga, saat temu dialog dengan penggerak OKE OCE di Rajo Corner kota Padang, Kamis 12 September 2019.

Saat itu, kata Sandi, semua rencana sudah dipersiapkan dengan sangat matang. Mulai dari bermitra dengan perusahaan Singapore Airlines, mendapatkan kepercayaan dari pemodal-pemodal besar hingga manajemen sudah dilakukan. Namun, kenyataannya tak seperti yang diharapkan.

Gagalnya bisnis ini, kata Sandi, disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya rute penerbangan, parkir area, tingginya harga bahan bakar avtur, dan naiknya nilai tukar dolar waktu itu.

Faktor ini, menurut Sandi, tidak diprediksi sebelumnya. Meski demikian, dia mengaku banyak memetik pelajaran berharga dari kasus kegagalan ini.

"Mitra sudah, kepercayaan dari pemodal besar sudah, manajemen sudah. Bagaimana yang lain? Oh harus memiliki rute. Nah, di sinilah hal yang kadang kita tidak bisa prediksi terjadi, tanpa kita bisa memberikan suatu solusi,” ungkapnya.  

“Pada saat itu, saya berpikir karena kedekatan dengan pemerintahan, kita akan mendapatkan rute. Ternyata, ini bisnis yang sangat sulit. rute-rute tersebut sudah dikapling oleh perusahaan-perusahaan. Akhirnya, Mandala susah sekali mendapatkan rute," ujar Sandi.

Sandi menjelaskan, setelah berusaha, akhirnya Mandala mendapatkan rute Jakarta-Medan. Rute itu adalah rute gemuk, tetapi lagi-lagi Tigerair Mandala dihadapkan dengan situasi yang tidak menguntungkan. Rute yang diberikan kepada Tigerair Mandala itu memiliki jadwal berangkat pukul 03.45 WIB dini hari. 

Kemudian soal parkir. Menurut Sandi, untuk mendapatkan area parkir pesawat, ternyata tidak mudah. Karena, area parkir juga dikontrol. Ditambah lagi, harga bahan pokok, avtur waktu itu naik 20 persen dalam kurun waktu tidak sampai tiga bulan. Dan, kurs dolar AS juga pada saat itu sedang tinggi, tidak sampai satu tahun sudah mencapai Rp12 ribu.

"Saya ingin sampaikan apa pelajarannya di sini. Pertama, banyak sekali hal-hal di dunia bisnis yang tidak kita kontrol, tidak bisa kita atur-atur. Jadi, kalau bisnis itu, mendingan cari bisnis yang hal-halnya itu bisa di prediksi. Bisnis yang dikaitkan dengan regulasi akan lebih sulit. Bisnis bagi saya tidak hanya untung, tetapi juga rugi," tutur Sandi.

Sumber: vivanews.com

Editor: tom.